
"Asal kamu tahu rumahmu aku yang membakar. Aku benci padamu. Sekarang kamu bisa menyusul anak dan orang tuamu dengan cepat. Aku baik kan bisa membawa mu bertemu dengan mereka. Mayang sudah aku bayar dan dia ternyata orang yang mudah aku pengaruhi dengan uang," imbuhnya.
Mendengar penuturan itu kemudian Malisa justru tersenyum. "Jadi benar kamu yang membakar rumahku?"
"Iya, kenapa?" balas Angel.
Tiba-tiba suara mirip jam ting ting ting berbunyi. Malisa kemudian bangkit dan ia dibantu Mayang untuk melepaskan diri.
Angel bahkan tak mengerti apa yang terjadi. "Apa ini?" tanyanya.
Beberapa orang keluar dari kursi dan meja yang ada di sana terdiri dari polisi, Dimas dan juga Antoni.
"Ke-kenapa ini bisa terjadi?" tanya Angel lagi. Polisi pun segera mencekal Angel.
"Sangat malang sekali nasibmu. Untung saja aku tak jadi menikah denganmu. Perempuan berhati iblis," ketus Antoni.
"Aku kira rumah itu benar-benar murni kebakaran. Ternyata kamu buang dari semua itu. Terima kasih atas pengakuannya," imbuh Malisa.
"Hah, Mayang. Kamu …" Angel pun menatap tajam Angel.
"Maaf, aku lebih setia dengan majikanku. Jadi uangmu itu tak berguna. Aku kembalikan saja sebagai barang bukti perbuatan keji mu itu yang mau melenyapkan Bu Malisa," sahut Mayang.
Malisa masih merasakan nyeri di bekas suntikan tadi. Sebenarnya itu bukan benar-benar suntikan mati karena sudah diganti oleh Dimas beberapa saat sebelum mereka berangkat.
"Membusuk kamu di penjara. Tak menyesal aku memutuskan mu," ucap Antoni lagi.
Angel terlihat wajahnya marah dibawa polisi. Ia tak menyangka rencananya gagal dan membawanya ke penjara juga. Ia kurang persiapan yang matang dan meleset saat menduga Mayang bisa tergiur dengan uang yang banyak ternyata tidak. Karena Mayang menganggap Angel terlalu terobsesi pada Antoni dan justru membuat Malisa orang yang tak bersalah harus ikut menjadi korban.
"Terima kasih, Mayang," ucap Malisa pada Mayang.
"Sama-sama, Bu Malisa. Bu Malisa memang yang terbaik. Maaf ya kalau tadi cukup menyakitkan untuk Bu Malisa saat saya menyuntik. Itu hanya vitamin saja kok," jawab Mayang.
Dimas pun memeluk Malisa. "Syukurlah kamu baik-baik saja, Malisa."
__ADS_1
Mereka pun pulang. Sementara Angel bersama beberapa anak buahnya dibawa ke kantor polisi.
Sampai di rumah Dimas, Malisa langsung disambut Bu Mirna. "Malisa, kamu baik-baik saja?"
"Iya, Ma. Syukurlah aku baik-baik saja," sahut Malisa. Ia kemudian diajak duduk di ruang tamu.
"Mayang, coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi!" titah Bu Mirna.
"Jadi tadi setelah Bu Malisa pergi, mbak Angel itu datang ke rumah. Dia sudah tahu kalau Bu Malisa sudah mulai bekerja dengan Pak Antoni. Hanya saja saya juga kurang tahu tepatnya. Anak buahnya menodong pisau tepat di depan leher saya. Karena ketakutan saya pun menuruti kemauannya dan pura-pura ada di pihaknya. Dia menyadap ponsel saya. Saya menurut. Setelah Bu Malisa pulang saya pakai kertas untuk komunikasi dan Bu Malisa pun paham. Untung saja Pak Dimas cepat dan tanggap," jelas Mayang panjang lebar.
"Pandai sekali kamu, Mayang. Kamu benar-benar menyelamatkan Malisa. Aku akan berikan kamu imbalan yang besar," sahut Dima. Selama ini ia pun selalu percaya pada Mayang.
"Terima kasih banyak, Pak Dimas," jawab Mayang.
"Malisa, apakah kakimu masih nyeri?" tanya Dimas khawatir.
"Sedikit sih," jawab Malisa.
"Besok kamu nggak perlu kerja dulu sampai kondisi mu membaik," ucap Antoni.
Antoni merasa aneh karena dipanggil Pak oleh Malisa.
"Kenapa kamu panggil Antoni dengan Pak?" tanya Dimas.
"Kan Pak Antoni adalah atasanku," jawab Malisa. Ia memang sudah terbiasa memanggil atasannya dengan panggilan Pak atau Bu.
Antoni tersenyum tipis.
Dimas kemudian memegang tangan Malisa. "Dia kan calon adik iparmu. Jadi sepertinya nggak usah kamu panggil dia Pak. Benar kan Antoni?" tanyanya.
Antoni hanya menganggukkan kepala nya. Malisa malam itu bermalam di rumah mewah itu bersama dengan Mayang juga. Dimas juga harus memastikan kondisi Malisa lebih dulu.
Keesokan harinya Malisa membantu Bu Mirna di dapur. Dapur itu memang lebih mewah dengan berbagai fasilitas yang lengkap. Malisa masih merasa nyeri di tangan, kaki dan juga paha. Tapi ia tak mau diam saja di kamar.
__ADS_1
"Malisa, sebaiknya kamu istirahat dulu saja deh!" titah Bu Mirna.
"Sudah nggak apa-apa kok, Ma. Malisa mau bantuin masak di sini," sahut Malisa.
"Kamu bantu yang ringan saja di situ sambil duduk saja. Karena nanti siang kamu ikut ke kantor polisi untuk memberikan keterangan,'' jelas Bu Mirna.
"Apakah begitu, Ma?" tanya Malisa. Ia benar-benar tak tahu kalau siang ini juga ia harus ke kantor polisi. Meskipun ia tahu pasti ia disuruh untuk ke kantor polisi.
"Iya. Kemarin Dimas dikasih tahu sama polisi. Kamu sama Dimas juga Antoni,'' jawab Bu Mirna.
Malisa dan Bu Mirna ternyata memasak sop ayam dan juga ayam goreng. Bu Mirna ternyata juga suka memasak. Terapi ia tak bisa memasak yang cukup ribet. Tetapi Pak Hans untuk tak pernah menuntut untuk Bu Mirna selalu memasak. Itu memang hanya keinginan Bu Mirna sendiri.
Pak Hans selalu menghargai masakan Bu Mirna apapun yang dimasak. Kalau pun tak suka mengatakan yang baik. Tidak malah mencaci dan mengatai dengan kata-kata yang buruk kepada istrinya.
Pak Hans bagi Dimas dan Antoni menjadi figur yang baik sebagai ayah dan juga suami. Terlebih saat ini usia mereka sudah dewasa dan memasuki untuk bisa mulai berumah tangga.
Setelah menikmati sarapan bersama Malisa mengikuti Bu Mirna menyiram tanaman di halaman belakang.
"Wah, ternyata cukup banyak koleksi bunga di sini ya, Ma?" tanya Malisa merasa kagum. Di sana ia melihat cukup banyak variasi bunga. Mulai dari bunga mawar dengan berbagai warna, bunga anggrek, bunga kembang sepatu, bunga lavender, bunga bougenville, bunga Jepun, bunga Baby Breath, bunga Seruni, bunga Adenium, bunga Puring. Selama ini ia juga mungkin hanya memilih bunga mawar saja.
"Iya, Mama suka sama bunga. Kesibukan ini juga untuk mengisi waktu saja," sahut Bu Mirna.
Malisa pun belajar banyak tentang bunga. Ia jadi tenang melihat begitu banyak bunga yang mekar di saat yang bersamaan.
Setelah cukup lama berkutat dengan bunga, Dimas kemudian menjemput Malisa.
"Malisa, ayo kita berangkat!" ajak Dimas.
"Sekarang?" tanya Malisa.
"Iya, ini kan sudah siang," jawab Dimas.
"Ma, aku berangkat dulu, ya?" pamit Malisa kemudian mencium tangan Bu Mirna.
__ADS_1
"Iya, kalian hati-hati, ya! Kasih keterangan yang sejelas-jelasnya!" sahut Bu Mirna.