
Sherly merasa bingung. Ia kemudian berjalan mundur karena hampir ada 10 anak buah Pak Hans ada di sana. Dimas juga baru menyadari kalau orang-orang itu ada di pihaknya. Ia sedikit lega. Ia kemudian merangsek masuk ke dalam rumah tersebut untuk mencari keberadaan Malisa dan Katy.
Rumah berlantai dua itu kemudian Dimas cari. Sampai di kamar pojok belakang di lantai dua Dimas tak bisa membukanya. Ia kemudian mendobrak pintu tersebut dan memang ada Malisa dan juga Katy di sana. Tetapi kondisinya tak sadarkan diri.
Dimas membangunkan Malisa dengan cara menepuk nepuk pipi Malisa. Ia juga mengecek kondisi Katy hanya saja Katy terlihat begitu lemah. Dimas jadi khawatir pada Katy.
Malisa kemudian sadar. Ia melihat ada Dimas di sana. "Mana Katy?" tanya nya.
Dimas sedang menggendong Katy saat itu. Malisa langsung mengambil Katy dari tangan Dimas.
"Ayo kita pergi dari sini, Malisa!" ajak Dimas.
"Sudah aku katakan kalau berhubungan denganmu akan membuat masalah. Benar kan?" dengus Malisa.
"Ya, aku minta maaf. Tapi saat ini ayo kita pergi dari sini! Tempat ini tak aman. Kita harus membawa Katy ke rumah sakit," lanjut Dimas. Tak peduli Malisa marah dengannya saat ini tapi yang paling penting adalah saat ini Katy lah yang utama.
Dimas kemudian membawa Malisa keluar dari rumah tersebut. Masih ada Sherly yang diikat oleh anak buahnya Pak Hans. Bu Mirna juga ikut dengan Dimas.
Mereka menuju ke salah satu rumah sakit yang dekat di sana. Sebagai dokter memang Dimas memiliki kemampuan untuk memberikan pengobatan. Hanya saja saat ini ia tak memiliki alat bantu. Karena Katy butuh asupan.
Sampai di sana Malisa menemani Katy ke ruang UGD. Kebetulan dokter yang di sana juga kenal dengan Dimas.
"Dok, minta tolong untuk lakukan yang terbaik, ya!" pinta Dimas.
Teman dokter Dimas itu juga tersenyum. Ia memang akan melakukan yang terbaik. Sebagai dokter memang ada sumpah sebelum menjadi dokter untuk bisa mengabdi kepada masyarakat.
__ADS_1
Di ruang UGD Katy diberikan alat bantu pernapasan serta diberikan infus. Malisa hanya menangis melihat kondisi Katy. Ia sadar sejak tadi Katy memang belum minum ASI ataupun makan karena diculik oleh Sherly dan tidak diberikan apapun. Apalagi di sepanjang perjalanan mata Katy huga hanya tertutup dan tak mau diberikan ASI. Malisa masih saja terus khawatir. Ia hanya berharap kalau Katy bisa segera membuka matanya.
"Bu, boleh menunggu di depan? Dokter sedang melakukan perawatan," pinta perawat.
"Tapi saya mau menemani anak saya, sus. Saya janji nggak akan mengganggu proses itu," sahut Malisa.
"Ibu tenang saja, ya? Kami akan melakukan yang terbaik," balas perawat.
Berat rasanya Malisa akan meninggalkan Katy. Tapi untuk kebaikan Katy maka Malisa mau mengalah. Ia keluar dadu ruang UGD tersebut. Di sana ada Dimas.
"Malisa, kamu berdoa yang terbaik untuk Katy, ya?" ucap Dimas.
Malisa hanya terdiam. Ia hanya tak tega membiarkan Katy di dalam sana tanpa dirinya. Ia tak kuasa menahan air matanya. Harta berharga satu-satunya yang ia miliki saat ini hanya lah Katy.
"Ya, Dok. Bagaimana kondisi anak saya?" tanya Malisa.
"Mari ikut saya ke dalam!'' ajak dokter tersebut.
Dimas juga mengikuti Malisa masuk ke dalam sana.
"Bu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi takdir berkata lain kalau anak ibu telah meninggal baru saja," jelas dokter.
Deg.
Mata Malisa membualat sempurna. Ia menatap Katy sedang ditutup kain putih. "Tidak, anakku tidak meninggal. Tadi aku masih melihat kalau anakku hangat di pelukan ku. Kalian apakan anakku sampai dia bisa seperti ini, hah?"
__ADS_1
Bu Mirna memeluk tubuh Malisa. Malisa merasa lemas. Ia menangis dengan begitu perih yang dirasa. Ia tak menyangka kalau Katy akan dinyatakan meninggal.
Malisa kemudian menghampiri Katy dan membuka kain tersebut. Wajah mungil itu memang sudah tak mau membuka matanya. Malisa menangis dengan memeluk Katy. Bayi yang sangat ia sayang dan harta satu-satunya yang ia miliki di dunia ini saat ini telah meninggalkannya juga. Tak terasa Malisa akhrinya kehilangan kesadaran.
Tak berselang lama Malisa pun telah membuka matanya kembali. Ia menatap langit-langit ruangan tersebut. Ia kembali mengingat momen apa yang baru saja terjadi. Ia kemudian melihat kalau Dimas dan teman dokternya itu sedang berbincang di depan jenazah Katy. Malisa juga melihat kalau dirinya saat ini sedang diinfus. Ia mencabut infus tersebut dan kembali menuju ke Katy.
"Malisa, aku harap kamu sabar ya?" ucap Dimas.
"Sabar katamu? Aku membenci bertemu denganmu. Karena aku bertemu denganmu hidupku hancur. Karena tunanganmu itu menculik aku dan Katy sekarang aku harus kehilangan anakku. Aku sebaiknya ikut Katy saja. Aku tak mau dia sendirian di sana. Pergi kamu dari hidupku! Aku benci padamu." Malisa membawa jenazah Katy keluar dari ruang UGD. Dimas dan teman dokternya itu berlari mengejar Malisa. Mereka tak mau sampai Malisa benar-benar nekat.
Malisa yang sudah merasa benar-benar hidupnya hancur tak peduli. Ia berfikir akan mengikuti jejak bapaknya yang menyusul ibunya dengan cara yang tak terduga.
Dimas dan temannya itu berhasil mengejar Malisa sampai di lobby. Mereka meraih Katy dan juga Malisa. Malisa kembali kehilangan kesadaran.
Setelah Malisa cukup tenang, Malisa pun bisa mengikhlaskan kepergian Katy. Menurut penjelasan dokter Katy meninggal memang tak stabil sejak sebelum di rumah sakit. Katy jatuh dan membuat luka dalam sampai Katy tak bisa menahan hal itu.
Ditambah lagi kurangnya asupan yang membuat kondisi Katy makin melemah. Sebenarnya Dimas juga sudah khawatir akan hal itu. Ia tak mengatakan di awal saat Katy dirontgen. Tapi karena Sherly membawa Malisa dan juga Katy keadaan Katy makin memburuk.
Saat Dimas menemukan Katy pertama kali di rumah Sherly, Dimas melihat dan memeriksa kondisi Katy makin lemah. Dari denyut jantung juga sudah lemah.
Tetapi takdir berkata lain. Katy benar-benar telah pergi dan Malisa juga sudah kehilangan apapun. Ia merasa ingin menyusul Katy dan juga orang tuanya. Ia merasa tak ada yang perlu dipertahankan di dunia ini.
Malisa juga masih dirawat di rumah sakit sementara Katy telah dimakamkan. Pandangan Malisa masih saja kosong. Bu Mirna juga menemani Malisa di rumah sakit. "Malisa, kamu makan dulu, ya?"
Malisa tak merespon. Ia masih saja terdiam. Entah bagaimana Malisa melanjutkan hidupnya. Ia tak punya lagi semangat hidup. Lalu untuk apa lagi ia harus hidup?
__ADS_1