
Hanya saja saat ini posisinya sedikit bergeser karena menjadi asisten pribadi dari calon adik iparnya.
Malisa pun berkutat dengan komputer yang ada di hadapannya. Ia hanya sendiri sementara di rumah itu ia yakin ada Bu Mirna juga. Tapi rumah yang sangat besar sampai tak terdengar suara kecuali kicauan burung yang terdengar samar.
Saat jam makan siang, Malisa tak terasa pembantu rumah tangga ke sana.
"Bu, diminta untuk makan siang di bawa bersama Bu Mirna," ucap pembantu tersebut.
"Oh iya. Terima kasih. Setelah ini saya turun, ya?" sahut Malisa. Ia pun bergegas turun ke lantai bawah melalui lift yang ada di sana. Sebelumnya Malisa juga tak tahu kalau ada lift di depan dan menghubungkan ke ruang kerja pribadi di rumah itu.
"Nah, ayo makan siang dulu, Malisa!" ajak Bu Mirna. "Bagaimana kerja pertama mu hari ini?" tanyanya.
"Menyenangkan. Antoni memberikan tugas yang harus selesai hari ini," jawab Malisa.
"Iya, ya sudah. Kamu bisa makan dulu, ya?" sahut Bu Mirna.
Malisa seperti sedang berada di lingkungan yang sangat kondusif. Jauh dari sesuatu yang membuatnya tak tenang.
Dimas mengatakan hari ini juga tak bisa mengantarkan Malisa untuk pulang karena ada pasien yang butuh penanganan lebih. Jadi Malisa harus pulang dengan supirnya Pak Hans lagi.
Hari itu pun Malisa berhasil menyelesaikan pekerjaan dan esok ia pun harus memberikan laporan pada Antoni. Ia pun pulang dengan supirnya Pak Hans.
Saat sampai di rumah Mayang pun menyambut seperti biasa.
''Sudah datang, Bu," sapa Mayang.
"Sudah, menyenangkan sekali," sahut Malisa.
Mayang memberikan secara kertas untuk Malisa.
[Setelah ini ada hal yang ingin saya sampaikan. Tapi tolong tenang, ya! Jangan katakan apapun! Karena rumah ini sedang disadap.]
__ADS_1
Malisa terkejut dengan ucapan itu. Ia pun mengangguk saja. Ia yakin Mayang tak akan berbuat jahat kepadanya.
Malisa pun mandi dan berganti pakaian. Ia juga sudah tak sabar untuk menunggu berita dari Mayang. Malisa pun menyanyi seakan tak ada apapun.
"Bu setelah ini bagaimana kalau kita jalan-jalan ke mall?" tanya Mayang. Ia kemudian kembali memberikan secara kertas pada Malisa. Mata Malisa membulat sempurna. Tapi ia pun harus menjawab pertanyaan Mayang.
"Oke, sebentar ya, aku masih sedikit capek. Setelah aku siap aku akan memanggilmu," sahut Malisa.
Mayang pun meninggalkan Malisa di kamarnya.
Sementara itu Dimas yang masih di rumah sakit baru saja menerima pesan dari Malisa. Ia cukup terkejut dengan isi pesan Malisa. Ia harus mengikuti kemana Malisa akan pergi. Tetapi ia tak boleh sendiri. Karena itu cukup berbahaya. Bukan hanya untuk Malisa melainkan untuk dirinya juga.
Awalnya rencana Mayang mengajak Malisa ke mall, tapi Mayang justru pun berangkat ke sebuah rumah yang tak tahu dimana.
"Kita kemana, Mayang?" tanya Malisa.
"Sudah, kamu diam saja!" jawab Mayang kemudian menarik Malisa ke dalam rumah tersebut.
Malisa melihat Angel ada di sana. Mayang pun menyeringai.
"Hai, apa kabar mu? Yah, berhubung kamu sudah datang ke sini maka aku akan menyambut kedatangan mu dan masuklah!" ucap Angel.
"Tidak. Aku mau pulang," tolak Malisa. Ia kemudian hendak pergi tapi tangannya diraih oleh Mayang.
"Kamu harus ada di sini, Bu Malisa," ucap Mayang.
"Mayang, kenapa kamu berkhianat? Aku kira kamu orang baik," tanya Malisa.
"Yah, kamu terlalu percaya kepadaku. Itu lah yang terjadi saat ini. Jadi ayo masuk!" perintah Mayang. Mayang benar-benar berubah. Ia tak seperti Mayang yang lemah lembut. Benar-benar kasar. Malisa pun sampai tak mengenal Mayang.
Malisa kemudian dibawa masuk ke dalam rumah tersebut. Ia kemudian di tali tangan dan kakinya di sebuah kursi. "Lepaskan aku!" teriak Malisa.
__ADS_1
Tapi justru Mayang dan Angel tersenyum bahkan sampai tertawa terbahak-bahak. Malisa sampai meneteskan air mata. Ia tak kuasa menahan sakit di kaki dan tangannya karena mendapatkan perlakuan kasar oleh Angel.
"Kenapa kalian tega padaku?" tanya Malisa lirih.
"Oh, jadi kamu mau tahu aku kenapa, hah? Itu semua karena perbuatan mu sendiri, Malisa. Sudah aku bilang aku punya uang untuk bisa melakukan apapun untukmu," jawab Angel.
"Jangan berbelit! Katakan kenapa kamu melakukan ini semua padaku? Aku tak pernah mengenal mu sebelumnya. Tapi kenapa kamu justru seperti dendam padaku. Aku punya salah apa padamu?" tanya Malisa lagi. Cairan bening pun keluar dari ujung netranya dengan makin deras.
"Ya, karena kamu telah memunculkan wajahmu di hadapan ku. Kamu itu hanya janda. Anakmu juga sudah mati. Jadi apa yang kamu pertahankan untuk hidup? Lebih baik kamu mati saja menyusul anak dan juga orang tuamu itu. Kamu hanya menyusahkan hidup orang lain saja," jelas Angel dengan memegang pipi Malisa kemudian ia tampar sampai Malisa meringis kesakitan.
"Jahat kamu, Angel. Kenapa bisa kamu ada untuk menggangguku? Padahal aku sama sekali tak pernah mengusikmu." Malisa masih saja terus mencerca Angel. Padahal dirinya begitu kesakitan.
"Oh ya? Apakah kamu lupa kalau aku pernah mengatakan sebelumnya. Saat kamu dilamar oleh Dimas maka kamu akan mengajukan syarat untuk aku bisa menikah dengan Antoni. Kenapa kamu tak melakukan hal itu dan kenapa kamu diam saja?" Angel makin marah saja. Wajahnya berubah jadi merah padam.
"Jadi itu masalahnya?" Malisa tak habis pikir dengan Angel. Padahal itu juga masalahnya dengan Antoni kenapa ia juga turut serta.
"Bukan hanya itu. Kamu sebenarnya wanita apa? Kamu menerima pekerjaan sebagai asisten pribadi Antoni padahal kamu akan menikah dengan kakaknya. Apakah kamu akan mengambil Kakak dan adiknya sekaligus, hah?" Angel baru saja menendang kursi yang diduduki oleh Malisa sampai membuat Malisa terkejut.
"Aku menerima pekerjaan itu karena aku butuh pekerjaan. Rumahku terbakar dan usahaku juga hangus," jelas Malisa.
"Hahaha. Kenapa nggak sekalian kamu yang hangus juga?" dengus Angel.
"Jadi kamu mau aku mati?" tanya Malisa.
"Ya," Angel pun tertawa terbahak-bahak bersama dengan Mayang.
"Oh, jadi karena itu kamu dendam padaku? Lalu apa yang akan kamu lakukan kepadaku?" tanya Malisa lagi.
Mayang pun mengambil sesuatu di dalam sakunya. Ternyata ia mengeluarkan sebuah jarum suntik. "Kamu tahu ini apa?" tanya Mayang.
"Ini adalah cairan untuk suntik mati. Dimas paham dengan ini! Jadi kamu nggak usah banyak bicara!" imbuh Angel.
__ADS_1
Mayang langsung menancapkan jarum itu do paha Malisa dan Malisa begitu kesakitan. "Aduh, kenapa kamu jahat sekali?" keluh Malisa.
"Sebentar lagi nyawamu akan melayang setelah obat itu menyebar," ucap Angel.