Pelakor itu Babysitterku

Pelakor itu Babysitterku
Malisa terpeleset


__ADS_3

"Malisa," panggil Dimas.


"Iya, dokter. Dokter butuh apa?" tanya Malisa. Kini pukul sembilan lebih lima belas menit. Ia memang sudah waktunya tidur. Tapi ia rela kalau dipanggil Dimas.


"Saya mau bunga," ucap Dimas.


Malisa mengerutkan keningnya. "Bunga apa, dokter?" tanya Malisa bingung.


"Bunga yang ada di taman rumah sakit ini," jawab Dimas.


Malisa merasa aneh dengan permintaan Dimas barusan. "Kenapa dengan bunga itu, dokter?" tanya Malisa lagi.


"Saya mau ambil bunga itu sekarang!" jawab Dimas.


Malisa menghela napas. Ia mengumpulkan tenaga untuk kembali bangkit. Sebenarnya kondisi Dimas sudah sangat baik. Hanya saja ingatannya saja yang belum kembali. Dimas juga lebih memilih di rumah sakit saja karena ia merasa nyaman.


Malisa pun menemani Dimas ke taman. Agak remang. Tapi suasana nya sejuk dengan angin sepoi-sepoi.


Sampai di taman, Malisa pun mempersilahkan Dimas untuk mengambil apa yang ia inginkan. Ia kemudian duduk di kursi panjang. Ia lupa tak mengenakan jaket karena semakin ia rasa ternyata dingin juga.


Dimas nampak mengambil beberapa bunga mawar berwarna merah. Memang cukup banyak bunga mawar yang saat ini sedang mekar dengan sempurna.


Dimas kembali menghampiri Malisa yang sedang menahan dingin. "Sudah, dokter?" tanya Malisa.


"Malisa," panggil Dimas.


"Ya, ada apa, dokter? Apakah sudah? Kalau sudah ayo kita kembali!" ajak Malisa.


"Malisa, maukah kamu menikah denganku?" tanya Dimas.


Malisa tercengang. Apakah Dimas benar-benar pusing? Masa iya ia mengajak seorang perawat untuk menikah. "Dokter? Seperti nya saya harus memanggil dokter dulu, ya? Dokter tunggu di sini dulu!"


Malisa pun bangkit. Ia khawatir dengan kondisi Dimas. Tetapi justru Dimas meraih tangan Malisa. "Malisa, kamu mau kan menikah sama aku?"


Malisa mengerutkan keningnya. "Apalah dokter Dimas baik-baik saja?"


"Iya, kenapa? Kamu nggak percaya? Ingatan ku sudah kembali semenjak satu minggu yang lalu. Tapi aku berpura-pura. Aku ingin lebih dekat denganmu. Aku sangat senang kamu bisa dekat denganku selama ini." Dimas memberikan bunga mawar tadi pada Malisa.

__ADS_1


"Ja-jadi, kamu …" Malisa menutup mulutnya.


"Iya, Malisa. Terima kasih karena kamu mau merawat aku selama ini," ucap Dimas. "Kamu jangan terkejut! Aku benar-benar sudah ingat semua sejak satu minggu yang lalu."


Malisa masih saja bingung. Beberapa saat kemudian Bu Mirna pun menghampiri mereka.


"Bu Mirna," sapa Malisa.


"Ya, Malisa. Sebenarnya saat kamu pulang satu minggu yang lalu Dimas mengatakan kalau dia sudah ingat apapun. Hanya saja dia minta sama mama dan juga semua pihak kalau dia ingin merahasiakan hal itu," jelas Bu Mirna.


Malisa menoleh ke arah Dimas. ''Syukurlah kalau kamu sudah ingat semuanya."


"Jadi apakah kamu menerima lamaran ku?" tanya Dimas kembali.


Malisa menghela napas. "Tapi …"


"Nggak ada tapi. Kamu kan pernah bilang sama aku kalau kamu juga cinta sama aku, kan?" balas Dimas.


Malisa tersenyum di tengah lampu yang remang-remang.


"Malisa, kamu mau kan jadi menantuku?" sahut Bu Mirna.


"Kamu jauh lebih baik dari siapa pun." Dimas pun memeluk Malisa. Selama satu minggu ini Dimas memang sudah ingat semuanya. Apapun yang terjadi di hidupnya sudah ingat. Hanya saja ia memang ingin melihat ketulusan Malisa.


"Apakah kamu bersedia, Malisa?" tanya Dimas.


Malisa mengangguk.


"Syukurlah, Malisa bersedia. Mama senang dengarnya. Oke, kalian harus menikah segera. Dimas sudah nggak sabar mau menikah kamu tuh," ucap Bu Mirna.


Malisa malu-malu kucing. Ia merasa kalau hatinya saat ini benar-benar berbunga. Ia merasa sangat bahagia dengan kejutan hari ini.


Malam itu Malisa pun pulang. Ia tak lagi tinggal di rumah sakit. Ia memang merasa begitu lelah hari ini. Dimas lah yang mengantarkan Malisa pulang.


"Malisa, untuk sementara kamu tidur di sini sendiri, ya? Nanti kalau kita sudah menikah aku akan temani kamu tidur di sini," ucap Dimas. Ia kemudian meninggalkan Malisa sendiri di sana.


Malisa jadi berfikir apakah Dimas akan benar-benar tinggal di sana karena rumah itu kecil. Hanya terdiri dari dua kamar tidur saja. Tidak seperti rumah orang tua Dimas yang sangat megah sekali. Tetapi setidaknya Malisa bangga bisa mendapatkan rumah dari hasil kerja kerasnya.

__ADS_1


Keesokan harinya Malisa kesiangan. Ia baru bangun saat pukul sembilan pagi. Ia kemudian hendak mandi. Setelah satu bulan akhirnya Malisa bisa tidur nyenyak. Karena selama di rumah sakit Malisa tidak pernah bisa tidur nyenyak.


Tok tok tok.


Malisa mendengar kalau ada yang mengetuk pintu. Ia masih mengalungkan handuk. Ia kemudian membuka pintu dan ternyata kejutan untuk Malisa.


Malisa spontan menutup kembali pintu rumahnya. Bagaimana tidak ada Dimas, Bu Mirna, Pak Hans dan lelaki yang mirip Dimas sedang berada di depan pintu rumahnya sementara dirinya masih mengalungkan handuk dan belum mandi. Ia pun merasa wajahnya masih kucel dan rambutnya acak-acakan. Sementara yang di depan pitnubya sudah rapi tentunya juga sudah mandi. Apalagi Malisa melihat Dimas seperti sedang membawa sesuatu di tangannya.


"Malisa, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Bu Mirna.


Malisa bingung mau menjawab apa. Ia begitu malu saat ini. "Em, iya, Bu. Sebentar ya."


Malisa segera berlari ke kamar mandi. Dan ternyata ia pun terpeleset tepat di depan kamar mandi. "Aw…" Malisa pun meringis kesakitan. Bahkan suaranya terdengar oleh Dimas di luar.


Dimas mendengar teriakan Malisa pun khawatir. Ia pun menerobos masuk ke dalam rumah Malisa disusul anggota keluarga lainnya. Dimas melihat Malisa sedang terjatuh di depan kamar mandi.


"Malisa, kamu baik-baik saja?" tanya Dimas. Ia kemudian membopong Malisa ke kamar tidur Malisa.


"Aku, aku tadi kepleset," jawab Malisa dengan meringis kesakitan.


"Ya, sudah. Kamu tiduran saja dulu!" titah Dimas. Malisa ditemani oleh Bu Mirna.


Dimas kemudian memeriksa kaki Malisa dan memberikan pijatan halus sampai membuat Malisa kesakitan. Bahkan wajah Malisa meskipun sudah disembunyikan kesakitan juga masih terlihat.


"Kamu tahan sedikit, ya!" ucap Dimas.


Tak berselang lama kemudian Dimas telah selesai mengurut Malisa. "Sudah."


Malisa menghela napas. Lalu menutup wajahnya dengan tangannya.


"Kenapa, Malisa?" tanya Bu Mirna.


"Saya malu, Bu. Saya belum mandi," jawab Malisa.


Dimas tersenyum tipis. "Malisa, kamu kan sudah mau jadi istriku. Kenapa harus malu?"


"Yah, tadi aku bangun kesiangan dan mau mandi malah dokter ke sini sama keluarga," jawab Malisa.

__ADS_1


"Sebenarnya sudah dari tadi aku telepon kamu tapi kok nggak diangkat. Karena khawatir jadi aku ke sini dan orang tuaku ikut juga sama adikku juga," jelas Dimas.


__ADS_2