
Antoni justru bangkit. "Ya sudah. Kamu saat ini bisa introspeksi diri dulu saja! Kamu menyelesaikan tugas akhirmu dulu saja." Ia kemudian benar-benar meninggalkan Angel di sana.
Angel tak percaya kalau Antoni benar-benar meninggalkannya sendiri di sana. Padahal sejak tadi ia sudah menunggu cukup lama dan hanya sebentar saja Antoni di sana langsung meninggalkannya.
Di rumah sakit.
Malisa masih saja terbaring di rumah sakit. Saat ini Dimas sedang berada di sampingnya. "Dimas," panggil Malisa.
"Iya, Malisaku. Ada apa?" sahut Dimas.
"Kalau boleh nanti ketika aku menikah kita tetap tinggal di rumahku saja. Meskipun kecil tapi itu adalah hasil jerih payahku sendiri. Aku merasa tak mau meninggalkan rumah kecil itu itu. Apakah kamu keberatan?" tanya Malisa.
Dimas tersenyum. "Tentu saja tidak lah. Aku menurut saja kamu mau tinggal dimana yang penting kamu nyaman."
"Lalu apakah kamu juga tak keberatan kalau aku kembali berjualan bakso? Apakah kamu tidak malu karena kamu seorang dojter tapi istrinya justru berjualan bakdo? Aku merasa passionku di situ," tanya Malisa lagi.
"Aku bukannya malu. Aku senang kalau kamu merasa bisa melakukan banyak hal yang kamu sukai. Hanya saja aku sarankan untuk kamu memiliki karyawan lah. Jangan semua kamu tangani sendiri. Aku nggak mau kalau kamu kecapekan. Aku ingin apa yang kamu lakukan itu enjoy aja. Hanya untuk kesibukan saja bukan untuk mencari nafkah. Karena kewajiban mencari nafkah nanti itu aku," jelas Dimas.
Malisa begitu bersyukur bertemu dengan Dimas. Memang dulu ia ketemu dengan Doni, mantan suaminya itu juga manis. Tapi ternyata semuanya berubah dan terlihat setelah mereka menikah. Malisa pun terdiam.
"Kenapa, Malisa?" tanya Dimas. Ia khawatir karena wajah Malisa tiba-tiba berubah menjadi sendu.
"Aku hanya teringat pernikahan pertama ku yang gagal. Dulu dia manis seperti saat kamu sekarang ini. Tapi setelah menikah dan punya anak ternyata dia …" Malisa pun menjeda obrolannya.
__ADS_1
"Ya, aku mengerti. Sudah saatnya kamu bahagia. Aku benar-benar mencintai mu. Aku janji aku tak akan seperti mantan suamimu. Aku tak akan banyak janji, Malisa. Tapi yang jelas aku akan membuktikan saja," jelas Dimas.
Malisa tak banyak berasumsi. Sebagai wanita yang pernah gagal tentu hal itu yang ia butuhkan bukan hanya janji tapi bukti. Ia pun menghela napas dan memilih untuk tidur saja. Malisa kemudian benar-benar tidur. Dimas menatap wajah Malisa yang sedang tidur. "Aku janji akan membahagiakan kamu, Malisa."
Keesokan harinya Bu Mirna pun datang ke rumah sakit.
"Malisa, bagaimana kondisi kakimu?" tanya Bu Mirna.
"Kata Dimas saya belum boleh jalan. Tapi saya benar-benar bosan, Ma," keluh Malisa pada Bu Mirna.
"Yah, yang sabar dulu ya, Malisa. Ini semua demi kebaikanmu. Oh ya, Mama sudah merencanakan untuk hari pernikahan mu nanti. Papa akan membuat pernikahan kalian cukup meriah. Karena ini adalah kali pertama kami akan punya menantu. Kamu nggak keberatan kan, Malisa?" tanya Bu Mirna. Ia kemudian duduk di samping Malisa.
Malisa kembali teringat dengan pernikahan pertama bersama Doni. Ia dulu menikah dengan mewah juga. Karena keluarga Doni juga orang berada. Tetapi sekali lagi ia jadi terbayang kalau ia takut gagal untuk kedua kalinya. "Kalau Malisa sebenarnya ingin sederhana saja, Ma. Kan Malisa juga bukan pernikahan pertama."
Malisa berfikir sejenak. Memang ada benarnya ucapan Bu Mirna tersebut. Ia juga khawatir dengan dirinya. Ia benar-benar takut gagal dalam pernikahan lagi. Tapi ia juga tak boleh tinggal diam. Ia harus move on dan memulai dari awal. Ia pun sangat yakin dengan Dimas kalau bisa menjadi suami yang baik.
Bu Mirna pun di sana membantu menyuapi Malisa. Malisa pun merasa seperti punya ibu lagi. Sejak dekat dengan Bu Mirna memang Malisa merasa kalau punya ibu lagi. Hanya saja ia tetap menjaga jarak. Ia masih sadar diri kalau ia hanya anak dari keluarga miskin. Ia tak mau dibilang sampai kurang ajar atau justru tak tahu diri.
Malisa cukup senang saja karena ia akhirnya memiliki sosok ibu. Meskipun tak sepenuhnya bisa menjadi ibunya. Karena ia dulu juga tak terlalu dekat dengan ibunya. Ibunya sering sakit-sakitan dan Malisa juga selalu di kota karena kuliah kemudian bekerja.
"Malisa, kok melamun?" tanya Bu Mirna.
"Oh, tidak, Ma. Malisa cuma teringat dengan ibu saja," jawab Malisa.
__ADS_1
Bu Mirna pun mengusap punggung Malisa. "Malisa, berkali-kali kan Mama sudah bilang. Mama ini sudah jadi ibumu. Jadi kamu bisa bermanja-manja sama Mama. Tetap doakan ibu dan bapakmu agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan!"
"Ma, kalau Malisa ingin sebelum menikah ke makam ibu dan bapak apa boleh?" tanya Malisa.
"Tentu saja, Malisa. Mama yang akan antar kamu nanti. Kamu jangan khawatir, ya!" jawab Bu Mirna.
Malisa pun tersenyum. Ia merasa senang. Ia hanya ingin memiliki kebahagiaan. Sudah cukup baginya Ia kehilangan orang-orang Ia cintai. Termasuk Katy buah hatinya yang paling Ia sayang. Doa selalu Malisa panjatkan agar Katy bisa berkumpul dengan orang-orang yang baik di sana. Mungkin bisa saja menjaga nenek dan kakeknya yang juga sudah meninggal.
Bu Mirna kini sedang sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang sedang ia lihat saat ini.
"Mama lihat apa?" tanya Malisa.
"Nih lihat! Mama coba nyariin gaun yang cocok buat kamu. Mungkin kamu ada yang minat," jawab Bu Mirna dengan menunjukkan beberapa model gaun untuk Malisa.
"Em, bagus semua, Ma." Malisa mengingat ia saat menikah dengan Doni pun mengenakan gaun yang mirip dengan itu. Warna hijau muda.
Melihat Malisa sering melamun Bu Mirna pun mengusap punggung Malisa. "Malisa, Mama tahu mungkin kamu trauma. Tapi ada hal yang tidak kamu tahu yaitu kamu harus move on. Sampai kapan kamu harus terbayang dengan masa lalu? Mama hanya ingin kamu bisa move on. Mama lah yang akan mengorbankan diri kalau sampai nanti menjamin kamu dan akan membela kamu. Mama janji."
Malisa tidak bisa sepenuhnya percaya. Walau bagaimana pun seorang ibu tentu akan membela anaknya. Apalagi dirinya hanya sebagai menantu yang hanya sebatang kara.
Malisa hanya tersenyum. Ia mencoba menghargai ucapan Bu Mirna. "Terima kasih, Ma."
"Sama-sama, Malisa. Mama senang. Mama merasa Mama sedang memiliki anak perempuan. Karena sejak dulu Mama hanya punya dua anak laki-laki." Bu Mirna kemudian memeluk Malisa.
__ADS_1