
Walaupun Vivian tumbuh tanpa sosok kedua orang tuanya, akan tetapi ia selalu menjaga sikap, dan selalu mempelajari hal-hal baik lainnya.
Namun sering kali ketika ia masih kecil anak-anak vampir lain selalu mengolok-oloknya dikarenakan ia yang tidak memiliki orang tua di sisinya, akan tetapi walaupun begitu Vivian masih mempunyai pelayan setianya yang selalu memberikan suport terbaik padanya.
Hingga pada akhirnya masa hukuman ayahnya telah usai, Vivian sangat menanti kepulangan ayahnya itu. Semenjak hari kebebasan Carlos, dirinya dan Vivian hidup bahagia di rumah besarnya, akan tetapi Carlos selalu menolak untuk keluar rumah, karena ia memilih untuk tetap di asingkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Singkatnya Vivian sudah sampai di rumah nya, Carlos langsung menyambut kepulangan putrinya itu dengan hangat, karena ia adalah sosok ayah yang sangat lembut dan juga penyayang.
"Selamat datang putri kesayangan ku, bagaimana dengan harimu?" tanya Carlos pada Vivian.
"Hari ini cukup baik di bandingkan hari sebelum nya, aku punya teman baru," jawab Vivian dengan raut wajah yang sumringah.
Carlos sangat senang ketika mendengar putrinya itu berhasil mendapatkan teman baru, "Syukurlah, semoga dia lebih baik dari teman-teman mu yang sebelum nya."
__ADS_1
"Tentu saja ayah! dia sungguh sangat ... baik."
"Baiklah kalo begitu ... Uhuk! Uhuk!" penyakit sesak nafasnya mulai kambuh lagi.
Namum dengan sigap seorang pelayan langsung membawakan alat bantu pernafasan kepada Carlos, "Tuan! cepat pakai ini."
Syut ... Syut ...
"Terimakasih Damian, kamu selalu sigap dalam hal apapun, maka oleh sebab itu aku selalu ingin kamu yang menjaga Vivian. Aku sudah tidak bisa melindunginya seperti dahulu, karena umurku yang sudah tua," ujar Carlos.
Damian tersenyum ketika mendengar hal itu dari Carlos, "Sayapun akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga nona."
Damian sudah seperti layaknya kakak laki-laki Vivian, ia selalu menjaga Vivian dengan baik, dan ia pun selalu membantu Vivian di saat ia di bully oleh teman-teman nya saat kecil.
Maka oleh sebab itu ketika Carlos sudah bebas dari hukuman nya ia tidak lagi menganggap Edward sebagai pelayan nya, akan tetapi sebagai saudaranya karena jasanya bertahun-tahun untuk merawat putrinya itu tidak bisa di bayar hanya dengan uang.
__ADS_1
Namun entah kenapa Vivian mulai sedikit menjauh dari Damian ketika ia berumur enam belas tahun, padahal pada saat itu Damian tidak pernah melakukan kesalahan yang besar pada Vivian.
"Ayah aku pergi dulu ke kamar," ujar Vivian, yang dengan segera pergi menuju kamarnya.
Damian merasa sangat sedih ketika Vivian pergi begitu saja ketika ia telah membantu ayahnya, ia hanya bisa bergumam di dalam hatinya mengenai hal itu, "Vivi ... sebanarnya apa yang telah terjadi? kenapa kamu berubah begitu lama, apa salahku padamu?"
Raut wajah sedih Damian begitu terlihat jelas oleh Carlos, dan ia pun mencoba untuk memahaminya, "Sudahlah Damian ... jangan di fikirkan terlalu dalam, sekarang bantu aku berjalan ketaman oke? Edward sudah menungguku untuk menanam bunga."
Damian seketika langsung menghapus raut wajah sedihnya itu dengan senyuman, "Hahaha ... aku tidak apa-apa kok Tuan, mari aku bantu Tuan untuk berjalan."
"Apakah aku perlu berbicara pada Vivian mengenai sikap buruknya tadi?" tanya Carlos.
Damian seketika panik dengan pertanyaan yang di ajukan oleh Carlos padanya, ia tidak mau nantinya Vivian semakin menjauh darinya karena nasihat Carlos, "Tidak usah Tuan! E-eh... maksudku tidak perlu Tuan."
"Hahaha baiklah-baiklah."
__ADS_1
Carlos sebenarnya sudah merasa bahwa ada getaran cinta diantara mereka berdua hanya saja keduanya masih belum bisa saling mengungkapkan perasaan nya itu. Terutama mungkin bagi Damian, karena ia merasa bahwa dirinya hanya anak dari seorang mantan pelayan di rumahnya dan merasa tidak pantas jika bersanding dengan Vivian.
Bersambung .....