Pelakor itu Babysitterku

Pelakor itu Babysitterku
Pertunangan Dimas dan Sherly


__ADS_3

Malisa langsung saja masuk ke dalam rumah. Ia melihat Katy sedang tidur di kamar Mayang bersama dengan Mayang di kamarnya. Malisa tersenyum.


Di tempat lain. Dimas sedang perjalanan pulang. Ia tadi ditelpon papa nya dan disuruh pulang. Sampai di rumah Dimas melihat ada mobilnya Sherly.


Masuk ke dalam rumah ternyata bukan hanya ada Sherly yang ada di sana. Melainkan orang tua Sherly juga. Dimas jadi bertanya-tanya ada apa.


"Ada apa, Pa, Ma? Kenapa menyuruh ku untuk pulang?" tanya Dimas.


"Duduk dulu lah! Nggak sopan ada tamu kok bertanya sambil berdiri begitu," sahut Pak Hans, Papanya Dimas.


Dimas kemudian duduk di samping mamanya.


"Nah, berhubung Dimas sudah sampai mari kita mulai acara kita ini, ya?" ucap Pak Hans.


Dimas mengerutkan keningnya. Ia masih bingung maksud dari Papanya tersebut.


"Mewakili Dimas mari kita mulai acara pertunangan ini!" ucap Pak Hans.


Dimas tersentak. Bagaimana mungkin ia akan bertunangan dengan perempuan yang sama sekali ia tak suka. "Apa ini? Tidak, maaf. Saya tidak mau."


"Dimas, kamu jangan mempermalukan Papa lah! Ini semua kan sudah kamu tahu juga kalau akan terlaksana. Mau tak mau kamu harus setuju," sahut Pak Hans mulai meninggikan suaranya.


"Tapi, Pa. Kenapa seperti ini? Aku kan sudah mengatakan kalau aku tak menyukai Sherly? Bahkan saat ini aku sedang dekat dengan seseorang," jelas Dimas.


Bukannya marah, Sherly justru tersenyum. "Dimas, apa yang kurang dariku? Apakah aku kurang cantik? Apakah aku harus punya anak dulu baru kamu suka sama aku?" tanyanya. Ia sebenarnya sedang menyindir Dimas. Ia tahu tentang Malisa. Sebagai pengacara Sherly pun dengan cepat mendapatkan informasi. "Atau kamu sedang menyembunyikan perempuan di rumahmu itu?" Ia pun ambil langkah cepat untuk bisa memiliki Dimas sehingga tak peduli dengan langkah Dimas yang sedang membantu Malisa. Ia juga tahu kalau sedang melindungi Malisa dan diberikan tempat tinggal di rumahnya Dimas.

__ADS_1


Semua mata tertuju pada Dimas. "Perempuan siapa, Dimas?" tanya Pak Hans.


"Temanku. Dia adalah perempuan yang aku suka," jawab Dimas.


"Dimas!" seru Pak Hans. "Tak peduli apapun sekarang kamu harus bertunangan dengan Sherly!" tandasnya.


"Dimas, perjodohan ini sudah direncanakan sejak lama. Kalau kamu mau membantu orang tak masalah. Tapi kamu tetap harus menikah sama Sherly," imbuh Bu Mirna, mamanya Dimas.


Dimas begitu sayang pada mamanya yang lembut dan penuh kasih sayang. Tapi dalam urusan percintaan mamanya juga tak bisa membantu nya. Jadi mau tak mau Dimas terpaksa harus menerima pertunangan itu.


Sherly pun tersenyum menyeringai. Satu langkah lebih unggul dibandingkan dengan Malisa. Ia memang sudah merencanakan hal itu. Sejak bertemu dengan Dimas dan Malisa di pengadilan tadi, Sherly langsung mencari informasi untuk mencari tahu siapa Malisa.


Sherly telah mengantongi informasi kalau Malisa adalah seorang istri dari manajer sebuah perusahaan. Jadi ia tahu apa yang harus ia lakukan ke depan. Apalagi ia telah bertunangan dengan Dimas menjadikan ia merasa memiliki kekuatan yang lebih kalau akan melawan Malisa. Baginya Malisa bukanlah siapa-siapa.


Setelah selesai Dimas bertunangan dengan Sherly dilanjutkan acara makan bersama. Sejak tadi Sherly bergandengan pada Dimas meskipun Dimas masih saja tak berekspresi. Ia masih memikirkan perasaan nya kepada Malisa.


Akhrinya keluarga Sherly pun pulang begitu juga dengan Sherly. Dimas sedang bersama mamanya di ruang keluarga.


"Ma, kenapa mendadak sekali hari ini? Dimas nggak ngerti," tanya Dimas.


"Ya, sebenarnya Mama juga nggak tahu. Tiba-tiba Sherly dan orang tuanya datang ke sini dan mengatakan harus mengajukan lebih dulu untuk tunangan karena orang tuanya Sherly akan ke luar negeri minggu depan selama satu bulan. Jadi mereka minta untuk segera disegerakan," jelas Bu Mirna.


Dimas menghela napas. Ia pun tak punya pilihan lain.


"Dimas, tadi maksud Sherly perempuan di rumahmu siapa, ya?" tanya Bu Mirna.

__ADS_1


"Ya, dia adalah perempuan yang aku suka, Ma. Jadi dia sebenarnya adalah pasien ku di rumah sakit. Kasihan sebenarnya dia diperlakukan tak baik oleh suaminya. Jadi untuk sementara waktu aku suruh tinggal di rumahku bersama anaknya," jawab Dimas.


"Perempuan yang kamu suka atau kasihani, Dimas? Cinta dan kasihan itu beda tipis. Tapi kenapa kamu suka sama dia padahal dia sudah bersuami? Apa nanti kalau suami nya mencari dan ternyata tinggal di rumahmu? Jadi masalah besar, Dimas!" lanjut Bu Mirna. Ia hanya tak mau sampai ada masalah ke depan membawa istri orang.


"Dia sedang proses perceraian, Ma. Aku cinta sama dia meskipun di awal memang aku kasihan tapi lama kelamaan aku beneran suka sama dia. Dia cantik dan pandai memasak. Sifat nya juga rendah hati," jelas Dimas. Ia memang nyaman bercerita pada mamanya.


"Tapi saat ini kamu sudah bertunangan sama Sherly, Dimas. Bagaimana kalau dia tahu saat ini kamu sedang menyembunyikan perempuan di rumahmu?" tanya Bu Mirna.


"Aku yakin dia sih sudah tahu akan hal itu, Ma. Maka dari itu dia mempercepat pertunangan ini. Tapi aku juga nggak ambil pusing. Aku tetap bisa menjaga Malisa. Jadi tak masalah lah," jawab Dimas.


"Ya sudah kalau gitu. Mama hanya nggak mau kamu sampai kena masalah karena kamu telah menyembunyikan perempuan yang masih berstatus suami orang, Dimas," sahut Bu Mirna.


"Mama tenang saja, ya!" jawab Dimas. Ia kemudian meninggalkan ibunya sendiri di sana dan menuju ke kamar. Ia hanya ingin melepaskan rasa lelah karena hari ini ia telah membuat keputusan yang membuatnya malas. Tapi itu bukan lah masalah besar. Melainkan hanya sebagai awalan saja. Baginya Sherly tidak perlu dipusingkan.


Esok harinya sepulang Dimas kerja, ia mampir ke rumahnya untuk bertemu dengan Malisa.


Tok tok tok.


Dimas saat ini memang membiasakan untuk mengetuk pintu terlebih dahulu meskipun itu di rumah nya sendiri. Hanya saja di sana ada Malisa yang perlu privasi kalau ia tak mengetuk mungkin saja akan membuat Malisa tak nyaman dan terkejut dengan kedatangan nya.


Setelah menunggu beberapa saat Mayang keluar. "P-Pak Dimas."


"Malisa ngapain sama Katy?" tanya Dimas kemudian masuk ke dalam rumahnya. Senyap. Tak ada suara. "Mereka tidur?" tanyanya kembali karena Mayang tak segera menjawab.


"Mereka pergi, Pak," jawab Mayang.

__ADS_1


Dimas langsung berubah ekspresinya. Ia pun berbalik melihat Mayang. "Pergi kemana, Mayang?"


Mayang terdiam sesaat. "Kemarin suaminya ke sini untuk menjemput mereka. Bu Malisa ditarik paksa. Sebenarnya nggak tega tapi saya tak bisa berbuat banyak karena ada Mbak Sherly juga."


__ADS_2