Pangeran Vampire Bulan Merah

Pangeran Vampire Bulan Merah
Bab 15 : Siasat Yang Terungkap


__ADS_3

Angin bertiup semakin kencang, kedua tangan Cassandra mulai gemetar, Felix yang merasakan getaran itu dengan segera melepaskan gigitan nya, dan segera menggendong Cassandra ke dalam istana.


Dengan tubuh yang sudah basah kuyup Felix membawa Cassandra menuju ke kamarnya, dan meminta para pelayan untuk mengganti baju Cassandra dengan segera, lalu menidurkan nya.


"Vidya! cepat bantu putri untuk mengganti pakaian nya, jangan sampai ia terkena demam hanya karna dirimu yang terlalu lama mengganti bajunya," ujar Felix dengan raut wajahnya yang begitu mengkhawatirkan nya.


"Ba-baik Tuan ...."


Pintu kamar Cassandra pun segera di tutup, beberapa pelayan lain ikut masuk ke dalam kamar Cassandra untuk membantu Vidya.


Felix mulai melangkah maju ke arah kamarnya untuk segera mengganti pakaian nya juga, akan tetapi tatapan matanya itu seperti di penuhi dengan rasa gelisah. Mengapa diriku bisa begitu mengkhawatirkan manusia sepertinya? padahal aku adalah seorang vampir yang paling membenci manusia.


Setelah beberapa saat kemudian Vidya memberitahu Felix bahwa ia telah selesai mengganti pakaian Cassandra.


Tuk ... tuk ...


Vidya mengetuk pintu kamar Felix secara berlahan, "Tuan ... saya sudah selesai mengganti pakaian putri Cassandra, sekarang anda boleh melihat keadaan nya."


Krek ...


Felix membuka pintu kamarnya dengan lirih mata yang lelah, "Baik terimakasih."


Felix dengan segera menuju ke kamar Cassandra, dan sesampainya ia di sana hatinya begitu langsung tenang ketika melihat wajah Cassandra yang begitu manis walaupun ia sedang tertidur.


Felix mendekat ke arah ranjang Cassandra, ia duduk di sisinya sambil mengusap halus rambut panjang nya itu, "Begitu cantiknya kamu sekalipun sedang tertidur, mengapa harus kamu yang berhasil menggetarkan hatiku? padahal aku sangat membenci manusia, dan sama sekali tidak pernah ingin mempercayai manusia."


"Tapi kamu berhasil membuatku kembali mempercayaimu," ujar Felix sambil tersenyum.


Felix pun ikut membaringkan tubuhnya di atas ranjang Cassandra sambil memeluknya, "Selamat tidur kelinci kecil."


Karena kelelahan Cassandra pun tidak menyadari akan kehadiran Felix di sisinya yang menemani nya sepanjang ia tidur. Singkatnya, matahari pagi mulai terpancar sangat cerah setelah badai hari yang lalu, Cassandra terbangun dari tidurnya, membuka matanya sedikit demi sedikit.


Namun betapa terkejutnya ia ketika melihat Felix yang berada tepar di hadapanya, di tambah dengan dirinya yang memeluk nya di karnakan ia yang menyangka nya tubuh Felix itu adalah guling.


"Astaga! Felix?! mengapa ia bisa disini?" gumam Cassandra di dalam hatinya, akan tetapi bukanya langsung bangun ia malah menatap wajah Felix terlebih dahulu.


"Jika dari dekat ternyata ia cukup tampan," ujar Cassandra.

__ADS_1


Namun Cassandra menjadi salah fokus ketika melihat bulu mata Felix yang begitu indah, ia pun tertarik untuk menyentuh bulu matanya dengan pelan-pelan, "Wah ... panjang sekali, mengapa bulu mataku tidak seindah ini?"


"Tentu saja indah," ujar Felix yang secara tiba-tiba membuka matanya, dan berhasil membuat Cassandra terkejut.


Plak ... !


"Astaga Felix! ma-maafkan aku! kamu sih ngagetin," ujar Cassandra yang tak sengaja menampar Felix karna terkejut.


"A-aw ... kamu berani sekali menampar wajah pangeran vampir yang paling di hormati di semua penjuru dunia!" ujar Felix sambil memegangi wajahnya.


"Cih masasih? tapi kenapa kamu sangat kebal ketika di peperangan jika tertampar olehku saja kamu kesakitan."


Felix menindih Cassandra, dan menahan kedua tangan nya di atas kepala Cassandra, "Tentu saja itu berbeda. Ouh ya aku ingin bertanya, bagaimana kamu bisa mendapatkan belati emas itu?"


Felixpun menurunkan kedua tangan nya, agar Cassandra lebih leluasa untuk menjawab nya, "Saat itu ketika kamu pergi, aku masih berada di taman untuk menangkan diri, setelah beberapa saat ada seorang pria berjubah hitam yang melompati benteng istana, dan menghampiriku."


"Lalu?"


"Ia memberikan belati itu padaku dengan alasan untuk menghindari serangan vampir," jawab Cassandra.


Mendengar jawaban Cassandra, Felix mulai sedikit keheranan karena mengapa Lucas bisa tidak mengetahui hal ini sama sekali.


Lucaspun segera masuk ke dalam kamar Cassandra, "Ada apa Felix?"


"Lucas, aku ingin kamu menjelaskan sesuatu, pada saat aku pergi apakah kamu lengah menjaga Cassandra?" tanya Felix.


Lucas tidak tahu apa maksud Felix bertanya seperti itu padanya, ia berfikir mungkin ini adalah kesalahan nya karna telah meninggalkan perintah Felix dengan seenaknya.


"Sejujurnya pada saat itu aku tidak pernah lengah, akan tetapi di saat aku sedang mengawasi tuan putri, ia selalu terlihat gelisah. Lalu ia berkata pada Vidya bahwa penyebabnya tidak bisa menenangkan diri adalah karna ia merasa sedang di awasi oleh seseorang, maka oleh sebab itu aku meninggalkan nya sebentar, setelah aku kembali putri sudah kembali ceria."


"Jadi kamu membiarkan Cassandra sendirian tanpa ada pengawasan sedikitpun selama beberapa menit? baiklah. Sekarang aku ingin bertanya padamu Cassandra, dari arah mana kamu merasa bahwa ada seseorang yang sedang memperhatikan mu?" tanya Felix, dengan raut wajahnya yang sedang mencoba untuk mencerna semua jawaban mereka.


"Dari arah depan, dan arah belakangku," jawab Cassandra.


"Lucas, di sebelah mana kamu menjaga Cassandra?" tanya Felix sekali lagi pada Lucas.


"Belakang."

__ADS_1


"Baiklah aku sudah mengerti," ujar Felix.


Namun ada hal yang membuat Felix kembali terkejut yaitu semua jawaban yang di katakan oleh Cassandra, jujur saja ia sangat terkejut dengan kemampuan yang dimiliki oleh Cassandra, karna ia dapat memproteksi kehadiran seseorang di sekitarnya.


Felix akhirnya menyimpulkan bahwa benar, pada saat celah waktu itulah kaum manusia berjubah hitam itu berani masuk ke dalam benteng istana. Felix pun memiliki rencana untuk memancingnya kembali dengan cara yang sama seperti pada saat itu, yaitu menyebarkan berita bahwa dirinya akan pergi ke suatu tempat yang jauh, namun kebenaran nya tidak, ia masih berada di istana dan bersembunyi di perpustakaan, agar kehadiran nya tidak dapat di lacak.


Singkatnya Cassandra dan Lucas pun mengikuti arus rencana Felix tersebut. Cassandra berakting seolah sedang merenung di taman, dan diam-diam Felix bersama Lucas memperhatikan dari jendela perpustakaan.


Ternyata tidak perlu menunggu waktu yang lama, setelah dua puluh menit menunggu pria berjubah hitam itu kembali mendatangi Cassandra dan bertanya tanya soal keadaan nya.


"Hai gadis tawanan, apa kabar?" tanya pria berjubah hitam itu.


"Aku baik-baik saja, mengapa kamu datang kembali?" ujar Cassandra yang bertanya kembali.


"Kemarin aku melihatmu menangis di bawah badai dengan angin yang begitu kencang, aku hanya mengkhawatirkan keadaan mu karena bagaimanapun kamu adalah salah satu dari kaum ku," ujar pria berjubah hitam itu.


Perkataan pria berjubah hitam itu terdengar oleh Felix, ia ingin menunggu beberapa saat yang tepat untuk keluar dari tempat persembunyian nya.


"Ouh ya ... aku kehilangan belati emas yang kamu berikan, karna benda itu berhasil di rampas oleh Felix," ujar Cassandra.


Pria berjubah hitam itu tersenyum, karena ia sudah tau pasti bahwa belati itu akan segera di ketahui oleh Felix dengan sangat cepat, ia pun mengambil belati emas yang lain di dalam tasnya untuk kembali ia berikan pada Cassandra.


"Bawalah ini, dan jangan sampai ketahuan lagi, karna benda ini sangat sulit untuk kembali di rebut," ujar pria berjubah hitam sebelum akhirnya Felix turun dari jendela perpustakaan untuk menghadang nya.


"Menjauhlah dari tawanan darahku!" bentak Felix sambil menodongkan pedang nya.


"Cih ternyata ini jebakan," ujar pria berjubah hitam sambil tersenyum licik.


Setelah beberapa saat Felix turun, Lucas pun ikut menyusul untuk melindungi Cassandra dari serangan mendadak. Pertarungan singkat pun di mulai, keadaan mulai ricuh ketika Felix berhasil menusuk perut pria berjubah hitam itu, dan para pengawal mulai berdatangan atas perintah Lucas.


Pria berjubah hitam yang mengetahui bahwa posisinya tersudut, pada akhirnya ia memutuskan untuk segera melarikan diri dari istana dengan luka di perutnya.


"Felix! apakah aku perlu mengejarnya?" tanya Lucas.


"Tidak perlu, biarkan saja ia pergi."


Bersambung .....

__ADS_1



__ADS_2