Pelakor itu Babysitterku

Pelakor itu Babysitterku
Malisa pulang


__ADS_3

Brak.


Doni sempat menggebrak meja kantornya.


"Apa? Dimana dia sekarang? Bikin malu aku saja."


"Saya kirimkan alamatnya sekarang."


Telepon terputus.


Setelah Sherly mengirimkan alamat itu, Doni langsung meluncur ke alamat yang dituju oleh Sherly. Bersamaan dengan itu mereka pun menggedor pintu rumah kedua Dimas.


Mayang lah yang membuka pintu tersebut.


"Mana Malisa?" gertak Doni bahkan ia juga mendorong tubuh Mayang sampai hampir terjatuh. Ia kemudian mencari keberadaan Malisa yang ternyata sedang berada di dapur dan sedang memasak.


"Malisa! Kamu bikin malu aku saja!" Doni kemudian menarik tangan Malisa. Mendengar keributan Katy yang tertidur akhirnya menangis kencang.


"Lepaskan, Doni! Sakit," keluh Malisa.


Doni merasa tak ada ampun ia pun tetap menarik tangan Malisa.


"Doni, Katy menangis! Lepaskan!" teriak Malisa.


Setelah itu akhirnya Doni pun mau melepaskan Malisa dan Malisa bisa menggendong Katy.


''Kemas semua barang mu dan pergi dari rumah ini segera!" teriak Doni.


Malisa tak ada pilihan lain. Ia pun mulai mengemas semua barang miliknya dan Doni kembali menarik tangannya dan masuk ke dalam mobil. Mayang tak bisa membantu karena dipegang oleh Sherly. Setelah itu Doni pun membawa Malisa ke suatu tempat.


Ternyata Doni mengantarkan Malisa ke rumahnya orang tuanya Malisa di kampung.


"Kenapa kamu bawa aku ke sini?" tanya Malisa.


"Kamu takut? Aku kembalikan kamu ke orang tuamu saja! Dan setelah ini biaya apapun ke orang tuamu aku hentikan. Kamu bawa saja Katy sebagai gantinya!" jelas Doni. "Turun!" titahnya.

__ADS_1


Malisa hanya menurut. Ia kemudian turun dari mobilnya Doni dan menuju ke rumahnya. Katy masih tertidur pulas di pelukan Malisa. Doni pun langsung meninggalkan Malisa.


Malisa melangkah menuju ke rumah orang tuanya. "Pak, Bu. Aku pulang."


Pak Haris membuka pintu. "Malisa! Kamu kok pulang nggak kasih kabar?"


Malisa langsung masuk saja. Ia belum menjawab pertanyaan Bapaknya. Rasanya badannya remuk sepanjang perjalanan. "Maaf, Pak. Malisa sedang lelah. Boleh aku istirahat sementara waktu?"


Pak Haris membiarkan Malisa masuk ke dalam dan melihat cucunya. Sedang kan Bu Ayu, ibunya Malisa masih tergolek lemas di kamarnya.


"Siapa, Pak?" tanya Bu Ayu saat mengetahui suaminya berbicara dengan seseorang.


"Malisa, Bu." Pak Haris kemudian duduk di tepi ranjang.


"Ada apa Malisa tiba-tiba pulang, Pak? Sama Doni juga kan?" tanya Bu Ayu lagi.


"Dia sama Katy, Bu. Tanpa Doni," jawab Pak Haris.


Bu Ayu nampak cemas. Ia merasa ada yang tak beres dengan kedatangan putri semata wayangnya itu.


Setelah satu jam lamanya Bu Ayu meminta Malisa untuk ke kamarnya. Sedangkan Katy masih dipeluk oleh Malisa.


"Malisa, coba katakan sebenarnya apa yang terjadi!" pinta Bu Ayu.


Malisa menelan saliva. Ia ingin berbohong tapi firasat ibu biasanya tak salah. Tapi kalau jujur ia takut dengan kondisi kesehatan ibunya.


"Malisa, ayo katakan apa yang sebenarnya terjadi!" lanjut Bu Ayu. Ia sudah tak sabar menunggu jawaban Malisa.


"Malisa memutuskan untuk bercerai, Bu. Malisa tak tahan dengan sikap Doni. Dia juga sudah menikah tanpa izin dari Malisa. Tak peduli sama Katy juga," jelas Malisa.


"Kenapa harus bercerai, Malisa? Bukankah hubungan mu dengan Doni selama ini baik-baik saja? Lalu siapa nanti yang akan membiayai pengobatan ibumu ini?" tanya Bu Ayu. Ia tentu memikirkan hal itu karena selama ini yang membiayai hidupnya adalah menantunya.


"Ibu percaya kalau ibu akan sehat, ya? Ibu nggak boleh bilang gitu! Nanti Malisa juga akan berusaha," sahut Malisa dengan menggenggam tangan ibunya.


Keesokan harinya.

__ADS_1


Tepat pukul tiga pagi Malisa baru saja terbangun. Semalaman Katy juga nampak tidur pulas dan baru saja minta menyusu. Ia pun bisa meninggalkan Katy sementara waktu karena perutnya juga sudah keroncongan. Ia mendengar suara jangkrik yang cukup keras. Maklum saja ia kini sedang hidup di desa. Suasana nya pun juga masih sangat sepi. Jadi Malisa mencoba mencari roti yang ada di tasnya dan ketemu.


Malisa pun makan roti dengan memikirkan sesuatu.


"Bagaimana nanti proses kelanjutan sidang perceraian ku? Aku nggak bisa datang ke sana. Dan nggak mungkin juga kalau ada panggilan lanjutan surat panggilan itu sampai ke sini," monolog Malisa. Ia pun merasa bingung. Apalagi ia juga sudah tahu kalau Dimas sudah bertunangan dengan Sherly.


Sherly sebagai pengacara memang sudah menjanjikan dirinya akan mengurus semua urusan perceraian sampai tuntas. Tapi Malisa merasa tak percaya dengan Sherly. Wajahnya menyeringai dan berlagak sangat sombong. Bagaimana mungkin Malisa akan percaya begitu saja.


Tangisan Katy pun membuyarkan lamunannya. Malisa kemudian melihat kalau popoknya Katy penuh. Malisa segera menggantinya. Tak banyak barang yang ia bawa. Hanya beberapa pakaian saja. Selain itu masih tertinggal di rumah Dimas dan Doni.


Malisa seakan tak punya tempat tinggal yang pasti. Setidaknya Doni masih berbaik hati mengantarkan dirinya pulang. Meskipun Malisa sekarang ini sama sekali tak ada perasaan dengan Doni. Bagaikan perasaan nya sudah hangus oleh makian dan pernikahan kedua Doni.


Tepat pukul 4 pagi Pak Haris membuka pintu kamar Malisa.


"Ada apa, Pak?" tanya Malisa.


Wajah Pak Haris pun nampak begitu cemas.


"Malisa, ibumu tak sadarkan diri lagi," jawab Pak Haris.


"Apakah sudah dipastikan, Pak?" tanya Malisa.


"Sudah. Ayo kita bawa ke rumah sakit!" ajak Pak Haris. Sementara ia juga biasanya meminta bantuan tetangga untuk membawa Bu Ayu ke rumah sakit. Tapi hari itu masih cukup gelap. Ia pun bingung harus membawa istrinya ke rumah sakit menggunakan apa.


Akhirnya mereka harus menunggu sampai matahari terbit. Malisa juga bingung harus apa. Sudah lama ia tak tinggal di desa dengan berbagai kekurangan. Tapi saat tetangga tadi hendak mengangkat tubuh Bu Ayu tiba-tiba ia meminta untuk menurunkan kembali.


"Pak, coba panggil mantri dulu!" titah Pak Hamid. Ia adalah pemilik mobil yang biasanya dipinjam oleh Pak Haris.


Pak Haris berlari ke arah rumah Pak mantri. Setelah beberapa saat akhirnya mereka pulang. Pak Mantri memeriksa kondisi Bu Ayu.


"Pak, istri Anda sudah meninggal dunia," ucap Pak mantri.


Deg.


Perasaan siapa yang tak terkejut mendapatkan pernyataan tersebut. Pak Haris pun bergetar. Sebenarnya Pak Hamid sudah merasakan hal itu tetapi agar yakin ia menyuruh Pak Haris untuk memanggil Pak Mantri.

__ADS_1


"Pak, katakan yang sebenarnya!" pinta Pak Haris memelas. "Istriku nggak apa-apa, kan?" lanjutnya.


"Dengan berat hati, Pak. Memang itu yang terjadi denyut jantungnya sudah tak ada. Tetapi suhu tubuhnya masih hangat. Bisa jadi masih barusan beliau meninggal, Pak," jas Pak mantri.


__ADS_2