Pelakor itu Babysitterku

Pelakor itu Babysitterku
Dimas koma


__ADS_3

"Maaf, Doni. Cukup aku berurusan denganmu. Jadi tolong kamu tinggalkan aku di sini. Apapun yang terjadi masa lalu itu adalah masa lalu. Aku tak mau kembali sama kamu lagi. Jadi tolong kamu pergi dari sini!" pinta Malisa. Ia kemudian meninggalkan Doni dan Dimas di sana.


Doni tak menggubris. Ia justru melihat Dimas yang ikut meninggalkan nya. Tiba-tiba Doni menarik lengan Dimas dan ia pun mengajar habis Dimas. Pukulan berat diberikan ke wajah Dimas bahkan Doni pun membenturkan kepala Dimas ke semen jalan. Dan karena hal itu darah segar pun keluar dari wajah dan telinga Dimas.


Suasana pun menjadi sangat riuh. Orang pun memegang Doni agar tidak lagi melakukan hal yang lebih anarkis. Ada juga yang memanggil polisi dan ambulans.


Malisa makin histeris. Ia merasa sangat tak kuasa melihat darah yang keluar dari Dimas. Ia bahkan tak percaya kalau Doni akan melakukan hal itu.


Tak lama kemudian ambulans pun datang bersama dengan polisi. Doni langsung dibawa ke kantor polisi sementara Dimas dibawa ke rumah sakit. Rumah Malisa sementara waktu dipasang garis polisi.


Malisa ikut di dalam ambulans. Sebenarnya ia juga merasa sangat ngeri ngeliat begitu banyak darah sampai wajah Dimas pun tak terlihat kalau orang melihat pun tak akan mengenali Dimas.


Malisa hanya berdoa kalau Dimas nisa segera mendapatkan pertolongan. Begitu sampai di rumah sakit Dimas pun langsung mendapatkan perawatan dadi dokter di sana. Malisa diminta menunggu di depan ruang UGD.


Entah dari mana juga informasi sampai ke telinga Bu Mirna sampai ia pun sudah mendengar akan hal itu. Ia melihat Malisa sedang duduk di sana. Pakaiannya pun berlumuran darah.


"Malisa, apa yang terjadi dengan Dimas?" tanya Bu Mirna.


''Oh, Bu. Kejadian benar-benar tak terduga." Malisa kemudian menceritakan kejadian awal saat Dimas datang ke sana dan sudah ada Doni, mantan suaminya. Meskipun awalnya ada keributan dan Malisa juga sudah menyuruh pergi Doni ternyata kejadian itu benar-benar cepat.


"Ya Tuhan." Sebagai ibu tentu Bu Mirna akan sangat sedih melihat putranya terluka. Ibu mana yang tega melihat anaknya seperti itu. Ia pun menjadi lemas.


Cukup lama Dimas di sana. Hingga akhirnya dokter pun memutuskan untuk memindahkan ke ruang ICU karena kondisi Dimas makin memburuk.


Malisa juga hanya bisa berdoa. Ia tak bisa melakukan apapun untuk saat ini. Ia juga sangat menyesal hal itu bisa terjadi pada Dimas.

__ADS_1


"Malisa, sebaiknya kamu ganti baju dulu!" tutur Bu Mirna.


"Tapi, Bu. Dokter Dimas bagaimana?" tanya Malisa.


"Dokter sedang menanganinya. Kamu sebaiknya juga membersihkan diri dulu! Biar supir yang akan mengantarkan kamu," jawab Bu Mirna.


Malisa menurut. Memang ia sebenarnya tak nyaman memakai pakaian yang penuh darah. Aromanya juga sangat tidak sedap.


Malisa pun pulang. Polisi masih berjaga di sana untuk mengamankan tempat tersebut. Malisa juga hanya mengatakan kalau hanya akan ganti pakaian dan mengambil beberapa barang.


"Bu, untuk kasus ini ibu sebagai saksi jadi nanti diminta untuk ke kantor polisi untuk memberikan keterangan, ya?" ucap polisi.


"Baik, Pak. Besok saya akan ke kantor polisi, Pak," jawab Malisa.


Polisi pun mengangguk dan membiarkan Malisa meninggalkan rumahnya.


"Bu, apakah dokter Dimas sudah sadar?" tanya Malisa.


"Belum. Kata dokter saat ini Dimas sedang koma. Dia pun kehilangan banyak darah," jawab Bu Mirna.


Malisa terkejut. Memang ia tak tahu pastinya tapi darah yang keluar tadi memang cukup banyak.


Seorang suster menghampiri Malisa dan Bu Mirna. "Bu, apakah di sini ada yang bergolongan darah O? Rumah sakit ini sedang kehabisan golongan darah O dan kami tanya pihak bank darah juga sedang kehabisan."


Malisa bahkan tak yakin golongan darahnya sendiri. "Sus, apakah boleh mengecek golongan darah saya? Saya juga tak tahu. Kalau memang iya saya bisa mendonorkan darah untuk dokter Dimas."

__ADS_1


"Baiklah. Kalau begitu bisa ikut saya!" Perawat tersebut membawa Malisa ke sebuah ruangan.


Tak berselang lama Malisa pun keluar.


"Malisa, bagaimana?" tanya Bu Mirna.


"Syukurlah, golongan darah saya sesuai dengan Dimas, Bu," jawab Malisa. Ia memang merasa agak lemas karena harus mendonorkan darah. Perawat menyuruh Malisa untuk makan gang banyak dan juga minum susu. Karena kondisi Malisa memang sebenarnya kurang fit. Tetapi Malisa bersedia mendonorkan darah. Itu juga sebagai balas budi pada Dimas yang telah banyak membantunya.


Selama satu minggu Dimas berada di ruang ICU tanpa menunjukkan tanda akan sadar. Dokter spesialis bahkan sudah turun tangan untuk menangani Dimas dengan cara hang terbaik.


Bu Mirna dan Pak Hans mencoba untuk mencari tahu solusi terbaik. Menurut dokter Dimas boleh dibawa ke luar negeri tetapi saat perjalanan membutuhkan fasilitas kesehatan yang optimal. Tetapi dokter juga tak terlalu yakin. Akhirnya Dimas tetap dirawat di sana dan menunggu keajaiban agar Dimas bisa segera sadar juga.


Malisa juga meninggalkan warungnya dan menutup sementara waktu.


Malisa juga bolak balik ke rumah sakit dan kantor polisi karena ia juga harus memberikan keterangan. Doni memang dinyatakan bersalah. Selain Malisa juga ada pengunjung di warungnya yang memberikan kesaksian.


Bahkan sampai saat ini Malisa juga masih menunggu saat yang tepat untuk bisa bertemu dengan Dimas. Ia ingin minta maaf. Sebenarnya ia juga punya perasaan sama Dimas. Hanya saja ia merasa tak pantas untuk Dimas. Dimas orang kaya raya dan keturunan orang kaya pula apalagi statusnya dokter. Sedangkan Malisa hanya lah orang sebatang kara tak memiliki apapun. Rumah pun masih dibantu oleh keluarga nya Dimas. Sehingga ia berfikir kalau ia tak mau lebih jauh dengan Dimas. Tapi apalah daya saat ini Malisa justru tak punya kesempatan untuk mengungkapkan perasaan nya.


"Malisa, apakah kamu ingin menemui Dimas? Coba berikan afirmasi positif untuk Dimas!" tutur Bu Mirna.


"Saya, Bu?" tanya Malisa ragu.


"Iya, coba saja! Kata dokter meskipun sebenarnya ia tak sadar tapi alam bawah sadar nya bisa saja mendengar. Jadi ada baiknya kamu memberikan semangat juga untuknya untuk terus berjuang demi bisa sembuh," jelas Bu Mirna.


Malisa menghela napas. Ada kesempatan untuk bisa bertemu dengan Dimas. Ia pun mengenakan pakaian khusus di ruang ICU. Melewati pintu ia akhirnya sampai di tempat dimana Dimas dirawat.

__ADS_1


Dimas nampak memakai banyak alat bantu. Perban juga masih terpasang di wajah serta beberapa bagian tubuh lainnya. Untuk pertama kali setelah Dimas mengalami penganiayaan oleh Doni akhirnya Malisa bisa bertemu dengan Dimas. Meskipun saat ini kondisi Dimas sangat jauh berbeda dari sebelumnya.


__ADS_2