Pelakor itu Babysitterku

Pelakor itu Babysitterku
Kasihan


__ADS_3

Malisa lemas setelah melihat semua bagian rumahnya terbakar. Hanya tersisa temboknya saja. Malisa bahkan kehilangan kesadaran.


Malisa pun membuka matanya. Ia kini berada di sebuah kamar yang tak asing. Malisa kembali mengingat kejadian yang sudah terjadi tadi. Cairan bening pun keluar dari ujung netranya. Ia melihat Dimas ada di sampingnya.


"Rumahku," lirih Malisa.


Dimas mengusap air matanya Malisa. "Kamu yang tenang ya, Malisa. Polisi juga masih mencari tahu penyebab rumahmu kebakaran. Untuk sementara kamu bisa tinggal di rumahku dulu, ya? Ada Mayang yang akan menemanimu."


"Kalau pun aku tahu apa yang menyebabkan rumahku kebakaran apakah bisa mengembalikan seperti semula?" tanya Malisa.


Dimas terdiam. Memang benar ucapan Malisa tersebut. Tapi apa yang bisa ia lakukan saat ini untuk Malisa selain memberikan tempat tinggal untuk calon istrinya? "Iya, aku mengerti. Kita akan bangun sama-sama rumah kita. Atau kalau kamu nggak keberatan kamu tinggal di sini nanti."


Malisa menghela napas. Ia saat ini tak mau menuduh Angel. Ia takut justru tuduhan itu akan kembali padanya. Karena ia juga tak punya bukti untuk menuduh tanpa bukti.


Keesokan harinya. Malisa bersama Dimas menuju ke kantor polisi yang menangani masalah rumah Malisa yang kebakaran. Tetapi pihak polisi tidak menemukan unsur kesengajaan. Jadi bisa dipastikan murni karena kecelakaan. Bisa jadi karena korsleting listrik.


Malisa pun menerima alasan tersebut. Tak mau lagi Malisa berspekulasi. Bisa jadi memang sebuah kebetulan kalau rumahnya memang murni kecelakaan. Ia yakin ada hikmah dari semua ini.


"Malisa, kamu yang sabar, ya! Setelah ini kita belanja dulu untuk kebutuhan mu. Kamu kan juga butuh pakaian dan juga beberapa barang perlengkapan lain," ucap Dimas. Ia melihat wajah sedih Malisa belum bisa hilang.


Malisa memang benar-benar merasa bingung. Ia memang calon istrinya Dimas. Tapi ia juga ingin memiliki rumah sendiri. Tapi semua raib. Malisa pun hanya mengikuti kemana Dimas pergi.


Mereka pergi ke mall. Ia merasa tak ada feel untuk melakukan apapun di sana. Tapi mau bagaimana lagi. Ia juga hanya punya satu baju yang ia pakai saat makan malam bersama Dimas dan keluarganya. Selain itu tak ada lagi. Mau tak mau dia harus membeli pakaian baru.


"Malisa, kamu mau yang mana?" tanya Dimas berusaha mengalihkan pikiran Malisa yang masih sedih.


"Aku pilih ini saja," jawab Malisa dengan membawa dua pasang baju dan satu daster. Ia tak mau menyusahkan Dimas sebelum ia resmi menikah dengannya.


"Sedikit banget. Sini biar aku yang memilihkan untukmu," sahut Dimas. Ia justru yang sibuk mengambil banyak pakaian dan berbagai model. Ia tak mau sampai calon istrinya kekurangan pakaian.

__ADS_1


Sampai akhirnya Dimas sendiri yang membayar semua tagihan biaya belanja Malisa. Setelah itu mereka pun pulang ke rumah Dimas.


"Malisa, sementara waktu kamu tinggal di sini dulu, ya? Mayang akan menemani kamu. Mayang, tolong jaga Malisa, ya!" ucap Dimas.


"Iya, Pak. Saya akan menjaga Bu Malisa dengan baik," jawab Mayang.


Dimas kemudian pamit pada Malisa dan Malisa hanya menjawab dengan berdehem saja. Ia kemudian harus pergi ke rumah sakit karena harus bekerja di shift sore dan akan pulang besok pagi.


Malisa masih saja termenung. Ia tak tahu apa yang akan ia lakukan ke depan. Uang yang ia simpan di rumah juga ikut terbakar. Meskipun tak banyak tapi cukup banyak bagi Malisa. Ia memikirkan harus bekerja apa lagi setelah ini. Semua alat untuk membuat bakso juga sudah ludes.


"Bu Malisa makan dulu, ya?" ucap Mayang dengan memberikan nampan berisi nasi, lauk dan susu pada Malisa.


"Iya, terima kasih, Mayang," jawab Malisa.


Mayang kasihan melihat Malisa. Sejak ia bertemu dengan Malisa, ia merasa kalau hidup Malisa penuh dengan masalah yang berat. Kalau saja ia yang tertimpa masalah mungkin ia tak akan sanggup setegar dan sekuat Malisa. Malisa dianggap perempuan yang benar-benar kuat. Itu lah kenapa Tuhan selalu memberikan ujian berat untuk Malisa. "Bu Malisa, setelah makan mungkin mau saya pijat?" tanyanya.


"Nggak usah, Mayang! Kamu pasti lelah. Aku cuma mau istirahat saja," tolak Malisa dengan halus.


"Tapi saya tidak mau, Mayang. Maaf, ya, aku butuh waktu sendiri," ucap Malisa.


Mayang pun paham. Ia kemudian meninggalkan Malisa di kamarnya.


Satu minggu berlalu.


Malisa melihat kondisi rumahnya yang berantakan karena sisa kebakaran. Tak ada satupun harta benda yang bisa diambil. Semua lenyap.


Dimas juga sudah menyuruh orang untuk membersihkan puing bangunan Malisa. "Malisa, apakah ini akan kita bangun ulang?"


"Untuk saat ini tidak, Dimas. Aku belum punya uang. Aku ingin membangun ulang bangunan ini dengan uangku," jawab Malisa. Saat ini ia tak punya pekerjaan apalagi uang.

__ADS_1


"Oh ya, setelah ini kita ke rumah Mama dan Papa, ya? Mereka menyuruh ku untuk mengundang kamu ke sana. Ada hal yang perlu kita bicarakan bersama mereka," ucap Dimas.


Malisa menganggukkan kepala nya. "Iya."


Setelah itu mereka pun menuju ke rumah orang tua Dimas.


"Ah, akhirnya kalian sampai juga," ucap Pak Hans.


"Iya, Pa. Kami baru saja melihat kondisi rumah Malisa," jawab Dimas.


"Ya, kamu yang sabar ya, Malisa. Oh ya, Papa mau membicarakan dua hal sama kamu. Pertama kan kalian akan menikah tiga minggu lagi. Jadi berbagai persiapan juga sudah matang. Selain itu setelah ini kalian bisa ke butik untuk fitting baju pengantin. Mama mu sudah memilih pakaian yang pas untuk Malisa," jelas Pak Hans.


"Iya, Pa. Terima kasih banyak," sahut Malisa.


"Nah, hal yang kedua adalah. Kamu kan punya pengalaman bekerja sebagai karyawan di perusahaan, ya? Papa ada posisi untukmu, Malisa. Apakah kamu bersedia?" tanya Pak Hans.


"Ya, Pa. Tapi sudah cukup lama aku tak bekerja di kantor," jawab Malisa.


"Tak masalah. Kamu bisa belajar lagi kalau kamu tak keberatan. Nanti Antoni yang akan mengajari mu. Apakah kamu bersedia?" tanya Pak Hans.


"Saya jadi apa, Pa?" tanya Malisa penasaran.


"Jadi asistennya Antoni. Bukan sekretaris ya, tapi asisten saja. Kamu akan membantu Antoni dalam bekerja," jawab Pak Hans.


"Apakah Antoni sudah tahu masalah ini?" sahut Dimas.


"Sudah, kami sudah membicarakan masalah itu. Apakah kamu bersedia, Malisa?" tanya Pak Hans lagi.


Malisa menoleh ke arah Dimas. Dimas pun mengangguk.

__ADS_1


"Baik, aku bersedia," jawab Malisa.


"Oya, oke. Syukurlah kalau Malisa mau. Dan kamu bisa bekerja setelah sudah menikah dengan Dimas." Pak Hans menjeda dengan minum kopi yang ada di sampingnya.


__ADS_2