
"Sial, dia dalang di semua ini," umpat Dimas. Ia pun mengepalkan tangannya. Ia bahkan tak menyangka kalau Sherly terlalu jauh merusuhi hidupnya. Belum juga jadi istri kalau saja sudah jadi istri maka Dimas mungkin tak akan bisa berbuat apapun. "Kapan mereka membawa Malisa dan Katy?"
"Tak lama setelah Bu Malisa pulang. Saya juga terkejut karena pintu digedor cukup kuat dan saya pun dipegang oleh Mbak Sherly terus Bu Malisa dan Katy dibawa pergi sama suaminya itu," jelas Mayang.
Dimas pun berbalik. Ia kemudian berpikir akan mencari Malisa ke rumah suaminya lebih tepatnya yang akan menjadi mantan suaminya.
Dimas langsung menancap gas menuju ke rumah Doni. Sampai di sana Dimas langsung mengetuk pintu.
Tok tok tok.
Tak lama kemudian pintu terbuka. "Cari siapa, ya?" tanya Mona. Ia melihat dari atas ke bawah Dimas. "Oh rupanya si penculik Malisa, ya? Nggak tahu malu banget deh. Masa nyulik istri orang," cibirnya.
"Diam! Dimana Malisa sekarang? Apakah dia ada di sini?" tanya Dimas dengan suara meninggi.
"Eh, siapa kamu? Kamu itu bukan siapa-siapa nya Malisa. Tapi sok banget dan peduli sama dia. Lagi pula apa hebatnya sih dia. Mending kamu sama aku saja sini! Aku bisa banget kok memuaskan kamu," balas Mona. Ia kemudian merangkulkan diri di leher Dimas.
Dimas mendorong tubuh Mona sampai Mona mundur beberapa langkah. "Hey, kamu kasar banget! Laki-laki macam apa kamu yang bisanya berani sama perempuan, hah?" dengusnya.
"Lihat saja kelakuanmu itu! Perempuan ada yang patut dihargai dan juga disanjung. Tapi tidak seperti mu. Dimana Malisa sekarang?" balas Dimas.
"Sok suci. Mana ada lelaki yang beneran setia. Nggak ada tuh. Buktinya aku bisa mendapatkan majikan ku dengan mudah. Hahaha." Mona pun tertawa bangga.
"Perempuan yang terhormat akan mendapatkan lelaki yang terhormat. Begitu juga sebaliknya. Jawab aku dimana Malisa sekarang!" tandas Dimas.
"Halah, banyak bicara kamu. Mana ku tahu suaminya bawa dia kemana," sahut Mona. Ia langsung menutup pintu dengan keras.
Brak.
Dimas hanya terdiam di depan pintu. Lalu memutar otak kemana lagi ia akan mencari Malisa. Ia pun kembali ke mobilnya. Mencoba menghubungi Malisa juga tidak aktif. Ia kemudian memilih untuk mencari Sherly. Bisa jadi Sherly tahu keberadaan Malisa karena dia turut menjemput Malisa.
__ADS_1
Dimas akhirnya menghubungi Sherly. Telepon terhubung.
"Halo, sayang. Wah, calon suamiku menelpon ku. Pasti kamu kangen aku, ya?"
"Nggak usah banyak bicara! Dimana Malisa sekarang!" dengus Dimas.
"Oh, sabar dong, sayang. Kenapa sih kamu marah-marah? Bilang saja kalau kamu mau ketemu sama aku!" lanjut Sherly.
"Katakan, Sherly!" teriak Dimas.
"Oke, kita ketemu ya? Di rumah keduamu," sahut Sherly dan ia langsung menutup telepon.
Dimas langsung pulang. Ia merasa tak sabar ingin ketemu dengan Sherly. Serasa Dimas ingin mengacak-acak Sherly kalau saja Sherly lekas tentu sudah ia ajak adu jotos.
Sampailah Dimas di depan rumahnya tapi Sherly nampak belum datang.
"Mayang, apakah Sherly sudah ke sini?" tanya Dimas.
"Hai, sayang. Wah, kamu sudah datang rupanya. Kamar ini nyaman banget deh. Boleh nggak aku tinggal di sini?" tanya Sherly dengan nada manja.
Dimas merasa begitu jijik dengan Sherly. "Apa maksudnya, Sherly? Kemana kamu membawa Malisa dan Katy?"
Sherly pun bangkit. "Kenapa sih kamu masih saja membicarakan orang yang tak ada di sini? Sudah jelas aku calon istrimu loh. Kenapa nggak kita membicarakan tentang masalah pernikahan kita?"
"Sherly! Aku nggak sedang bercanda! Katakan!" Dimas benar-benar merasa kesal karena arah pembicaraan Sherly yang tidak jelas.
"Dia kan sudah sama suaminya. Lagipula kenapa sih kamu kok mengurus istri orang? Mending kita ngomongin masa depan kita sendiri. Kalau katanya padaku pernikahan kita akan digelar setelah orang tuaku pulang dari luar negeri," jelas Sherly.
"Kenapa kamu ikut saja urusan ku? Kamu nggak tahu apa-apa, Sherly! Kamu itu belum jadi istriku sudah mengatur hidupku. Aku nggak mau membayangkan kalau kamu jadi istriku. Itu mustahil," balas Dimas. Ia sudah kesal dan muak dengan Sherly.
__ADS_1
"Sudah sepantasnya Malisa dengan suaminya. Dia kan masih berstatus suami orang selama surat cerainya belum turun," balas Sherly. Ia tak mau kalah debat. Sebagai pengacara tentu banyak ilmu yang ia miliki untuk mengajak debat lawan bicaranya. "Dan kamu bukan siapa-siapanya dia, Dimas. Tak seharusnya kamu mencampuri urusannya!"
Dimas meraih gelas yang tak jauh dari dirinya ia ambil dan ia banting di sana.
Pyar.
Gelas itu pun pecah dan membuat Sherly terkejut. "Dimas! Apa-apaan sih kamu itu!"
"Katakan dimana dia sekarang! Tak peduli apapun." Dimas sudah tak kuasa menahan amarahnya. Melihat Sherly membuat dirinya sebenarnya ingin melemparkan gelas tadi ke wajah Sherly yang terlalu manja.
"Aku benar-benar tak tahu. Karena suaminya yang bawa. Kenapa kamu malah marah-marah sama aku sih? Sakit tahu kakiku kena pecahan gelas itu," keluh Sherly.
Dimas melirik kaki Sherly memang terluka dan mengeluarkan darah. Rasanya malas sekali membantunya. Tapi memang perbuatan nya yang membuat Sherly seperti itu. Ia kemudian mengambil kotak P3K dan ia balut lukanya Sherly.
"Terima kasih, Dimas. Kamu perhatian sama aku," ucap Sherly dengan mengusap kepala Dimas.
"Jawab yang jujur kenapa kamu mengatakan sama suaminya Malisa kalau dia ada di sini? Apa maksud mu?" tanya Dimas selagi ia masih membalut luka Sherly.
"Aku nggak mau sampai kamu kena masalah ke depannya. Apalagi anak itu juga punya bapak. Apa jadinya kalau kamu menyembunyikan perempuan yang masih berstatus suami orang?" balas Sherly. Sebenarnya Sherly juga sudah tahu kalau Malisa adalah perempuan yang berasal dari kampung. Orang tuanya juga sedang sakit-sakitan dan semua biaya pengobatan ditanggung oleh Doni. Tapi ia tak mengatakan hal itu. Ia masih mencari tahu lebih jauh tentang Malisa. Perempuan yang telah berhasil mengambil hati Dimas.
Setidaknya Sherly bisa mendapatkan status sebagai tunangan Dimas. Hal itu lah yang dikatakan pada Malisa saat ia mendatangi rumah Dimas kemarin.
Flashback.
Setelah dari pengadilan agama. Sherly mencari tahu banyak informasi tentang Malisa. Dan ia pun bergerak cepat menghubungi Doni yang saat itu masih berada di kantornya. Telepon terhubung.
"Halo, dengan Pak Doni?" tanya Sherly.
"Ya benar. Dengan siapa ini?" balas Doni.
__ADS_1
"Saya Sherly seorang pengacara. Sebenarnya saya juga adalah calon istri dari lelaki yang saat ini sedang dekat dengan istrimu. Boleh kah kamu menjemput istrimu itu?" tanya Sherly.