Pelakor itu Babysitterku

Pelakor itu Babysitterku
Kebakaran


__ADS_3

Mata Angel membulat sempurna. Ia tak menyangka di momen tersebut ia justru diputuskan oleh Antoni di hadapan orang tuanya Antoni.


Malisa juga hanya diam. Ia tak bisa berbuat banyak. Karena ia juga tak pernah mengenal Antoni maupun Angel. Dimas menggenggam tangan Malisa. "Kamu tenang saja, ya!" ucap Dimas.


Malisa menoleh dan menganggukkan kepalanya.


"Nggak, nggak bisa kaku putuskan aku, Antoni. Aku sudah datang ke sini dan aku hanya mengatakan tentang kejelasan hubungan kita," ucap Angel tak terima dengan keputusan Antoni.


"Aku sudah mengatakan sebelumnya kalau kamu nggak bisa menikah denganku kalau kamu belum lulus kuliah, Angel. Kamu harus lulus dulu. Malah kamu berbuat nekat seperti ini. Aku benar-benar malu di hadapan keluarga ku," balas Antoni. Ia juga mengusap wajahnya dengan kasar.


Bu Mirna dan Pak Hans juga melihat pertunjukan itu.


"Kamu nggak lihat wanita murahan dan janda itu di sana baru saja dilamar oleh kakakmu. Aku yang anak pengusaha dan jelas asal usulnya malah kamu perlakuan seperti ini. Nggak, aku nggak mau kamu putuskan. Kalau kamu nggak bisa melamar untuk menikah setidaknya kita tunangan dulu," jawab Angel.


Dimas merasa tak terima dengan ucapan Angel yang membawa Malisa kalau Malisa adalah perempuan murahan. Ia kemudian bangkit. Tetapi Malisa melarang. "Jangan kamu ke sana, Dimas!"


"Tapi dia sudah menghina kamu, Malisa. Mulut wanita itu harus diberi pelajaran," jawab Dimas.


"Sudah, biarkan saja! Tidak usah dipikirkan!" sahut Malisa. Ia memang tak mudah tersinggung hanya dengan ucapan seperti itu. Karena apa yang dikatakan Angel memang tidak salah kalau dirinya janda. Tetapi tidak kalau untuk wanita murahan. Tapi ia tak ambil pusing. Ia tak mau sampai ikut tersulut emosi. Ia lebih memilih melanjutkan makannya saja.


Suasana menjadi tak nyaman semenjak kedatangan Angel. Pak Hans juga merasa tidak nafsu makan dengan kedatangan Angel tersebut. Ia menghentikan makannya dan hanya melihat drama antara Antoni dan juga Angel.


"Kamu pergi dari sini! Aku sudah tidak menginginkan kamu ada di sini. Kamu sudah mengganggu acara Keluarga ku," usir Antoni.


Angel tersenyum sambil mendongak. Jadi kamu mempermalukan aku dan membela keluarga mu? Apakah kamu juga punya hati pada janda itu?" tanyanya. Sembari menatap sinis Malisa. Padahal Malisa juga menatap makanannya dengan santai.


"Jaga ucapanmu itu, Angel. Aku benar-benar muak sama kamu. Jadi kamu pergi dari sini!" usir Antoni lagi. Ia sudah tak bisa lagi berhadapan dengan perempuan yang memiliki mulut tak bisa diatur.

__ADS_1


"Oke, aku akan pergi dari sini. Tapi aku tak terima dengan apa yang kamu lakukan sama aku, Antoni," balas Angel kemudian pergi dari hadapan Antoni.


Antoni pun kembali ke meja makannya bersama dengan orang tuanya. "Maaf, Pa, Ma."


"Ya sudah lah, Antoni. Kamu harus bisa lebih bijak lagi dalam memilih perempuan!" tutur Pak Hans.


"Malisa, maafkan kami, ya? Acara lamaran untukmu jadi kacau," ucap Bu Mirna.


"Tidak masalah, Ma. Aku juga tak merasa terganggu kok. Aku sangat menikmati makanan di sini," sahut Malisa.


Antoni merasa bersalah karena tadi Angel sempat mengatakan kalau Malisa wanita murahan. Padahal ia juga paham kalau Malisa bukan wanita seperti itu. Meskipun Malisa janda tapi terhormat. Bahkan ia juga tahu sudah cukup lama Dimas mendekatinya juga tidak tergoda. Barulah beberapa hari terakhir mereka bersama.


"Maafkan atas ucapan mantan pacarku, Malisa!" ucap Antoni.


Malisa sedikit terkejut dengan ucapan Antoni. Ia baru kali ini diajak bicara oleh Antoni. "Oh, tak masalah."


Dimas makin kagum saja dengan kerendahan Malisa. Ia baru kali ini bertemu dengan perempuan bukan hanya cantik wajah tapi juga cantik hatinya.


"Kok dari tadi bilang gitu terus sih?" tanya Malisa. Ia merasa kalau Dimas tidak hanya mengatakan sekali saja.


"Ya, karena aku benar-benar bahagia. Apalagi kalau nanti kita sudah menikah," sahut Dimas. Ia menatap wajah Malisa yang menunduk.


"Ehem, ehem. Wah, yang lagi kasmaran," goda Bu Mirna.


"Oh, ya. Papa sudah merencanakan pernikahan kalian bulan depan, ya? Nggak usah menunggu terlalu lama lagi! Nanti kalian akan menikah di hotel Purnama. Jadi kalian hanya perlu bersiap saja karena semua sudah Papa urus," sahut Pak Hans.


"Sekarang pun Dimas mau kok, Pa,'' balas Dimas sudah tak sabaran ingin menikahi wanita pujaan hatinya yang saat ini ada di samping nya.

__ADS_1


"Sabar dulu lah, Dimas! Semua juga perlu persiapan bukan? Kalau sudah matang maka kalian bisa menikah. Papa akan undang semua keluarga dan kolega Papa," sahut Pak Hans. Ia menggelengkan kepalanya karena ucapan anak sulungnya.


Malisa hanya tersenyum saja. Ia sebenarnya menginginkan pernikahan yang sederhana saja. Tapi calon mertuanya begitu menginginkan pernikahan yang mewah. Ia menurut saja. Lagipula juga hanya sebuah perayaan untuk pertama kali juga.


"Baik, Pa. Papa memang yang terbaik," sahut Dimas.


Mereka pun pulang karena merasa kenyang. Tetapi Malisa mendapatkan telepon. Ia melihat kalau tetangganya yang menelpon. Ia pun mengangkat telepon tersebut.


"Halo?" sapa Malisa.


"Mbak, rumah Mbak Malisa kebakaran." Suara di balik ponsel Malisa begitu kuat.


Ponsel Malisa sampai terjatuh.


"Ada apa, Malisa?" tanya Dimas khawatir baru saja mengambil ponselnya Malisa.


"Rumahku, rumahku kebakaran," jawab Malisa. Ia pun tak kuasa menahan air mata. Jerih payah yang ia kumpulkan selama ini telah hangus dimakan di saja merah.


Dimas terkejut. Ia langsung mengajak Malisa dan kedua orang tuanya ke rumah Malisa.


Mereka pun berada dalam satu mobil Dimas. Tetapi tidak dengan Antoni yang membawa mobil sendiri.


Baru dekat dari rumah Malisa kobaran api pun terlihat begitu parah. Tetapi karena tidak terlalu dekat dengan tetangga maka tidak sampai merembet ke rumah yang lain. Petugas pemadam kebakaran juga telah mencoba terus untuk memadamkan api.


"Rumahku," lirih Malisa. Ia tak kuasa menahan melihat rumah kecilnya itu terbakar. Dan ia tak sempat menyelamatkan beberapa barang miliknya.


"Sabar, Malisa. Kamu harus ikhlas! Mungkin ini ujian buatmu. Tapi Mama menjamin kamu tak akan kesulitan memiliki hunian baru," ucap Bu Mirna dengan menguap bahu Malisa. Ia sedang duduk di samping Malisa.

__ADS_1


Malisa tak menjawab. Ia tak mau menuduh siapa pun yang membakar rumahnya. Tapi bisa jadi memang ada hubungannya dengan Angel yang mengancam Malisa akan membakar rumah Malisa.


Malisa kemudian turun dari mobil beberapa saat kemudian api pun sudah bisa dipadamkan. Malisa begitu sedih semua habis terbakar begitu juga warung kecil baksonya. Padahal ia sudah bersusah payah membuat semua itu.


__ADS_2