Paksaan Terindah Gadis Konglomerat

Paksaan Terindah Gadis Konglomerat
Bab 62: Aku Berjiwa Petualang, Mom


__ADS_3

Belle baru ingin turun menyusuri selaras anak tangga setelah meminta salah satu pengurus rumahnya menyiapkan makan malam, dia tidak menduga Albert benar-benar memerintahkan menantunya pulang. Dirinya tahu betul, sang suami tidak mungkin tega membiarkan Clay menangis sepanjang waktu karena jauh dari Robbin.


Tidak mengurangi sikap hormat, kepala pengurus rumah tangga undur diri. Menyapa Clay dengan anggukan kepala ketika saling tatap.


Wanita cantik bermata bulat itu berseru, "Mommy!"


"Ya." Dahi Belle berkerut dalam, sambil menautkan jari-jemari di depan perut. Dia menatap gerak-gerik putrinya dari ujung tangga paling atas.


"Aku tidak tau apa yang Dad rencanakan, tetapi besar harapan, beliau tidak berusaha menjauhkan kami." Clay berlari menapaki anak tangga satu per satu. Kebahagiaan dan ketakutan kini secara bersamaan terlihat nyata di kedua sorot matanya yang ceria.


"Apa maksudmu, Sayang? Pelan-pelan!" Belle meraih jemari lentik putrinya, lalu membimbing langkah menuju ruang tertutup agar bisa memberi pengertian, menjelaskan sesuatu yang perlu Clay tahu. Dan, semoga tidak merusak rencana suaminya.


Syukurlah, putri semata wayangnya mau menurut tanpa bertingkah konyol seperti meminta penjelasan langsung di tempat terbuka—lorong rumah tampak sepi seperti biasa dan bisa saja tembok jadi bertelinga.


Anak-beranak itu masuk ke ruang bernuansa hitam dan biru tua yang dilengkapi dengan layar proyektor selebar dinding di belakangnya, kursi-kursi busa selisih satu anak tangga berjajar rapi atas-bawah, selain itu terdapat meja berukuran sedang untuk meletakkan camilan.

__ADS_1


Bagian lantai ruang kedap suara itu dilapisi karpet abu-abu gelap bergambar sulur-sulur daun hitam dengan simetris. Atapnya didekorasi menyerupai langit malam bertabur bintang, pada saat pencahayaan dimatikan menambah kesan lebih hidup. Pun, tidak memiliki banyak pintu, tetapi di sisi lain, ada jalan rahasia untuk berjaga-jaga dari keadaan genting.


"Bisa kutebak, Daddy jelas tidak memberi tahu Kak Robbin aku di sini—melihat ekspresi terkejut dan leganya karena pertemuan tak terduga ini. Satu yang pasti suamiku menolak dengan tegas saat diminta kembali ke Indonesia tanpaku—dia tau aku menghilang. Ayolah, Mommy, apa Dad, memancingnya pulang dengan gertakan? Mengancam keselamatan Ayah Robet beserta keluarga? OMG, aku berusaha sebaik mungkin agar suamiku percaya bahwa keluarganya baik-baik saja, tetapi Daddy, mengatakan hal lain," cerca Clay.


"Duduklah, Babe," pinta Belle, menepuk sayang pundak Clay. "Percayalah, Dad, menginginkan kebahagiaan mu. Dia tau karakter lawannya—"


"Lawan? Ya Tuhan, Mom! Kak Robbin menantunya. Menantu!" Clay mengulang dengan geram. Bagaimana mungkin ayahnya menganggap Robbin ancaman? Lelaki itu suaminya, sejauh tinggal bersama di Landon tidak sekali pun berbuat kasar.


Ya, mungkin. Ah, Clay benci mengakui bahwa Robbin pernah menolaknya di depan kedua orang tua. Bisa jadi, inilah yang mendasari pikiran-pikiran buruk ayah-ibunya.


Kemudian, Clay mendongak sebentar lantas berjalan perlahan ke kursi paling depan, mondar-mandir dan menatap ibunya yang bergeming di dekat pintu. Dia berusaha bersikap manis, tanpa mendesak alasan dibawa ke teater dalam rumah.


Dengan anggun Belle mengarahkan kaki menuju tempat Clay berdiri, menatap penuh kasih sambil berkata, "Sayang, bukan begitu, dengar Mommy, kumohon. Percayalah, kebahagiaan mu di atas segalanya."


"Apa pun itu, tentu, Mommy, tau yang kumau," ucap Clay. Dia duduk dan menyandarkan punggung ke sofa, lalu menutup mata. "Aku bahagia bersamanya, Kak Robbin mengusahakan itu, berhenti khawatir dia akan menyebabkan atau menyakiti perasaan ku."

__ADS_1


"Sama sekali tidak, Babe, hanya saja, apa yang kalian alami membuat kami takut. Biarkan Robbin menyelesaikan urusannya dengan tenang, tanpa mencemaskan keselamatan mu."


Pundak Clay semakin merosot, benarkah dia selama ini terlalu membebani Robbin? Menghalangi geraknya? Apa mungkin setelah mematuhi pengaturan ini, dirinya bisa hidup normal bersama dengan si suami?


Belle ikut duduk, lalu mengulurkan tangan untuk merangkul Clay, menepuk-nepuk bahu anaknya. "Sejak dahulu, tidak ada yang lebih berarti selain dirimu, Babe. Berhenti berpikir macam-macam, bersantai-lah, nikmati apa yang sudah disiapkan untukmu. Karena kamu—"


"Ya, aku istimewa," potong Clay, kedua orang tuanya selalu berkata seperti itu. "Mom, aku ingin ke Singapura."


Alis berukir Belle berkerut. "Tentu saja, Mommy bisa mengurusnya. Dan, ikut bersamamu. Percayalah tidak mudah membujuk Daddy kalau kamu pergi sendiri. Lagian sudah saatnya mereka pulang, natal sebentar lagi, seluruh anggota keluarga harus hadir. Kita akan merayakan di sini."


"Terima kasih, Mom, eem, kabar Monica gimana?"


"Baik-baik saja. Dia gadis penurut, tidak pernah sekali pun berusaha menyelinap," sindir Belle. Teringat ketika menjaga Clay dahulu, hampir setiap ada kesempatan wanita bermata bulat itu memcoba meloloskan diri dari pengawasan.


"Aku berjiwa petualang, Mom," bela Clay, seraya mengulas senyum bangga. "Apa para pria sudah selesai dengan urusan mereka?"

__ADS_1


"Ayo kita lihat!" Belle menggenggam erat jemari Clay, sedikit menarik agar berdiri.


__ADS_2