Paksaan Terindah Gadis Konglomerat

Paksaan Terindah Gadis Konglomerat
Bab 31: Kisah Cinta Robbin


__ADS_3

Clay mengarahkan langkah ke tempat pencucian tangan, dia masih memikirkan selera Robbin soal wanita. Gemuk? Kenapa harus wanita gemuk? Dengan muram dia memperhatikan raut wajah tirusnya serta jari jemari tangan tanpa lemak.


"Pantas menyuruhku menambah berat badan." Clay mencuci tangan dengan kesal. Dia membayangkan memiliki badan berisi, bergelambir di sana-sini.


Karena melamun, Clay terkesiap tatkala lengan kokoh Robbin terulur di masing-masing tubuhnya. Pria itu secara terang-terangan memeluknya dari belakang, dada dan punggung yang saling bersentuhan di balik kain terasa hangat. Degup jantung keduanya seolah-olah bersatu padu dalam irama yang seiras.


Robbin meraih jemari ramping Clay yang berlumuran busa sabun, telapak tangan besarnya menangkup dan mengusap lembut. Membersihkan sela-sela jari istrinya. Dia merasakan tubuh Clay menegang, setelah mengenal wanita itu lebih dekat, ada perbedaan yang cukup signifikan.


Clay yang biasanya agresif terlihat lebih pemalu sekarang, apa mungkin sebelum-sebelumnya hanya untuk menjadi pusat perhatian? Ah, tidak penting lagi, sebab kini Robbin mulai membuka hati. Lebih gencar mendekati istrinya.


Aksi Robbin yang terkesan romantis itu meremangkan bubu-bulu halus di tengkuk juga tangan Clay. Aroma maskulin khas pria itu menghantarkan ketentraman, ingin sekali Clay berbalik badan. Memeluk erat-erat tubuh proporsional sang suami. Namun, nyatanya dia justru terpaku menunggu apa yang akan Robbin lakukan setelah ini.


Sambil terus membersihkan kedua tangan, Robbin memberikan kecupan di puncak kepala. Menghirup wanginya rambut Clay yang memabukkan. "Sudah, duduklah," katanya paruh sebab menahan luapan sensual pada inti tubuhnya saat ini. Robbin merasakan denyut menyiksa pada bagian sensitifnya.


Robbin harus berhenti atau tanpa rasa malu membopong tubuh sang istri. Lalu, membawanya ke mobil dan melakukan hubungan mendebarkan, menyatukan tubuh dalam hentakan-hentakan berirama. Bekerja ekstra dan menghasilkan lebih banyak kelenjar keringat.


Kaki jenjang berbalut celana jeans Robbin mundur selangkah, memberi jarak supaya Clay bisa lewat. Dia mengamati langkah gemulai sang istri melalui kaca yang ada di tempat pencucian tangan tersebut. Anggun, begitu yang terlintas di dalam benaknya.


Tunggu sampai kita berada di ruang sepi, batin Robbin sambil menggeleng, senyum simpul menghiasi wajah tampannya. Aku akan memesan kamar hotel, terlalu beresiko, berada di rumah saat ini. Saat terkenang kejadian satu jam yang lalu.


Tidak berselang lama, Robbin duduk di tempat semula. Dia mengeluarkan ponsel dari saku celana. Ada tiga pesan masuk dari nomor yang sama. Dia menatap layar menyala itu dengan alis mengerut hampir bertemu, hingga suara lembut Clay mengalun di telinga.


"Kak Robbin, apa Martha gemuk?" tanya Clay yang membuat aktivitas Robbin terhenti. Dia menunggu respons sambil mengetuk-ngetuk ujung jempol kanan ke jempol tangan kiri.


"Martha," beo Robbin, lantas meletakkan ponsel di atas meja. Dia melihat keingintahuan di kedua mata bulat Clay. "Dia itu—"

__ADS_1


Clay menunggu dengan sabar, kelopak berbulu lentiknya mengerjap secara berkala. Dia memandangi sosok di sampingnya penuh semangat, sambil meneleng dan menyanggah kepala dengan telapak tangan serta siku menopang di atas meja sembari mengulang pertanyaan. "Apa dia gemuk?"


Cuping hidung Robbin mengembang saat menarik udara lebih banyak, dia berusaha mengontrol emosi kemarahan di hati. Biar bagaimana pun Clay berhak tahu, kendati kenangan lama itu membikin hati nyeri.


"Dia tidak cantik, tetapi sedap dipandang. Senyumnya begitu menentramkan. kulitnya seputih salju, halus," papar Robbin seraya menoleh ke arah Clay, barangkali menemukan kecemburuan di wajah ayu istrinya.


"Sesempurna itu?" Clay tertunduk lesu. "Lalu apa yang membuat kalian gagal menikah?"


"Dia segalanya—" Robbin menjeda kalimatnya, sedangkan Clay tidak ingin menyela. "Dia hamil saat itu—"


"Hamil? Anakmu? Terus kenapa malah—"


"Dengar dulu," sambar Robbin. Mata lebarnya menutup singkat sebelum berbicara lagi. "Aku dan Martha sudah mengatur pernikahan. Keluargaku sayang kepadanya, dia begitu pengertian, wanita paling baik yang pernah kukenal selain ibu. Aku berusaha melakukan apa saja untuk kebahagiaannya." Kenangnya lantas menunduk.


Hati dan perut Clay serasa diremat-remat mendengar kisah cinta Robbin dan Martha. Dia begitu cemburu karena sang suami melambungkan sosok wanita di masa lalunya.


Tangan Robbin terulur, menggenggam erat kepalan jemari Clay, mengelus-elus lembut. "Dia sekarang bukan siapa-siapa pun sejak dia tidak datang di hari pernikahan."


"Tidak datang, kenapa?" Clay terhenyak.


"Memang itu pilihannya."


"Kak Robbin diam saja? Tidak mencari tau alasan dia tidak datang?" cerocos Clay, hingga Robbin mengerutkan alis tebalnya.


"Tentu saja aku mencarinya, aku takut saat itu. Khawatir dia diculik orang-orang yang menaruh benci dan dendam terhadapku. Aku nyaris gila, ck! Akan tetapi, yang kudapat. Dia pergi bersama laki-laki lain," sanggah Robbin. Dia tampak lebih santai sekarang.

__ADS_1


"Dia, kan, hamil, kok, bisa pergi dengan orang lain? Dan, Kak Robbin terima begitu saja. Dia secara terang-terangan membawa anak Kak Robbin juga," dengus Clay, tidak habis pikir ada wanita seperti itu. Bisa-bisanya kabur bersama orang lain, sedangkan tinggal selangkah lagi menyandang status istri.


Robbin mengukir senyum getas atas penuturan yang terlontar dari bibir ranum Clay. Dia mengalihkan perhatian ke luar jendela kaca transparan. Pekat malam menyelimuti parkiran, beberapa mobil terlihat berjajar rapi.


"Aku bukan ayahnya." Suara serak Robbin terkesan seperti gumaman.


"Tunggu!" potong Clay.


"Aku bilang dengar dulu, jangan nyerobot kayak angkot!" tegas Robbin lalu tertawa pelan. "Dia memang hamil, tapi yang ... lagipula aku memegang teguh kesucian sebelum adanya ikatan pernikahan. Seorang wanita itu semestinya dijaga, bukan dirusak. Dan, lagi Monica, aku pun akan marah kalau ada laki-laki yang menyakitinya."


"Sebentar." Bukan Clay kalau menurut begitu saja ketika diminta diam, dia kembali mengeluarkan apa yang menjanggal pikiran. "Lalu, kalau Kak Robbin tau dia hamil anak orang lain kenapa mau menikahinya?"


"Cinta."


"Sesederhana itu?"


"Luar biasa, aku mencintainya dengan segenap jiwa. Aku tidak tega melihat dia terpuruk, penyesalan tergambar jelas di matanya saat menjelaskan hal itu. Dia tidak tau lagi harus gimana. Laki-laki brengsek itu tidak mau mengakui anaknya." Ada kemarahan di dalam suara berat Robbin.


Mata Clay mulai berkaca-kaca, dia beruntung bisa menikah dengan laki-laki sesempurna Robbin. Teringat dulu kecerobohan yang sudah dirinya perbuat, seandainya itu orang lain, tentu hidup Clay hancur. Bisa jadi malah ditinggalkan begitu saja dengan seorang bayi di dalam kandungan. Hanya membayangkan saja membuatnya bergidik ngeri.


"Hai, malah melamun," tegur Robbin.


"I love you, Kak Robbin," bisik Clay, seraya memeluk pinggang Robbin kuat-kuat.


"Masih ingin mendengar kisah selanjutnya?"

__ADS_1


Kepala Clay mengangguk cepat, seperti bocah yang tidak sabar menunggu diceritakan dongeng sebelum tidur.


__ADS_2