Paksaan Terindah Gadis Konglomerat

Paksaan Terindah Gadis Konglomerat
Bab 60: Mendengar Suara Lembut Itu Lagi


__ADS_3

Udara segar menguar pada Selasa pagi, taman depan rumah tampak hijau cerah karena hujan sering turun di bulan November. Clay berdiri dekat jendela sambil memeluk tubuhnya sendiri. Dia sering melamun belakangan ini, berusaha menolak gelombang rasa khawatirnya tidak pernah bertemu dengan Robbin lagi.


Dari jarak lima meter, seorang pria berdarah Eropa memperhatikan, Clay tampak manis sekaligus modis dalam balutan gaun polos kuning gading dengan bagian lengan melekat sebatas siku. Rok terusan berbahan lembut itu menempel pas badan dan mengembang dari pinggang sampai lutut. Alas kaki tumit datar yang dipakai memperlihatkan jari-jari terawat tanpa cat kuku. Rambut bervolume yang diikat tinggi dan longgar memamerkan leher jenjang menakjubkan.


Wanita itu sepertinya sadar sedang diawasi, sehingga berbalik badan untuk memastikan. "Hey, Jeremy."


"Aku tidak mengganggumu, kan?"


"Tentu saja tidak, ada sesuatu? Mulai bosan?" cerca Clay sambil mendekat, langkah tenang gemulainya sanggup meruntuhkan pertahanan pria mana pun.


Jeremy berusaha fokus, menghempaskan semua pikiran-pikiran erotis di kepala. "Sayang tidak ada alasan yang mengarah ke keduanya."


"Ah, aku tidak punya teman," pungkas Clay, memasang mimik memelas yang tidak dibuat-buat. "Aku rindu Kak Robbin, andai mendapat sedikit kelonggaran, pasti menyenangkan bisa bertemu dengannya. Dia tentu mencemaskan kondisiku di sana."


Meski merasa kecewa tidak dibenarkan dalam kasusnya, Jeremy berpura-pura menerima ungkapan wanita asia itu dengan senang hati. Ketika berdekatan dengan Clay, dia hampir mati tersiksa sebab berjuang melawan hasrat untuk memilikinya.


"Maaf." Permintaan bernada rendah terlontar mulus dari bibir Jeremy. "Mestinya aku meminta izin atau menghubungi dia lebih dahulu sebelum membawamu, tetapi kuasa itu tidak kumiliki. Tugas yang aku terima sebatas menjadi penjagamu saja."


Raut wajah Clay lebih murung lagi mendengar penuturan Jeremy. "Bukan salahmu, sejak dulu, aku biasa terpenjara." Dia tertawa getas di akhir kalimat. "Kupikir setelah menikah bisa bebas melakukan segalanya—tanpa diawasi."


Keinginan sederhana Clay mengusik perasaan Jeremy, memang tidak gampang menjadi anak satu-satunya dari orang terpandang. Berbagai kemungkinan bisa saja terjadi, persaingan bisnis dapat juga memicu tindak kejahatan.


Tatapan Clay melayang jauh, dia tampak lebih rapuh setelah mengalami banyak insiden. Namun, wanita itu bersikeras baik-baik saja, sanggup mengulas senyum tanpa canggung—seolah-olah hidupnya benar-benar aman.


"Oh, iya, kamu punya kekasih? Apa dia tidak mencarimu selama di sini?" tanya Clay tiba-tiba, membuat mata lebar Jeremy membelalak. "Maaf, aku bukan tipe orang yang berpikir sebelum menanyakan atau mengutarakan sesuatu."


"Ha-ha-ha, tidak masalah. Dan, aku tidak punya kekasih resmi," aku Jeremy, membenarkan penilaian wanita itu terhadapnya.Toh, tiada guna berpura-pura menjadi pria terhormat. "Maksudku, hanya sekali waktu melewatkan kencan satu malam."


"Ah, tidak heran. Seperti itu sudah biasa di sana, bukan?" Mata bulat Clay menyipit. "Tapi, aku harap suatu hari nanti kamu menemukan wanita sekali seumur hidup untuk melewatkan masa tua bersama. Itu jauh lebih menenangkan."


"Semoga."


"Jer?"

__ADS_1


"Heem," sahut Jeremy.


"Untuk apa kamu melakukan ini, menjagaku sampai rela jauh dari keluarga?" tanya Clay, impulsif.


Dan, pertanyaan itu mengingatkan Jeremy akan sesuatu, dia terlupa telah berjanji akan melunasi semua utangnya begitu dapat uang. "Clay, aku—"


Salah seorang pengurus rumah menghampiri keduanya dan memberi tahu pemilik rumah sudah menunggu Jeremy di ruang kerja.


Tanpa melanjutkan Jeremy pergi begitu saja, meninggalkan tatapan Clay yang dipenuhi tanda tanya. Dia harus menyelesaikan urusan satu ini sebelum neneknya diganggu oleh kedua teman rasa preman itu.


Jeremy menyusuri koridor lantai dua, lantas menuruni anak tangga menuju ruang kerja. Sebelum masuk dia mengetuk pintu sebagai bentuk kesopanan.


"Silakan!" Suara tegas terdengar.


Di dalam terlihat dua orang—pria berusia setengah baya dan pemuda seumurannya. Meski bukan dari ras yang sama, Jeremy merasakan aura kepemimpinan mendominasi sikap pria paruh baya itu. Dia duduk setelah dipersilakan.


"Sejak awal aku senang kamu membantu, tetapi juga tidak bisa membiarkanmu tetap di sini. Dan, seperti yang dia katakan." Tanpa basa-basi membuka obrolan, pria paruh baya itu menunjuk pemuda di hadapannya dengan telapak tangan terbuka. "Aku tidak diizinkan memberi penghargaan apa pun untukmu. Dia bilang itu menjadi urusannya."


"Kamu?" Mata dalam Robbin menggelap, dia menyambar kerah kemeja Jeremy hingga pria itu terjatuh ke lantai. Ternyata keberuntungan berpihak kepadanya—setelah mencari ke seluruh pelosok negeri—dia menemukan orang yang dicari.


"Robbin hentikan!"


"Tidak akan! Brengsek! Di mana kamu sembunyikan istriku?" geram Robbin, dia siap melayangkan tinju ke wajah pria di bawah tekanannya.


"Sialan, lepaskan dia!" ulang Pemuda yang tak lain adalah Hanes menarik paksa Robbin dengan susah payah. "Dia temanku."


Kemarahan Robbin belum menguap, tetapi dia bisa mendengar penuturan Hanes dengan jelas. "Oh, jadi, dalang di balik peristiwa selama ini kamu, Han?" teriaknya, seraya melepaskan Jeremy. Dia kini berdiri menantang Hanes.


"Dalang apa?"


"Jangan pura-pura bodoh! Kamu merencanakan keributan itu supaya bisa membawa Clay, kan? Sekarang katakan di mana kamu menyembunyikannya?" hardik Robbin.


Hanes mendengus. "Singkirkan pikiran sempitmu itu! Aku tidak mungkin menggunakan cara kotor."

__ADS_1


"Benarkah?" Sudut bibir Robbin terangkat sebelah, sama sekali tidak memercayai perkataan Hanes.


Hanes terdiam dua detik sebelum menimpali, "Begini, selama tidak bisa memantau Clay terus-terusan, aku meminta Jeremy untuk mengawasinya. Sampai sini paham? Dia terlalu berharga untuk dibiarkan bebas tanpa pengawasan," papar Hanes.


Bersamaan dengan terjadinya keributan, Clay bergeming di ambang pintu. Dia menatap sendu punggung lebar pria yang selama ini dirindukan. "Kak Robbin," bisiknya seolah-olah tidak percaya apa yang ada di depan mata. Bulir hangat air mata mulai membanjiri pipi.


Napas memburu Robbin berangsur-angsur pelan dan tenang, mencoba menajamkan indra pendengaran.


Itu dia, dirinya mendengar suara lembut itu lagi.


Suara serak yang mampu memporak-porandakan jiwa sentimentalnya, bunyi sumbang penyayat hati.


Suara tarikan air dari hidung, sedu sedan memilukan ...


Tidak, Robbin benci air mata berlinang di kedua pipi wanitanya ... secepat putaran detik jam dinding dia menoleh.


Antara senang dan tidak percaya, Robbin maupun Clay sama-sama tertegun. Sampai suara rendah dan lugas menggelegar bagai petir memerintah.


"Clay kembali ke kamar sekarang!"


"Tidak mau, Dad, betapa tersiksanya aku jauh dari Kak Robbin." Clay menolak mentah-mentah perintah ayahnya, kemudian berhamburan ke dalam peluk sang suami.


Albert memberi tatapan dingin. "Ini urusan laki-laki, Daddy janji akan memanggilmu begitu selesai."


Benar kata pepatah, buah tidak pernah jatuh jauh dari pohonnya, kecuali masuk ke sungai dan terbawa arus. Sedikit banyak, selain paras—perangai pun sama dengan orang tuanya. Clay mengusap air mata dengan ujung telapak tangan kanan selagi tangan kiri berada di punggung sang suami, dia mencoba bersikap tegas. "Di mana Kak Robbin berada, harus ada aku!"


"Selama dia bertanggungjawab penuh atas keselamatanmu." Tanpa beranjak dari duduknya Albert berkata, "Dia gagal jadi suami yang bisa diandalkan. Jangan kira Daddy tidak tau apa saja yang terjadi terhadapmu selama tinggal bersama Robbin di London."


Robbin terkejut, tetapi berhasil menguasai ekspresinya supaya tetap tenang. Dia merasakan jemari Clay meremat bajunya yang melingkupi punggung.


"Hanes sudah menceritakan semuanya, sejak awal dia yang pantas menjadi suamimu. Bukan Robbin, dia memang bisa diandalkan ketika diberi tanggung jawab menjadi pengawalmu, tetapi sebagai suami, dia jelas gagal. Coba pikir, gimana jadinya kalau Hanes tidak mengirim Jeremy untuk mengawasimu?" terang Albert panjang lebar disertai tanya.


"Dad, tidak seperti itu," keluh Clay dan menyadari rangkulan Robbin mengendur.

__ADS_1


__ADS_2