
Malam semua berjalan dengan panjang sekali membuat Malisa merasa bahwa dirinya tidak akan bisa tertidur sama sekali, belum lagi Katy yang secara konstan dan terus-menerus menangis oleh secara langsung membuat Malisa merasa semakin frustrasi seiring waktu berjalan.
"Apa yang harus aku lakukan saat aku tidak bisa tertidur seperti ini?" gumam Malisa dengan suara yang parau.
Wanita tersebut tentu saja tidak dapat tertidur, di mana dirinya memang tidak mungkin memukul anaknya sendiri, tetapi di saat yang sama tidak mungkin juga meminta Doni yang sudah menolaknya mentah-mentah untuk melakukan sesuatu yang baik setidaknya untuk kebaikan Katy sendiri.
Malisa hanya bisa melewati malam yang dipenuhi dengan isak tangis anaknya itu dengan cara menatap langit-langit kamar, menahan sesak di tempat tidur yang ia tempati seorang diri tanpa dapat berbuat banyak dan tanpa bisa tertidur sama sekali mengingat betapa berisiknya seorang Katy kalau itu.
Malisa tentu saja merasa tersiksa, dirinya frustrasi mendengar suara itu tetapi dirinya tentu saja tidak dapat berbuat banyak mengingat putrinya sendiri tidak mungkin ia pukuli seperti Doni memukuli dirinya ketika Malisa tidak melakukan apa yang diminta oleh laki-laki tersebut.
Ekspresi marah yang diperlihatkan Doni terhadap wanita tersebut sebelumnya seolah membuat perasaan sakit di hati Malisa seolah meningkat seiring waktu berjalan, belum lagi kemungkinan di mana Doni bisa saja benar-benar memberikan sebuah tamparan yang mungkin saja akan benar-benar terasa sangat sakit baik di hati maupun fisik Malisa kala itu.
Pagi seolah tiba dengan sangatlah lambat sekali bagi seorang Malisa, di mana wanita yang malang tersebut benar-benar merasa bahwa tidurnya pada malam sebelumnya terasa sangat kurang. Mata wanita tersebut bahkan terlihat sedikit memerah dengan lingkar hitam di sekeliling matanya menandakan betapa lelahnya Malisa pada malam sebelumnya dan betapa stressnya Malisa selama ini melihat apa yang telah dilakukan oleh Mona dan Doni terhadap dirinya.
"Ugh ... kepalaku terasa pusing sekali, tak biasanya sakit seperti ini ...." Malisa mengeluh pelan seraya mengusap kepalanya sendiri, memijat pelipisnya yang terasa sangat pusing dan tubuhnya yang entah mengapa pada saat itu terasa benar-benar lemas. Dengan hati-hati, wanita yang satu itu bangkit dari tempat tidurnya lantas keluar dari kamar Malisa merasa bahwa dirinya harus mengajak Keti untuk jalan-jalan di taman rumahnya sendiri agar anak kesayangannya tersebut dapat menghirup udara pagi yang terasa segar.
__ADS_1
Entah bagaimana, disaat yang sama secara kebetulan saja Malisa melihat bahwa mobil milik Dokter Dimas masuk ke dalam pekarangan rumah mereka, tampaknya Dokter Dimas hendak melakukan visit harian kepada Katy yang baru saja sembuh dari demam berdarahnya, sesuatu hal yang normal dilakukan oleh seorang Dokter macam Dimas.
"Selamat lagi, Dokter Dimas." Malisa menyapa laki-laki yang satu itu seraya memasang senyum tipis, seolah wanita tersebut merasa sedikit senang atau kedatangan Dokter Dimas adalah kediamannya walau Hal tersebut dilakukan oleh Dokter Dimas hanya untuk sekadar mengunjungi dan memeriksa kondisi Katy yang baru saja sembuh dari kondisi sakitnya.
"Pagi juga."
Tentu saja dengan tidak kalah ramah Dokter Dimas juga membalas sapaan tersebut, di mana kali ini laki-laki yang satu itu hanya menganggukkan kepalanya seadanya karena Dokter Dimas sendiri merasa tidak tahu apa yang harus ia katakan kepada Malisa sembari melihat Katy yang berada di dalam gendongan Malisa.
Dokter Dimas memasang senyum tipis, memang apa yang dilakukan oleh Malisa selama ini merupakan sesuatu yang tepat, di mana wanita tersebut memperhatikan segala asupan gizi yang dibutuhkan oleh Katy sekaligus menyayangi anak tersebut sesuai dengan apa yang seharusnya Malisa lakukan walau semua hal tersebut dilakukan oleh Malisa tanpa sedikitpun dukungan yang diberikan oleh Doni yang merupakan suaminya sendiri sekaligus ayah kandung dari Katy.
"Dia masih suka menangis, mungkin karena masih sakit?" tanya Malisa.
Dokter Dimas mengangguk paham, tentu saja ia tahu apa yang Katy rasakan dan alami. Dokter Dimas mengusap kepala Katy dengan lembut.
Setelah berbincang-bincang sederhana dan singkat dengan Malisa, Dokter Dimas pun mulai memeriksa kondisi Katy yang berada di dalam gendongan Melissa di mana ketika menyadari bahwa kondisi Katy sudah lebih membaik, tentu saja hal tersebut membuat Dokter Dimas merasa lebih senang.
__ADS_1
"Em, ada apa dengan kamu, kenapa kau seperti-" Dokter Dimas tidak melanjutkan perkataannya yang membaut Malisa bingung.
"Ada apa?" tanya Malisa.
Dokter Dimas menggeleng, entah apa yang ingin dokter Dimas katakan, tetapi hal itu mampu membaut Malisa penasaran.
Tanpa sadar dokter Dimas tersenyum tipis, ya, walau sepertinya ada yang mengganjal perasaannya, namun pria itu sangat senang karena punya banyak waktu kali ini.
Selain itu laki-laki yang satu itu juga merasa lebih senang lagi ketika dirinya bisa melihat wajah Malisa lebih lama dibandingkan dari biasanya walau kali ini wajah Malisa terlihat jauh lebih pucat dan kantung matanya terlihat jauh lebih hitam dibandingkan terakhir kali Dokter Dimas melihat wanita yang malang itu.
Namun tepat setelah Dokter Dimas menyelesaikan tugasnya dalam hal memeriksa kondisi kesehatan Katy, tiba-tiba saja Dokter Dimas merasakan bahwa tubuh Malisa mulai terlihat bergoyang hingga akhirnya pada akhirnya wanita yang satu itu secara tiba-tiba saja jatuh pingsan dan nyaris saja turut mencelakai Katy yang berada di dalam gendongannya tepat di taman kediaman mereka tersebut, membuat Dokter Dimas merasa cukup terkejut dan secara serta-merta langsung mengambil Katy agar anak yang satu itu tidak sampai mengalami cedera sama sekali lantas menyerahkan Katy terlebih dahulu kepada Mona yang berada di sekitar mereka. "Astaga Malisa!"
Dokter Dimas emudian membawa Malisa untuk dibawa oleh laki-laki yang satu itu ke rumah sakit dan tepat setelah Dokter Dimas meletakkan Malisa di belakang kursi mobilnya laki-laki yang satu itu lantas mengambil kembali Katy dan membawa anak yang satu itu untuk turut dibawa ke rumah sakit agar Melissa tidak perlu merasa sedih karena dipisahkan dari putri kecilnya itu.
Mona yang menyadari bahwa kondisi fisik Malisa seolaj semakin memburuk seiring waktu waktu berjalan alih-alih memutuskan untuk bersikap peduli wanita yang satu itu justru bersikap acuh tak acuh bahkan cenderung tidak peduli sama sekali membuat Dokter Dimas tentu saja merasa sedikit geram dan ingin rasanya memukuli Mona tetapi profesinya sebagai seorang Dokter seolah menahan hal tersebut agar tidak terjadi sama sekali kepada seorang Mona.
__ADS_1
Di saat ini Dokter Dimas seolah-olah sangat bersyukur bahwa profesinya sebagai Dokter seolah menahan diri bagi lelaki tersebut agar tidak memukuli di Mona maupun Doni yang telah bersikap Seenaknya saja terhadap Malisa yang diam-diam ia letakan perasaan terhadap wanita tersebut.