Pelakor itu Babysitterku

Pelakor itu Babysitterku
Iri


__ADS_3

"Kok kamu bilang gitu sih? Katamu status apapun nggak peduli yang penting aku bisa memuaskan kamu," protes Mona.


"Iya, kalau cuma nikah siri sih nggak masalah. Tapi kalau untuk nikah resmi aku kira enggak. Kamu tak cukup baik untuk itu," jawab Doni.


Mona merasa geram dengan perkataan Doni. Ia tak menyangka kalau Doni akan berkata seperti itu padanya. "Doni, apa-apaan sih kamu! Kamu nggak menghargai aku sebagai istrimu."


"Apa maksud mu? Apa yang aku katakan memang benar, kan? Sudah, kamu mandi sana sebentar lagi aku mau pakai kamu," titah Doni.


"Hey, memangnya aku barang yang bisa kamu pakai seenaknya. Aku nggak mau kalau kamu nggak meresmikan pernikahan kita," tandas Mona. Ia kemudian meninggalkan dapur dan juga Doni.


Doni meraih tangan Mona. "Hey, kamu berani sama aku? Aku bisa melakukan apapun yang aku mau. Kamu ingat istri sah ku saja aku buat dia menderita karena tak mau mendengarkan omongan ku? Apalagi kamu yang hanya istri siri, hah?" Ia kemudian memegang dengan keras mulut Mona sampai Mona juga tak bisa bergerak.


"Ba-baik," jawab Mona merasa takut. Ia pun tak berani melawan lagi. Ia paham saat ini berhadapan dengan siapa. Ia tak mungkin lagi mengelak. Daripada ia akan bernasib sama dengan Malisa setidaknya saat ini ia sudah hidup enak. Baginya saat ini tak masalah kalau hanya istri siri. Karena apapun yang ia inginkan juga tercapai. Ia hanya perlu bekerja melayani Doni itu saja.


*


Sherly hari ini ingin ke butik untuk memilih gaun yang akan ia pakai di hari pernikahan nya dengan Dimas. Tetapi ia tak mau berangkat sendiri. Ia harus mengajak Dimas agar tak merasa sendiri. Ia pun menghubungi Dimas. Beberapa kali Sherly menghubungi Dimas tersambung tapi Dimas mengabaikan panggilan tersebut.


Sherly tahu saat ini Dimas sedang tidak bekerja. Sehingga ia harus mengajak Dimas sebelum Dimas ke rumah sakit.


Karena merasa lelah, Sherly langsung saja menuju ke rumah Dimas. Ia melihat mobil Dimas ada di sana.


Tak perlu mengetuk pintu Sherly segera masuk ke dalam. Ia melihat Dimas sedang membaca koran di halaman belakang.

__ADS_1


"Dimas! Kenapa kamu tak mengangkat telepon ku? Aku menghubungi kamu dari tadi. Aku tahu kamu belum berangkat ke rumah sakit jadi aku minta kamu untuk temani kamu untuk fitting baju pernikahan kita sekarang," rengek Sherly.


Dimas masih saja terdiam di depan koran yang ia baca. Ia pun sebenarnya sudah tak fokus membaca. Hanya saja ia malas berbicara dengan Sherly.


"Dimas!" seru Sherly kemudian membuang koran yang dibawa Dimas.


Dimas pun menatap koran yang dibuang Sherly. "Apa sih kamu?" tanyanya dengan mengambil lagi koran tadi.


Tetapi Sherly segera menginjak koran tadi dan membuat koran itu menjadi robek.


"Kamu bisa pergi dari sini, nggak?" tanya Dimas.


"Kok kamu jadi mengusir aku sih? Aku kan mengajak kamu untuk fitting baju pernikahan tapi dari tadi kamu tak menyahut," balas Sherly merasa kesal.


"Memang siapa yang ingin menikah sama kamu, Sherly? Kamu kira aku mau menikah sama perempuan yang kasar dan penuh drama. Kalau lelaki nggak mau kamu maksa terus makin jijik aku liatnya." Dimas berkata dengan pelan tapi penuh duri.


"Ayo, berangkat! Atau aku telepon papamu, ya?" ajak Sherly. Ia juga sudah biasa mengancam Dimas.


Tapi bagi Dimas sudah cukup. Ia tak peduli dengan Sherly. "Pergi sana sendiri! Siapa juga yang mau menikah sama kamu. Aku tak mau. Sejak awal juga memang aku sudah tak ada rasa dan kamu selalu memaksa. Untuk pernikahan itu dari hati bukan paksaan."


Sherly mulai tersulut emosi. "Dimas, bisa-bisanya kamu mencampakkan calon istrimu sendiri. Apa kata orang tua kita nanti kalau tahu kamu seperti ini?"


"Siapa yang ingin menikah sama kamu? Kalau kamu mau menikah ya carilah calon suami yang bisa mencintai kamu. Bukan memaksa aku untuk mencintai kamu seperti ini," jelas Dimas. Ia menghela napas. Ia kemudian bangkit. "Sherly, percaya lah kalau kamu juga akan menemukan jodohmu. Tapi bukan aku. Karena aku sama sekali tak ada perasaan sama kamu. Kamu bisa mencari lelaki lain. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya untukmu kalau kamu tak perlu menjadi pengemis cinta!" imbuhnya.

__ADS_1


Mata Sherly membulat sempurna. ''Kamu sudah keterlaluan, Dimas. Kamu jahat sekali jadi lelaki. Aku mengenalmu sebagai lelaki yang lemah lembut."


"Sudah tahu kalau aku jahat? Sekarang kamu bisa meninggalkan aku, kan?" balas Dimas. Ia kemudian menuju kamar. Ia tak peduli dengan Sherly.


Sherly yang merasa marah kemudian meninggalkan rumah Dimas. Ia kemudian memikirkan cara lain.


Di tempat kerja Malisa.


"Malisa, kamu memang handal memasak. Aku nggak menyangka kalau kamu pandai memasak dan juga rajin bekerja. Dulu kamu kerja dimana?" tanya Bu Rahma. Hari sudah sore dan Malisa sudah saatnya pulang. Meskipun warung buka sampai malam tapi jam kerja Malisa hanya sampai sore karena Malisa juga memiliki bayi dan diberikan keringanan.


"Saya tak bekerja, Bu. Saya hanya di rumah saja," jawab Malisa berbohong. Ia tak mau mengatakan yang sebenarnya. Jadi ia hanya mengatakan yang seadanya saja.


"Wah, tapi kamu sangat pengalaman sekali. Saya senang punya karyawan kamu," puji Bu Rahma.


Mendengar hal itu karyawan masak Bu Rahma merasa sedikit cemburu. Ia sudah kerja di sana selama bertahun-tahun hanya dikalahkan oleh kedatangan Malisa. Ya, dia adalah Lira. Ia ibu rumah tangga yang biasanya menjadi tukang masak di sana. Sehingga ia pun merasa terasingkan.


"Kalau gitu saya pamit dulu ya, Bu," pamit Malisa.


"Ya, hati-hati, Malisa!" balas Bu Rahma kemudian memeriksa jatah makannya pada Malisa. Awalnya memang ia hanya kasihan melihat Malisa. Tetapi sejauh ini justru ia merasa senang karena Malisa telah bekerja di tempatnya.


Sampai di kost. Seperti biasanya Bu Yuni memberikan Katy. Lelah yang dirasa Malisa selama seharian terasa hilang saat melihat Katy.


Setelah dibawa ke kamar, Malisa melihat seperti ada lebam di bagian pipi Katy. Malisa pun melihat dan mengusap dan justru Katy menangis. "Kok bisa begini?" gumam Malisa.

__ADS_1


Malisa mulai cemas. Apakah tadi sempat jatuh. Tapi tentu ada alasan. Ia sementara waktu istirahat karena akan bertanya pada Bu Yuni setelah itu. Setelah dirasa cukup, ia pun keluar untuk menemui Bu Yuni.


"Bu Yuni," panggil Malisa.


__ADS_2