
Robbin menekan umpatan di dalam hati, ponsel Clay tadi tergeletak di kursi penumpang lalu tanpa pikir panjang dia bawa, dan sekarang ayah wanita itu menelepon.
"Ya, Pak. Albert," sapa Robbin. Tidak seharusnya dia merasa gugup seperti ini, tetapi rasa tanggung jawab menjaga Clay agar selalu baik-baik saja mengusiknya. Meninggalkan wanita itu sendirian memang bukan sikap yang bijak. "Tentu, dia—sedang di kamar mandi. Ya, di sana."
Ada jeda selama dua puluh detik, dari seberang Albert bersikeras ingin berbicara kepada putri semata wayangnya.
Robbin menelan saliva dengan susah payah, dia berujar, "Sebenarnya, Pak Albert, di sini masih terlalu pagi untuk sekadar mengobrol. Gimana kalau tiga atau empat jam lagi telepon kembali?" Pertanyaan Robbin terdengar seperti perintah.
Robbin tahu dengan begitu bisa memberi waktu lebih untuk menjemput Clay terlebih dahulu, ponsel masih ditempelkan di daun telinga, dia memberi penjelasan lagi. "Tidak, tidak terjadi apa-apa, putrimu hanya terbangun dan pergi ke kamar mandi—untuk, yah, buang air kecil."
Agaknya sang mertua menaruh curiga, Robbin sendiri tidak tahu kapan terakhir kali Clay menghubungi keluarga di Jakarta. Dia hampir mendengus sebelum berkata, "Iya, masih terlalu pagi Pak Albert, baiklah akan saya sampaikan."
Sambungan telepon pun terputus, Robbin mengusap wajah dengan kedua telapak tangan sembari bermonolog, "Ada hal penting apa hingga Pak Albert menelepon sepagi ini? Ah, ya di sana memang sudah siang, bukan?" Dia letakkan ponsel Clay ke atas tempat tidur lantas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tidak sampai lima menit Robbin sudah keluar dari sana hanya mengenakan handuk putih tebal membungkus pinggang ramping berototnya sampai sebatas lutut.
Segera Robbin berganti baju, kemudian membaringkan tubuh ke kasur. Kilas balik beberapa waktu lalu memenuhi pikiran, hati kecilnya tidak percaya atas apa yang diterima oleh kedua telinga. Namun, sepenggal ucapan Clay seakan-akan membenarkan semua itu. Dia kini merenung sembari melipat tangan di belakang kepala dan menatap langit-langit atap.
Rasa kesal merasuk hingga ke sumsum tulang. "Breengseek!" Itu yang ingin Robbin teriakkan sekarang, tetapi tidak. Dia harus mendinginkan kepala, mengisinya dengan kemungkinan terbaik bahwa sang istri tidak berlaku demikian hina.
Robbin menggeram lantas bergelung ke dalam selimut tebal, lelah di tubuh nyatanya tidak mampu membuat mata terpejam. Dia terjaga sampai matahari pagi menampakkan sinar keemasan. Ada yang hilang, lubang gelap di hatinya tampak kosong, seperti tempat di sisi kiri. Tidak ada Clay yang secara diam-diam memberi ciuman, pernah sekali waktu Robbin memergoki itu, tetapi dia memilih pura-pura tidur. Membiarkan sang istri berbuat sesuka hati.
__ADS_1
"Terlambat untuk membangun pertahanan diri lagi, aku siap bersaing denganmu bocah ingusan. Cih, Hanes tidak lebih dari anak kecil yang merasa terancam karena takut kehilangan sebuah permen!" Robbin bergumam panjang, tetapi terdiam selama semenit, "Tidak, harus ada sedikit bukti ketidakterlibatan Clay dalam hal ini, kukira cukup sepadan. Pengkhianatan tetaplah pengkhianatan kalau terbukti benar!"
Robbin menghela napas, lalu melompat dari tempat tidur dan melempar selimut begitu saja. Dia mengarahkan kaki ke pintu, menuruni anak tangga menuju dapur.
Kebiasaan pada pagi hari yang tidak pernah terlewat, kopi dapat membuat pikiran kacau menjadi jernih. Robbin tidak mengira begitu tersiksa berada jauh dari Clay, bahkan setelah mengetahui sikap buruk wanita itu. Dirinya mengerang, "Aku akan menjemputnya sebelum siang atau kalau tidak Albert bisa mempersulit kehidupan keluargaku." Dia teringat ancam dari sang mertua melalui telepon genggam beberapa jam yang lalu.
Setelah menyeduh kopi juga memanggang roti berselai apel, Robbin duduk ke kursi menghabiskan sarapan pagi dengan lima gigitan berkala.
Tanpa membersihkan peralatan makan Robbin meninggalkan rumah, tetapi sebelum itu sudah memeriksa amunisi, menambah dan membawa lebih dari satu pistol. Dia memilih jalan agak jauh dari seharusnya, saat ini waktu sudah menunjukkan pukul tujuh.
Setibanya di hotel Robbin melenggang santai di koridor mengarah ke kamar Clay. Dia mengetuk pintu setelah menengok kanan-kiri. Baru ketukan pertama, ruangan itu terbuka lebar.
"Pak Albert telepon," pungkas Robbin seraya mengeluarkan ponsel dari saku dengan wajah datar khas dirinya dan duduk di kursi dekat meja makan.
Clay tampak terkejut, dia berdoa semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk di seberang sana. Dia pun urung menyantap sarapan dan melakukan panggilan.
"Halo, Dad," sapa Clay, dia berjalan ke arah sofa yang ada di sisi kanan tempat tidur. "Ah, itu, iya, hawa dingin mengganggu tidurku." Mata bulatnya melirik pria yang sedang melihat menu sarapan. Dia sedikit terkejut dengan alasan sang suami yang digunakan sebagai jawaban dari panggilan ayahnya dini hari tadi.
"Memang tidak ada yang perlu dicemaskan, Dad, September sudah lewat dan angin menjadi lebih dingin. Gimana kabar Mommy?" tanya Clay lantas menjeda, mendengarkan penutur pria paruh baya di seberang telepon. Kini, dia diberi kesempatan untuk berbicara, "Benarkah? Syukurlah, pastikan semua berjalan baik ya, Dad."
Clay beranjak dari duduknya kemudian mendekati Robbin, dia mencondongkan tubuh dari arah belakang saat berusaha meraih roti lapis isi daging. Kedekatan itu membuat punggung Robbin menghangat singkat, wanitanya kembali menjauh dan berjalan memutar, begitu kunyahan pertama habis, jari-jari lentiknya meletakkan roti di atas piring dan membalik dua cangkir kosong untuk di isi teh hangat.
__ADS_1
Sambil menuang Clay menatap Robbin, seperti memerintah 'minumlah' dia berjalan agak jauh setelah itu. Berbicara pelan di balik telapak tangan yang berjarak dua senti dari bibir.
"Desember, kita pulang," bisik Clay, "Bye bye, Dad. Peluk cium dari jauh. Miss you."
"Kak Robbin sudah sarapan?" Clay kembali mendekati pria itu lalu duduk di depannya.
Robbin tidak menyahuti sama sekali, dia sibuk memperhatikan lingkar hitam di bawah mata Clay, sesuai dengan ucapan sebelumnya, Clay tidak cukup tidur sama sepertinya.
"Hai, mengapa melihat begitu? Aak, cobalah sedikit!" Clay mengira Robbin menginginkan roti isi dagingnya. "Gimana rasanya?"
"Lumayan." Akhirnya Robbin dapat menjawab begitu makanan melewati tenggorokan. "Bersiaplah, kita pulang sekarang."
"Tanpa melakukan apa pun?" tanya Clay sambil menaik-turunkan alis, menggoda Robbin dengan kedipan mata juga. "Come on, ini hotel. Anggap saja penebusan bulan madu yang belum pernah terjadi." Seulas senyum menghiasi bibirnya yang ranum.
Dan, sukses membuat pikiran Robbin meraung-raung ingin menerjang Clay detik itu juga, darah di nadi seketika berdesir hangat. Sayang sekali, dia masih harus menelan kembali niatnya. Aku memang tersiksa menahan hasrat untuk menikmati setiap detail lekukan di balik baju itu, juga bibirmu, menghitung jumlah gigi yang ada di dalam sana dengan ... oh sial! tidak sekarang, ada hal yang lebih penting. Pantang bercinta dengan wanita yang memiliki hati bercabang dua. Robbin membatin.
Clay menempelkan punggung tangan ke dahi Robbin, dan langsung ditepis oleh pria itu. "Apa yang kamu lakukan?"
"Pipi Kak Robbin merah, kukira demam," jelas Clay dengan raut wajah penuh kecemasan.
Sial, apa begitu terlihat jelas anganku ingin memasuki dia seutuhnya? batin Robbin.
__ADS_1