
Bu Mirna menyiapkan segala sesuatu mulai dari pakaian dan juga perlengkapan. Dimas juga baru saja dipindahkan ke ruang rawat inap. Kondisinya sudah cukup stabil. Hal itu membuat Malisa merasa cukup lega. Tetapi Dimas kehilangan ingatan. Menurut dokter, Dimas kehilangan ingatan bahkan tak dapat mengingat apapun. Sehingga ingatan Dimas perlu dikembalikan dengan cara pendekatan. Hanya saja tak boleh terlalu dipaksakan.
Kemampuan Dimas juga belum sepenuhnya kembali. Ia masih belum bisa makan sendiri. Ia masih harus disuapi dengan bubur. Malisa hari ini mulai bekerja sebagai perawat Dimas.
Dimas kembali memejamkan matanya. Bu Mirna pun pamit untuk pulang. "Malisa, tolong titip Dimas, ya? Nanti kalau ada apa-apa kabari ibu, ya? Besok saya ke sini lagi."
"Ya, Bu," jawab Malisa. Ia memang cukup mengantuk. Ia tadi hendak tidur sur tapi justru disuruh menjaga Dimas. Akhirnya Malisa sangat mengantuk dan tidur di tempat tidur yang memang disediakan untuknya.
Tepat pukul enam pagi Malisa membuka matanya. Seorang perawat masuk ke dalam ruang rawat inap Dimas. Malisa merasa tak asing. Karena perawat itu juga dulu yang membantunya saat Katy masih dirawat.
"Suster," sapa Malisa.
"Iya, Bu Malisa. Senang bertemu denganmu lagi. Panggil saja aku Lena,'' sahut Lena.
"Oh, iya suster Lena. Bagaimana kondisi dokter Dimas?" tanya Malisa.
"Kondisinya sudah membaik. Memang ingatannya saja yang belum kembali. Tapi saya yakin kalau dokter Dimas bisa segera kembali ingatan nya karena ada Bu Malisa," jawab Lena.
"Ah, suster ini apa sih. Saya di sini kerja kok," balas Malisa.
Saat yang bersamaan ternyata Dimas membuka matanya. "Kalian siapa?" tanya Dimas.
"Saya perawat, dokter. Dokter Dimas akan didampingi oleh suster Malisa, ya? Ini makan paginya sudah saya siapkan nanti suster Malisa yang akan menyuapi dokter Dimas," jelas suster Lena.
"Kenapa? Aku nggak mau. Aku nggak kenal siapa pun di sini. Kalian bisa pergi dari sini!" usir Dimas.
Melihat hal itu membuat Malisa merasa sedih. Ia biasanya melihat Dimas yang lemah lembut bukan malah kasar seperti itu.
"Ya, saya akan pergi. Karena dokter Dimas juga butuh pendamping. Maka suster Malisa lah yang akan di sini menemani dokter," jawab suster Lena.
"Kenapa kalian panggil aku dokter?" tanya Dimas lagi.
"Karena anda adalah seorang dokter di sini. Saya yang selalu mendampingi dokter Dimas di sini," jelas suster Lena.
__ADS_1
Malisa mulai memahami bagaimana cara berkomunikasi dengan Dimas. Ia membuang rasa sedih. Ia juga akan berusaha mengembalikan ingatan Dimas. "Ya, dokter. Saya yang akan membantu dan menemani dokter Dimas selama proses pemulihan."
Suster Lena pun tersenyum. "Kalau begitu saya permisi dulu, ya?"
Dimas nampak lesu. Ia memang sudah banyak bisa berkomunikasi hanya saja ia terlihat asing dengan orang-orang yang ada di dekatnya. Terutama Malisa. Tetapi demi kesembuhannya Dimas menurut saja.
"Dokter Dimas makan dulu, ya? Saya suapin," ucap Malisa sudah membawa mangkuk berisi bubur.
Tempat tidur Dimas pun agak ditegakkan agar bisa makan dengan nyaman. Satu suapan telah Malisa berikan.
"Nggak enak," ucap Dimas.
"Dokter Dimas mau makan apa?" tanya Malisa.
"Aku nggak suka makan itu. Carikan yang lain!" jawab Dimas.
Malisa mencoba memutar otak. Ia pun berfikir untuk membuat masakan sendiri. Kebetulan di ruang tersebut difasilitasi dapur minimalis. Ada beberapa makanan yang ada di kulkas. Ia pun mencoba membuat bubur dari tangannya sendiri. Ia kemudian membuat dengan sepenuh hati.
"Dokter, saya mencoba membuat bubur ayam ini. Semoga dokter Dimas suka." Malisa kembali menyuapkan kepada Dimas dari bubur hasil buatannya.
"Yah, ini lumayan," ucap Dimas.
Malisa pun senang karena Dimas menyukainya. Bahkan Dimas sampai habis satu mangkuk.
"Syukurlah kalau dokter Dimas suka. Nanti saya buatkan lagi," ucap Malisa.
Siang harinya Bu Mirna datang menjenguk Dimas. Ia senang karena Malisa mau merawat Dimas. Memang setelah mengalami amnesia sifat Dimas jauh berbeda. Menjadi lebih angkuh dan juga cuek. Malisa sebenarnya juga rindu dengan Dimas yang dulu. Tapi Malisa juga sadar kalau saat ini Dimas sedang amnesia.
"Malisa, kamu bisa istirahat dulu dan saya yang akan menjaga Dimas sementara waktu," ucap Bu Mirna.
Malisa pun permisi dan pulang. Ia memang tidak terlalu lelah tapi ia juga membiarkan Ibu dan anak agar bisa lebih dekat dan bisa mengembalikan ingatan Dimas.
Hanya berselang dua jam Malisa sudah kembali ke rumah sakit. Di rumah tadi Malisa menyempatkan untuk tidur sebentar dan memasak bubur lagi. Ia menambahkan cita rasa karena ia senang Dimas menyukai masakannya.
__ADS_1
Di rumah sakit Bu Mirna juga sedang membaca majalah. Sementara Dimas sedang tertidur.
"Malisa, kamu sudah datang," ucap Bu Mirna.
"Iya, Bu. Saya tadi memasak untuk dokter Dimas," jawab Malisa.
"Ya, sepertinya Dimas tak menyukai masakan rumah sakit. Dia tadi mau makan masakanmu. Kan tadi kamu buat sekalian untuk siang, ya?" balas Bu Mirna. Memang Malisa tadi membuat untuk dua kali makan. Dan ternyata sudah habis.
"Iya, Bu. Sangat hebat sekali fasilitas di rumah sakit ini bisa menyediakan dapur pribadi seperti ini di kamar rawat." Malisa memang belum pernah melihat ada rumah sakit yang seperti itu.
Bu Mirna hanya menjawab dengan senyum. "Malisa, saya mau pulang dulu. Besok saya ke sini lagi."
"Ya, Bu." Malisa mengantarkan Bu Mirna sampai ke depan pintu.
Setelah Malisa menutup kembali pintu ternyata membuat Dimas terbangun. "Mana mamaku?" tanyanya.
"Beliau sudah pulang dokter," jawab Malisa.
"Oh, aku mau jalan-jalan keluar," ucap Dimas.
Malisa pun membantu Dimas untuk turun dari tempat tidur. Baru kali ini ia bisa sedekat itu dengan Dimas. Biasanya ia juga hanya sebatas menyapa dan tak pernah bersentuhan langsung dengan Dimas. Tapi kali ini Malisa benar-benar bisa lebih dekat.
Malisa pun mengajak Dimas untuk jalan-jalan di taman samping rumah sakit. Melihat pemandangan di sore hari memang cukup sejuk. Dimas terlihat seperti sedang merenung dan memperhatikan sekitarnya.
"Apakah sudah selesai, dokter?" tanya Malisa.
"Aku masih ingin di sini. Kalau kamu mau kembali, kembali saja dan tinggalkan saya di sini," jawab Dimas.
"Bukan seperti itu maksud saya, dokter. Saya akan menemani dokter di sini," balas Malisa.
Setelah matahari akan tergelincir barulah Dimas mau kembali ke ruang rawatnya.
Satu bulan berlalu. Malisa selalu setia menemani Dimas di rumah sakit. Di sisi satu ia senang kalau hutang nya pada Bu Mirna bisa lunas dengan cepat. Dan sisi lain bisa lebih dekat dengan Dimas.
__ADS_1