Paksaan Terindah Gadis Konglomerat

Paksaan Terindah Gadis Konglomerat
Bab 7: Sukses Tidak, Ya?


__ADS_3

Sebagai perempuan sejati berbelanja menjadi hal paling lumrah terjadi. Merasa puas kalau sudah mendapat apa yang diinginkan.


Pertemuan tidak terduga kemarin sore membawa Hanes datang berkunjung pada hari berikutnya. Bahkan tanpa sungkan meminta ijin kepada Robbin untuk membawa Clay.


"Aku ikut," putus Robbin, membuat mulut Clay menganga. Pasalanya setengah jam lalu berkata akan berangkat bekerja. "Keberatan?" imbuhnya.


Hanes melipat tangan di depan dada sebelum mengutarakan usulan, dia tidak mau terganggu dengan kehadiran anak buah ayahnya. "Aku harap pekerjaanmu bisa ditangguhkan. Karena, Ayah tentu ingin cepat selesai bukan?"


Robbin melepas kancing pergelangan tangan lalu menyisingnya sampai sebatas siku, mengapa akhir-akhir ini—lebih tepatnya setelah menikah—pekerjaan tidak lagi menjadi nomor satu? Seperti dipaksakan apalagi tambahan waktu untuk menjauh dari Clay. Semakin hari terasa semakin berat. Dia memijit ringan pelipis sembari mengeram dan mengibaskan tangan. "Pergilah!"


"Kak Robbin tidak jadi ikut?" Wajah ceria Clay berangsur mendung, begitu masam hingga mengusik hati sesiapa yang memandang.


"Udah, yuk!" Hanes meraih pergelangan tangan Clay.


Clay mengembuskan napas sambil tersenyum tipis ke arah Robbin sebelum pergi. "Bye bye," katanya.


Kilatan cemburu terpancar jelas di mata Robbin saat itu dan Clay mengetahuinya samar-samar. Tidak terlalu yakin karena pria pujaannya selalu bersikap takpeduli. Bahkan saat ini, tiada niat untuk menghentikan Clay keluar dari rumah.


Robbin pura-pura mengabaikan keduanya. Padahal sejak Hanes datang dan Clay terlibat perbincangan ringan, dia mengamati dengan hati meradang. Dia berpendapat kedekatan mereka tidak seperti pertemanan pada umumnya. Dia sebenarnya tergelitik ingin memutus obrolan dan mengusir Hanes, tetapi urung sampai pria itu membawa Clay pergi.


"Kamu hari ini cantik sekali," kata Hanes begitu duduk semobil dengan Clay.


"Maaf tidak bawa uang receh."


Clay memang selalu terlihat cantik setiap waktu, rambut kecokelatan bervolume sebatas siku, kulit kuning langsat yang tampak lembut serta cerah, dan tubuh indah berisi di bagian-bagian yang tepat membuat penampilannya lebih menarik.


"Percayalah aku tidak butuh itu, karena hari ini semua uangku milikmu." Hanes tersenyum puas setelah mengatakannya, dia paham sifat dasar wanita yang ingin dimanjakan dengan begitu banyak hadiah. Ya, kecuali Clay—gadis sekaya dia, pantang mengharap pemberian orang dalam beberapa alasan. Dia masih menerima pemberian keluarga—Hanes sudah seperti keluarga.


"Jangan menyesalinya nanti, Han," ujar Clay sambil mengulas senyum jail, "Pulang-pulang hidupmu pasti terlunta-lunta."


"Well, bukan masalah besar." Hanes segera tancap gas, menyusuri jalanan dengan perasaan berbunga-bunga.


Hanes mengajak Clay bertandang ke Knightbrigde untuk membeli beberapa produk dari desainer kondang. Karena berada di perbatasan Hyde Park yang luas, Knightsbridge merupakan daerah yang makmur. Bangunan di sekitarnya bergaya Victoria dan terdapat alun-alun taman yang rindang. Wisatawan dan penduduk internasional yang kaya kurang lengkap sebelum berbaur di restoran mewah dan pertokoan kelas atas di London ini. Seperti pusat perbelanjaan Harrods yang ikonik.

__ADS_1


Dari siang sampai menjelang petang keduanya baru pulang, mobil Hanes penuh dengan barang belanjaan. Kalau saja Clay tidak memaksa untuk pulang, dia pasti membawanya berkeliling lebih lama lagi.


"Yakin tidak mau naik perahu dulu?"


"Sudah cukup, Han. Kak Robbin tidak akan senang aku pulang malam," tolak Clay halus.


"Ya, ampun, Clay, terlihat jelas dia tidak peduli."


"Jangan pernah menilai suamiku, Han!" Clay melayangkan kecaman tegas.


"Terimalah kenyataan, Clay."


"Kenyataannya sudah jelas, kok, aku cinta Kak Robbin. Bisa kita pulang sekarang?"


"Tentu saja."


Berbeda dari berangkat tadi, Hanes cenderung memelankan laju kendaraan. Mengulur-ulur waktu agar bisa lebih lama bersama Clay.


Suasana yang semula hangat menjadi lebih dingin karena perdebatan singkat yang terjadi. Baik Hanes maupun Clay memilih diam seribu bahasa sampai depan teras rumah.


"Maaf, Clay," kata Hanes tulus.


"Tidak apa-apa, Han, kamu hanya ingin memastikan hidupku bahagia."


Senyum tersirat di wajah tampan Hanes, dia pun bergegas ke mobil lagi untuk membawa belanjaan.


"Han!"


"Ya?"


Clay tampak menimbang-nimbang sesuatu. Dia mengusap-usap alis sebelah kanan dengan telunjuk, kebiasaan saat berpikir. "Tidak jadi."


"Katakan segera begitu kamu mengingatnya," sahut Hanes sambil berjalan menuju undakan teras.

__ADS_1


Clay mengarah ke dapur setelah mempersilakan Hanes duduk. Dia memeriksa kamar sebelum memutuskan mengambil minuman untuk Hanes. Pantas rumahnya sepi sebab Robbin belum kembali dari bekerja.


Dari arah ruang tamu terdengar suara seseorang berbincang-bincang, hingga Robbin menampakkan diri di samping Clay.


"Belum cukup bersenang-senang hari ini, Nona Clay?" sindir Robbin sembari membuka lemari pendingin untuk mengambil minuman.


"Menurutmu?"


Robbin memandangi Clay dengan perasaan ingin tahu, tetapi memilih diam dan terus berjalan keluar dari dapur.


Clay merengut dan hanya menatap dalam-dalam kepergian Robbin. Dia berpikir keras, mungkinkah hatinya salah mengartikan kedekatan mereka kemarin malam. Momen yang terjadi begitu intim sampai-sampai napas keduanya tercekat. Apa hanya dirinya yang merasakan gelombang luar biasa, sedangkan Robbin tidak sama sekali? Hal tersebut hanya angin lalu?


Clay mengira bahwa setelahnya hubungan akan berjalan normal, tetapi yang dialami saat ini cukup menampar hati. Tekatnya kini sudah bulat, semoga kedekatannya dengan Hanes memancing emosi dalam diri Robbin.


"Han!" seru Clay dengan suara khas lembut yang mendayu merdu.


"Ada apa?"


"Tolong ambilkan gelas di situ!"


Hanes mendongak dan mengulurkan tangan untuk mengambilnya. "Berapa?"


"Dua cukup," kata Clay.


Robbin sudah berdiri tenang di belakang Clay. "Aku baru sadar dengan tinggi badan yang nyaris menyentuh atap tidak dapat menjangkau barang di atas situ," bisiknya, hingga tubuh Clay berjingkat. Harimau saja tidak bisa menandingin cara Robbin mengendap-endap.


"Uh, mengejutkan, bukan?" bisik Clay.


"Ada lagi?" tanya Hanes setelah menurunkan gelas. "Kukira kita butuh tiga gelas," usulnya begitu melihat Robbin di balik punggung Clay.


"Kak Robbin sangat repot, jadi—hanya kita berdua."


Tiba-tiba saja Robbin merasa gelisah mendengar penuturan itu. Dia memelototi Clay terang-terangan serta mengepalkan tangan. Ada rasa sakit yang perlahan-lahan menjalari hati. Lalu, melayangkan tatapan dingin kepada Hanes.

__ADS_1


"Yuk, Han!" Clay melewati Robbin begitu saja, tetapi dia melihat reaksi tegang Robbin ketika mendengar penuturannya. Sukses tidak, ya? batin Clay.


Senyum kemenangan menghiasi wajah Hanes saat ini. Sama seperti Clay, dia menuju ruang tamu tanpa melirik Robbin.


__ADS_2