
Malisa menoleh. "Mayang."
"Iya, Bu Malisa. Apa kabar? Nggak nyangka bisa ketemu di sini," tanya Mayang. Ya, dia memang kadang suka beli makanan di sana. Meskipun cukup jauh tapi Mayang sudah berlangganan.
"Syukur baik. Kamu apa kabar?" balas Malisa.
"Baik juga, Bu. Oh ya, Pak Dimas mencari-carimu. Kasihan dia. Dia seperti kehilangan semangat. Senang bisa ketemu sama Bu Malisa. Nanti aku sampaikan sama Pak Dimas, ya?" sahut Mayang.
"Jangan, Mayang! Aku nggak mau lagi berhubungan dengan dokter Dimas. Kamu tahu kan kalau dokter Dimas juga sudah punya tunangan. Aku nggak mau dianggap sebagai perempuan yang nggak tahu diri. Aku pernah di posisi yang tak nyaman. Aku nggak mau juga dianggap janda gatel. Anggap saja kamu nggak pernah ketemu sama aku, ya? Aku mohon!" pinta Malisa.
Wajah Mayang pun berubah sendu. "Kenapa, Bu Malisa? Saya justru berharap kalau Pak Dimas bisa sama Bu Malisa saja. Karena Mbak Sherly itu menyebalkan."
"Oh ya, ngomong-ngomong apakah kamu tahu kalau perceraian saya sudah selesai? Katanya Sherly yang akan mengurus semua nya," tanya Malisa tanpa menjawab pertanyaan Mayang.
"Waktu itu sih saya dengar kalau Mbak Sherly sedang telepon seseorang. Tapi kurang tahu lagi sih saya telepon siapa. Dia bilang kalau sudah mengurus perceraian dan juga mem black list seseorang," jawab Mayang dengan mengingat-ingat.
Malisa menghela napas. Sepertinya ia paham kalau dalang semua ini adalah Sherly tapi dengan siapa Sherly menelpon? "Ya sudah kalau gitu. Cukup tahu saja aku. Itu adalah aku. Aku bahkan sudah di black list dari semua perusahaan. Aku juga nggak tahu, Mayang. Tapi aku mohon sama kamu untuk tidak membicarakan aku sama Dimas. Kalau kamu mau ketemu sama aku bisa di sini. Aku kerja di sini."
"Baiklah kalau gitu. Setidaknya saya tahu keberadaan Bu Malisa. Senang bisa ketemu. Lalu, Katy sama siapa, Bu?" tanya Mayang.
"Sama ibu kost ku," jawab Malisa.
__ADS_1
"Kapan-kapan aku mau main ke kost Bu Malisa, ya?" sahut Mayang.
Malisa yang merasa tak bisa terlalu lama ngobrol dengan Mayang akhirnya mulai melayani Mayang. Ia membawa pulang makanan tersebut karena Dimas saat ini juga tinggal di rumah kedua. Bukan rumah orang tuanya.
Mayang pulang dengan perasaan gembira. Walaupun memang hanya beberapa hari tinggal dengan Malisa dan Katy tetapi ia sudah sayang pada Malisa dan Katy. Tetapi ia juga harus memegang janji untuk tak mengatakan kepada Dimas tentang hal yang sebenarnya.
Sampai di rumah, Mayang menyiapkan makan siang di meja makan. Dokter Dimas juga hendak makan siang sebelum berangkat ke rumah sakit.
"Mayang, enak nih. Kamu beli dimana? Biasanya biasa aja," tanya Dimas. Ia merasa kalau masakan yang dibawa Mayang cukup enak dari biasanya.
"Sama seperti di biasanya saya beli, Pak. Mungkin yang masak aja yang ganti makanya enak," jawab Mayang seadanya. Ia juga tak tahu siapa yang memasak. Mungkin saja Malisa yang masak karena memang masakan Malisa cukup enak. Beberapa kali ia merasakan saat masih tinggal bersama.
"Wah, boleh lah kamu beli di sana lagi," sahut dokter Dimas. Bahkan ia makan nambah karena masakannya enak. Daging rendang adalah menu yang dibeli oleh Mayang tadi.
"Ah, entahlah. Aku bahkan tak peduli. Aku muak dengan Sherly. Dia terobsesi denganku padahal aku sama sekali tak ada perasaan sama dia. Tunangan juga hanya status tanpa ada perasaan apapun. Aku hanya menghargai ucapan ibuku saja. Selain itu juga nanti aku masih memikirkan bagaimana cara untuk mengakhiri hubungan ku dengan Sherly," jelas Dimas panjang lebar. Ia sudah lelah dengan sikap Sherly yang seakan tak bisa menerima penolakan yang Dimas berikan. Padahal Dimas juga sudah tak mau sejak lama tapi Sherly seakan tak mau melepaskan Dimas begitu saja. Banyak cara yang didapatkan untuk bisa mendapatkan Dimas.
"Bagaimana kalau nanti Pak Dimas ketemu sama Bu Malisa lagi?" tanya Mayang lagi.
"Aku juga sedang mencarinya, Mayang. Surat cerainya kan masih ditahan di pengadilan. Karena Sherly juga nggak bisa mengambil karena tak ada hak kuasa. Setahuku begitu," jawab Dimas. Ia memang bingung mencari Malisa kemana karena bak hilang ditelan bumi Malisa tak dapat ia temukan.
"Yah, kalau jodoh seperti nya sih bakal ketemu lagi meskipun terpisah ya, Pak," balas Mayang. Ia juga tak berani memberikan informasi pada Dimas mengenai keberadaan Malisa. Ia takut dengan Malisa karena akan dianggap tidak amanah.
__ADS_1
Di tempat lain.
Sherly sedang berada di cafe. Saat ini ia sedang bersama Doni, mantan suami Malisa.
"Apakah kamu berhasil mem black list Malisa?" tanya Doni.
"Tentu saja sudah. Itu semua mudah bagiku untuk melakukannya. Dan aku mau minta bayaranku," jawab Sherly.
"Itu juga mudah," balas Doni. Sherly meminta kalau sudah melakukan hal itu ia akan menerima bayaran uang yang cukup besar. Itu memang permintaan Doni agar Malisa tak bisa diterima di perusahaan mana pun. Doni merasa dendam pada Malisa karena telah membawa anaknya. Ia juga sudah mendengar kalau orang tua Malisa telah meninggal. Itu juga sudah ia prediksi. Karena ibunya Malisa bisa saja terkejut dengan berita perpisahan Malisa dengannya. Tapi ditambah bapaknya Malisa juga ikut bunuh diri. Ia bahkan merasa begitu puas dengan melihat Malisa sangat menderita. Doni hanya ingin membuktikan kalau Malisa tak akan bisa hidup dengan dirinya.
Mereka berdua melanjutkan transaksi yang sudah menjadi kesepakatan. Sherly kemudian meninggalkan cafe tersebut. Sementara Doni memilih pulang karena terlalu lelah dengan hari ini.
Sampai di rumah ia langsung menemui Mona.
"Mona, kamu sedang apa?" tanya Doni. Ia melihat Mona sedang sibuk di dapur.
"Ini, aku sedang membuat kamu makan malam. Kamu pasti lelah. Jadi kamu harus makan, ya? Sebelum kita olahraga lagi. Kamu kan hobi banget olah raga," jawab Mona.
Doni memilih duduk. Ia sebenarnya agak ragu dengan Mona. Selamat ini Mona tak pernah memasak. Selalu beli makanan di luar. Dan sepertinya Mona mau belajar Doni pun cukup mengapresiasi.
"Oh ya, kapan kita akan meresmikan pernikahan kita? Bukankah kamu sudah bercerai dengan Malisa?" tanya Mona sembari mengaduk sesuatu yang ada di dalam panci yang masih panas.
__ADS_1
"Kamu nggak harus resmi, karena kamu kan hanya mantan baby sitter," jawab Doni ketus. Ia tak peduli apa yang ia katakan.