Pelakor itu Babysitterku

Pelakor itu Babysitterku
Lelah


__ADS_3

Ya terlepas dari apapun, mengapa tidak ketika orang tuanya masih muda, ayah dan ibunya memutuskan untuk menabung di hari tua karena mungkin saja penyakit-penyakit semacam ini tidak akan dapat diketahui apakah dapat disembuhkan atau tidak dan pengobatannya sulit atau tidak yang membutuhkan biaya besar atau tidak.


Tidak jarang Malisa merasa frustrasi setengah mati, karena ibunya yang sakit-sakitan itu membuat wanita yang malang tersebut secara mau tidak mau tetap bertahan di kediaman Doni menahan rasa sakit di hatinya sendiri yang rasanya setengah mati.


Rasa frustrasi, kesal, dan marah serta depresi yang disimpan oleh Malisa seolah-olah semakin menumpuk seiring waktu berlalu, membuat wanita yang malang tersebut semakin tidak dapat menahan dirinya sendiri, dan hanya dapat pada akhirnya menangis seperti anak kecil ada situasi tertentu terutama di malam hari dirinya merasa frustrasi dan gagal di mana seharusnya ketika dirinya menjadi Ibu yang baik dan istri yang baik alih-alih demikian di wanita yang malang tersebut, Malisa justru malah dijadikan pembantu oleh suami sahnya sendiri sekaligus istri kedua yang merupakan mantan baby sitter putrinya sendiri.


Bukankah itu sebuah Ironi yang sangat-sangat menyakitkan tetapi itulah kenyataannya membuat Malisa merasa frustrasi tapi di saat yang sama tidak dapat berbuat banyak.


Bahkan dapat dikatakan bahwa saking stresnya wanita yang malang tersebut tidak jarang Malisa kesulitan untuk menyusui anaknya sendiri bahkan untuk tidur dan makan saja dirinya kesulitan membuat Malisa tidak bisa secara optimal mengurus Katy dan tidak jarang membuat Katy merasa turut tersiksa dengan kondisi yang ada sehingga anak yang malang tersebut secara konstan dan terus-menerus menangis.

__ADS_1


Tidak jarang saking stresnya Malisa di kediaman tersebut, wanita yang malang tersebut sampai tidak mau makan sama sekali minum obat dan lain sebagainya membuat dirinya mengidap depresi yang dapat dikatakan cukup berkepanjangan hanya karena apa yang terjadi pada saat itu Doni juga semakin bersikap tidak peduli akan membuat apa yang telah terjadi di dalam kehidupan pernikahan di antara Malisa maupun Doni seolah-olah terasa semakin berat saja seiring waktu berjalan membuat wanita yang satu itu merasa semakin tidak tahu lagi harus berbuat seperti apa dan bagaimana dan secara mau tidak mau mengikuti arus yang ada.


Ingin rasanya Malisa melemparkan segala sumpah serapah yang ia miliki kepada Doni maupun Mona, di mana dirinya sama sekali tidak menyangka bahwa pengkhianatan paling sakit yang akan dia rasakan justru berasal dari keluarga tersayangnya sendiri di mana Malisa selama ini berjuang mati-matian untuk keluarganya itu.


Memang Malisa sendiri tahu betul bahwa dapat dikatakan bahwa memang benar Doni yang membiayai seluruh kehidupan pribadi keluarga kecil mereka berikut dengan biaya pengobatan yang dibutuhkan oleh orang tua Malisa, tetapi Malisa sendiri masih tidak dapat menyangka bahwa alih-alih Doni menyayangi dan menghormatinya selaku istri daripada umumnya laki-laki yang satu itu justru jauh lebih memilih mendua dengan babysitter lain yang bahkan tidak dapat dikatakan tidak memiliki kemampuan yang cukup setara dengan kemampuan yang telah dimiliki Malisa selama ini.


Rasanya sakit, sangat sakit hati terutama ketika Doni dapat secara serta-merta dan dengan mudahnya mengizinkan Mona bertindak sesuka hatinya dan berlaku selayaknya istri sah terhadap Malisa yang justru merupakan istri sah dari Doni tersebut di mana pada kenyataannya status Mona di sini hanyalah merupakan istri siri sekaligus istri kedua Doni yang tidak dinikahi secara negara sama sekali.


Menurut Malisa, bagaimana bisa Doni membuangnya semudah itu setelah apa yang telah dilalui oleh wanita tersebut juga laki-laki yang satu itu di dalam pernikahan mereka belum lagi jika tadi merupakan wanita yang setara dengan Malisa, rasanya wajar sekali jika Doni memutuskan untuk mendua dari Malisa tetapi ketika pada kenyataannya bahwa Mona bahkan tidak ada setengah maupun seperempatnya dari seluruh harga diri dan kemampuan Malisa, membuat Malisa merasa bahwa apa hal yang terjafi seolah-olah menjadi penghinaan terbesar bagi seorang Malisa dimana bagian mana bisa wanita hebat seperti dirinya kalah hanya dengan seorang babysitter yang kebetulan bersertifikasi yang pernah ia tugaskan untuk merawat putri kecilnya tersebut.

__ADS_1


Bahkan tentu saja semua orang curiga bahwa Mona hanya mempergunakan Doni sebagai ATM berjalan, tetapi mau bagaimanapun seorang Doni yang sangat-sangat keras kepala, tentu saja akan sangat sulit untuk diberikan penjelasan yang dapat dikatakan cukup masuk akal mengenai apa yang dilakukan oleh Mona, tetapi mau bagaimanapun Malisa hanya dapat menerima semua hal tersebut dengan pasrah eraya menahan diri untuk tidak menangis secara konsisten dan terus-menerus agar dirinya tidak jatuh sakit sama sekali.


Rasanya hancur sekali bagi seorang Malisa di mana walau dirinya tahu bahwa kemungkinan besar Mona menggunakan Doni hanya sebagai uang dan dompet berjalan, tetapi di sisi yang sama dirinya tidak dapat berbuat banyak karena Doni sudah pasti tidak akan mau mendengarkannya dan tentu saja akan jauh lebih memilih istri keduanya yakni Mona yang menurut laki-laki tersebut jauh lebih dapat dipercaya dibandingkan Malisa yang merupakan istri sahnya sendiri.


Ya apapun itu pada saat ini Malisa tidak ingin terlalu memikirkan tentang masalah yang terjadi di antara dirinya dan Mona maupun Doni, di mana wanita tersebut pada akhirnya sadar bahwa tidak ada gunanya juga memikirkan tentang orang-orang macam Doni maupun Mona yang pada akhirnya tentu saja hanya akan menyakiti hati wanita tersebut.


Wanita yang malang itu akhirnya memutuskan untuk mengubah cara pikirnya dengan pola pikir yang lebih baru di mana dirinya akan memutuskan untuk mulai mencari pekerjaan secara perlahan-lahan jika dirinya mampu dan bisa lantas memikirkan siasat yang baik agar Melissa dapat secara perlahan-lahan pergi dan menjauh dari keluarga Doni terutama Doni dan Mona, di mana mereka berdua seolah-olah sudah menciptakan luka yang demikian besar di hati Malisa dan seolah-olah sudah menyia-nyiakan Malisa sejauh jauhnya seolah-olah Malisa tidak ada harga dirinya di hadapan kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut.


Ketika malam tiba, seisi rumah sudah gelap gulita. Bukan karena Doni tidak mampu membayar listrik, dia memang menyukai apabila suasana siang tidak menginap di rumahnya kala malam. Hanya lampu-lampu di luar rumah yang masih menyala, menjadi pagar cahaya yang seakan-akan memisahkan rumah tersebut dengan gelapnya dunia luar. Sambil berselimutkan gelap, semua tertidur pulas, kecuali satu orang.

__ADS_1


__ADS_2