
Satu tahun berlalu.
Selama ini Malisa membuka usaha di rumah yang dicicil olehnya sendiri. Ia diberikan modal oleh Bu Mirna. Malisa membuka usaha bakso. Ia tinggal sendiri di sebuah rumah tak jauh dari rumahnya Dimas. Meskipun ia hidup sendiri ia tak mau hanya dikasihani. Ia hanya diberikan modal saja. Tapi selama satu tahun ini sudah dikembalikan oleh Malisa. Hanya saja Malisa masih punya tanggungan untuk membayar pelunasan rumah yang ia tinggali saat ini.
Setelah kepergian Katy, Malisa memang sempat terpuruk. Ia benar-benar harus bangkit. Bu Mirna lah yang selama ini mendampingi Malisa bersama dengan seorang psikiater.
Bu Mirna memberikan semangat hidup pada Malisa. Karena itu lah Malisa merasa ia memiliki sosok ibu lagi. Bu Mirna begitu keibuan membuat Malisa jadi nyaman.
Bu Mirna juga membantu proses Bu Yuni dan juga Sherly masuk ke dalam penjara. Setidaknya Malisa memberikan keadilan untuk Katy.
Saat baru saja ditangkap Bu Yuni memang mengaku kalau dirinya tak sengaja meninggalkan Katy di kamar dan baru tahu kalau Katy jatuh dan menangis. Ia merasa ketakutan. Tapi karena hal itu membuat Bu Yuni berbohong. Kalau saja waktu itu Bu Yuni mau mengatakan yang sebenarnya tentu Bu Yuni mendapatkan keringanan hukuman.
Begitu juga dengan Sherly yang menculik Malisa dan juga Katy yang akhirnya di rumah Sherly lah Katy harus kehilangan nyawa.
Sherly juga sempat memberikan obat bius pada Malisa dan juga Katy. Hal itu menambah masa hukuman Sherly. Malisa terus mengurus sampai Sherly masuk ke penjara. Meskipun apa yang ia lakukan tak akan mengembalikan Katy. Katy sudah tenang di pangkuan sang ilahi bersama kakek dan neneknya.
Kejadian yang sebenarnya di rumah Sherly adalah Pak Hans menyadari kalau Dimas sedang menuju tempat Sherly. Sehingga Pak Hans menyuruh anak buahnya untuk mengawal Dimas. Benar saja saat di sana Dimas seakan dijebak dan Sherly bersama keluarga nya rupanya tak menyadari hal itu sehingga mereka tak siap.
Malisa juga minta maaf pada Bu Rahma karena tak bisa bekerja karena semua masalah dalam hidupnya. Bu Rahma pun menyayangkan hal itu karena Malisa dianggap handal dalam memasak dan juga rajin. Tetapi mau apalagi mereka pun tak bisa.
Malisa membuat warung kecil-kecilan di depan rumahnya itu. Ia membuat kedai bakso yang ia buat sendiri tanpa bantuan siapapun. Mulai dari membuat dan membersihkan semua tempat juga ditangani oleh Malisa. Ia tak mau punya karyawan agar bisa lebih cepat menyadari hutang modal dari Bu Mirna. Meskipun sebenarnya Bu Mirna juga tak minta segera untuk mengembalikan. Tetapi Malisa hanya ingin segera bisa terbebas dari hutang.
__ADS_1
"Malisa," panggil seorang lelaki.
Malisa menoleh. Tentu saja biasanya pelanggan mau makan bakso. "Iya? Mau pesan apa?"
"Malisa," panggil lagi.
Malisa merasa suara tak asing. Ia kemudian berbalik dan melihat sosok yang tak terduga.
"Doni, kamu Doni kan? Pergi kamu dari sini!" usir Malisa. Ia melihat Doni sangat berbeda dengan yang ia kenal dulu. Kini wajahnya lusuh dan huga tak sekeren yang dulu.
"Malisa, maafkan aku!" ucap Doni.
"Ya, aku memaafkan mu. Tapi pergi lah dari sini! Aku nggak mau berurusan denganmu," usir Malisa lagi. Tapi Doni membatu. Ia tak mau pergi dari sana.
"Ya bagus kalau kamu menyesal. Kita tak ada hubungan apapun juga. Katy telah meninggal. Aku yakin kamu tahu akan hal itu bukan?" balas Malisa. Ia pun sibuk menyiapkan pesanan orang di sana.
"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua dari awal, Malisa. Aku ingin kita rujuk. Aku ingin membahagiakan kamu. Aku masih sangat cinta sama kamu," ucap Doni.
Malisa tak menggubris ucapan Doni. Ia hanya sibuk melayani pelanggan. Doni hanya diam terpaku di dekat warungnya Malisa. Ia sebenarnya malu je sana tapi ia tutup rasa malu itu karena ingin bertemu dengan Malisa
Malisa yang kasihan memberikan satu mangkok bakso pada Doni. "Nih, kamu makan saja. Maaf aku nggak bisa mengikuti keinginan mu. Setelah itu kamu bisa pergi dari sini!"
__ADS_1
Doni menerima mangkok bakso dari Malisa. Ia makan dengan penuh kenangan. Ia merasa kalau Malisa memenangkan istri yang baik dan tak ada duanya. Doni menyadari kalau ia telah menyesal karena meninggalkan Malisa. Ia kini jadi pribadi yang sangat berbeda.
Malisa hanya melirik sesekali Doni makan bakso yang ia berikan. Ia merasa ada hal yang aneh dari Doni. Kenapa Doni jadi berubah seperti itu? Kemana rumah dan mobil yang ia miliki yang selalu ia banggakan selama ini? Doni bahkan nampak seperti gelandangan yang tak punya apapun. Tapi Malisa juga tak mau ambil pusing ia tak mau bertanya lebih jauh. Lebih baik ia melayani pelanggan yang sedang menunggu antrean.
Di saat yang bersamaan Dimas pun datang ke sana. Ia meliah ada laki-laki yang sedang berada di luar warung. Tapi ia tak asing dengan wajahnya. Dimas mengenal kalau itu adalah mantan suami Malisa. Tapi lupa juga namanya siapa.
"Permisi, Pak," ucap Dimas.
Doni melongok. Ia melihat Dimas. Ia merasa marah dan kesal. Bahkan ia melemparkan mangkuk tadi ke baju Dimas. Membuat pakaian Dimas kotor serta sakit karena hantaman mangkuk.
"Aw," keluh Dimas.
Doni bangkit dan menarik kerah baju Dimas. "Kamu kan yang mengambil istriku dariku."
"Eh, maaf. Kamu kenapa berkata seperti itu? Bukankah kamu sendiri yang menyia-nyiakan Malisa saat dia masih menjadi istrimu. Dia bukan wanita gampangan. Bahkan sampai saat ini juga aku belum bisa mengambil hatinya," jelas Dimas.
Mendengar ada keributan para pembeli di warung bakso Malisa pun berhamburan. Ada yang mencoba melerai tapi tak bisa takut kena pukulan. Ada yang mencoba menelepon satpam terdekat dan ada pula yang merekam kejadian tersebut.
"Nah, itu karena kamu berusaha mengambilnya dariku. Aku sedang berusaha untuk memperbaiki hubungan ku dengannya. Jadi kamu jangan ikut campur!" tandas Doni.
Malisa juga mulai menyadari ada keributan. Ia pun melerai Doni.
__ADS_1
"Doni, kamu apa-apaan sih? Bisa-bisanya kamu membuat keributan di rumahku. Kamu pergi dari sini! Aku hanya ingin hidupku tenang,'' usir Malisa. Ia geram melihat sikap tempramen mantan suaminya itu yang tidak berubah meskipun keadaannya sudah berubah menjadi lebih buruk.
"Malisa, berikan aku kesempatan kedua! Aku akan memperbaiki semua kesalahan masa lalu. Aku mau kita rujuk kembali," pinta Doni dengan memohon. Ia juga melirik ke arah Dimas dengan tajam.