Pangeran Vampire Bulan Merah

Pangeran Vampire Bulan Merah
Bab 22 : Helen


__ADS_3

Setelah berjalan cukup jauh akhirnya wanita bercadar itu memerintahkan Cassandra untuk berhenti sebentar agar ia dapat beristirahat.


Pluk ...


"Minumlah air itu, aku tahu kamu letih," ujar wanita itu sambil melemparkan botol air minum nya kepada Cassandra.


"Terimakasih," jawab Cassandra.


Wanita itu duduk di bawah pohon yang rimbun, dirinya merasa bahwa ini adalah tempat yang jauh lebih aman dari pada sebelumnya.


Dengan berlahan wanita itu melepas cadar yang menutupi sebagian wajahnya itu, "Akhirnya sudah aman."


Sorot mata Cassandra seketika langsung terpaku ketika melihat wajah asli dari wanita bercadar itu, "Bibi Helen!"


Wanita itu tersenyum sambil menatap kearah mata Cassandra dengan begitu dalam, "Ya sayang? kamu sudah besar yah."


Wanita bercadar itu ternyata adalah adik kandung dari ibu Cassandra, hatinya sempat bertanya-tanya bukankah ia sudah tiada sebelum ibunya menyusulnya? tapi mengapa ia masih hidup hingga sekarang? tapi, bentuk pupil matanya itu sangat berbeda, karena pupil matanya tegak lurus persis seperti mata seorang vampir.


"Hiks ... bibi, kenapa kamu tidak pernah mengunjungiku? bukankah kamu sudah meninggal satu tahun sebelum ibu meninggal?" isak tangis tak kuasa ia tahan lagi ketika melihat sosok Helen yang memang begitu sangat mirip dengan ibunya.


"Ouh sayang ... jangan menangis," ujar Helen sambil mendekat ke arah Cassandra untuk memeluknya.


Helen pun sama dengan halnya Cassandra yang terkejut, karena ia tidak menyangka akan bertemu dengan keponakan nya itu di hutan rimbun kematian.


"Bagaimana kamu bisa sampai ke hutan kematian? apakah kamu tidak tahu bahwa hutan itu sangat berbahaya bagi manusia?" tanya Helen yang khawatir.


"Tapi bibi juga berada di sana tadi, seharusnya jika bibi tahu betapa berbahayanya hutan itu, bibi tidak akan pergi kesana."


Raut wajah Helen seketika berubah menjadi sedih setelah mendengar perkataan itu dari Cassandra, karena sekarang ia bukan lagi seorang manusia melainkan dirinya yang sudah berubah menjadi seorang vampir.


Helen mengusap halus rambut Cassandra, "Bibimu ini sekarang bukan lagi manusia, ada seorang vampir yang telah mengubah bibi kenjadi seperti ini. Cassandra ayo, aku akan membawamu ke rumah ku."

__ADS_1


Dengan senang hati Cassandra langsung mengikuti bibinya itu, walaupun sebenarnya ia sangat terkejut ketika mendengar bahwa bibinya telah berubah menjadi seorang vampir, tapi mengapa hal itu bisa terjadi? bukankah butuh kekuatan yang sangat besar untuk mengubah manusia menjadi seorang vampir.


Di perjalanan Helen bercerita bahwa selama ini ia sengaja memalsukan kematian nya, karena ia malu jika harus memperlihatkan dirinya yang bukan lagi manusia kepada ibu dan ayah Cassandra.


Dahulu ia pergi ke kutub selatan yang bersalju untuk menemukan buah Diksi yang dapat mengubahnya kembali menjadi manusia, dan singkatnya ketika ia sudah menemukan buah langka itu, ia bertemu dengan seorang anak laki-laki yang sama-sama bertujuan untuk mencari buah Diksi, namun sayang nya buah yang mereka cari itu hanya tinggal satu.


"Hey nak! apa yang kamu lakukan di sini? sebentar lagi akan terjadi badai salju, ayo kita turun," teriak Helen.


"Tidak kak! aku harus ke puncak untuk mengambil buah langka, apakah kamu tahu tempat buah Diksi tumbuh?" jawab anak laki-laki itu.


Helen mendekat ke arah anak laki-laki itu dan bertanya, "Untuk apa kamu mengambil buah Diksi?"


"Untuk Ibuku, ia terkena efek bulan merah, tubuhnya sangat kurus, dan sifatnya seperti binatang buas, satu-satunya jalan untuk mengembalikan ibuku seperti semula adalah memberikan buah Diksi itu."


Helen sangat tersentuh dengan tekad yang dimiliki oleh anak laki-laki itu. Tanpa basa-basi ia pun mengajaknya turun dari pegunungan bersalju, dan rela memberikan buah Diksi yang telah susah payah ia dapatkan untuk di berikan kepada ibu dari anak laki-laki itu.


"Dan kamu tau Cassandra, anak laki-laki yang bibi temukan di pegunungan saat itu kini sudah tumbuh menjadi pria yang sangat cerdas, dan dia seusiamu. Namanya adalah Adrian Orfias," ujar Helen yang menceritakan semua hal itu kepada Cassandra.


"Dari pada kamu penasaran, bibi akan mempertemukan kalian langsung, okay?"


"Hah?! apakah itu boleh?" tanya Cassandra sekali lagi.


"Tentu saja."


Singkatnya, Helen membawa Cassandra ke dalam markas persembunyian para manusia yang telah ia latih sejak beberapa tahun yang lalu untuk menyerang kaum vampir.


"Di sinilah bibi tinggal, di dalam gua yang dingin ini," ujar Helen sambil menggenggam tangan Cassandra.


Ketika Cassandra baru saja memasuki gua itu, para manusia yang ada di sana seketika langsung memberi hormat kepada Helen, dan bertanya tentang siapa wanita yang ia bawa.


"Semuanya! dia adalah keponakan ku, Cassandra! jadi kalian harus memperlakukan nya dengan baik," seru Helen.

__ADS_1


"Baik pendeta ... !!" jawab mereka secara bersamaan.


Cassandra langsung di bawa oleh Helen untuk di pertemukan dengan Adrian, namun ketika mereka sudah bertemu Cassandra melihat Adrian yang sedang mengganti perban luka yang ada di perutnya.


"Adrian, lihatlah siapa yang aku bawa kesini," ujar Helen.


"Siapa? pasti kamu membawa anak manusia lagi untuk di latih," jawab Adrian yang sedang fokus mengganti perban di perutnya.


"Lihatlah dulu," ujar Helen.


"Cassandra!" ujarnya yang begitu sangat terkejut ketika melihat sosok Cassandra yang tiba-tiba datang di hadapan nya, jantung nya begitu berdegup dengan sangat kencang saat melihatnya.


"Mengapa kamu mengenaliku? Ouh, apakah kamu adalah sosok pria berjubah hitam yang memberikan belati emas itu padaku?" tanya Cassandra.


"Iyah, dia di perintahkan olehku untuk memberikan belati itu padamu, karena aku takut kamu akan di serang oleh para vampir itu," jawab Helen.


Adrian dengan spontan langsung menunduk, dan memberikan hormat kepada Cassandra walaupun luka di perutnya masih terasa sangat sakit, "Salam padamu, Cassandra."


"Ah ... apa yang kamu lakukan! apakah kamu tidak merasa sakit? tidak usah memberi hormat padaku," ujar Cassandra yang langsung membantunya untuk kembalo duduk.


Luka yang ada di perut Adrian tidak kunjung sembuh di karenakan air mawar putih yang sedang di buat oleh Helen begitu lama untuk di buat.


"Kak Helen, apakah airnya sudah kamu persiapkan?" tanya Adrian.


Helen langsung mengeluarkan sebotol air besar yang begitu jernih dan juga harum dari tasnya, "Ini, maaf karena kemampuan ku sudah mulai berkurang, semua ini karna diriku yang beberapa bulan lagi akan berubah sepenuhnya menjadi seorang vampir murni, jadi aku tidak bisa membuatkan mu begitu banyak air mawar putih, pergunakanlah dengan baik."


Cassandra jadi Faham, ternyata air yang mengalir di tangan nya itu adalah senjata terkuat yang di miliki oleh kaum manusia untuk meruntuhkan bangsa vampir, tapi ia masih belum faham mengapa bibinya itu mempunyai kekuatan seperti itu.


Bersambung .....


__ADS_1


__ADS_2