Pelakor itu Babysitterku

Pelakor itu Babysitterku
Memilih gaun


__ADS_3

"Tapi untuk waktu sebelum itu kalian bisa fokus untuk pernikahan kalian. Cuma, Malisa nanti akan diberikan beberapa file untuk dianalisis dan juga bisa banyak belajar. Jadi nanti bekerja di rumah sini saja dulu karena akan terhubung dengan kantor," jelas Pak Hans.


Malisa merasa sedikit senang karena ada titik terang ia akan kembali bekerja. Meskipun ia juga agak lupa kalau urusan kantor. Ia sudah meninggalkan kantor sekitar satu tahun lebih. Tetapi Malisa akan belajar dengan baik sampai ia bisa bekerja dengan baik.


"Malisa, apakah kamu senang bisa bekerja kembali?" tanya Dimas. Ia memang paham kalau Malisa ingin bekerja. Tetapi ia juga tak mau memaksa Malisa untuk bekerja. Ia menyerahkan sepenuhnya kepada Malisa.


Setelah dari rumah orang tua Dimas, Malisa menuju ke butik untuk fitting baju pengantin. Bu Mirna sudah memesan khusus untuk kedatangan Malisa dan juga Dimas.


Malisa pun masuk ke butik tersebut dan disambut baik oleh pegawai di sana. Karena mereka memang tamu yang sudah reservasi Malisa dan Dimas menuju ke galeri.


Malisa mengatakan pada Bu Mirna untuk tidak membeli gaun pernikahan kecuali untuk akad nikah. Ia tak mau menghamburkan uang hanya untuk sekali pakai saja. Sehingga Bu Mirna memesan untuk sewa meskipun beli sepuluh gaun pun bisa. Tapi Bu Mirna menuruti permintaan Malisa. Hanya saja gaun yang akan dipakai Malisa nanti adalah gaun baru yang pertama kali akan dipakai oleh Malisa.


"Silahkan dilihat dulu yang mana!" ucap pegawai butik tersebut.


Malisa pun berkeliling melihat beberapa pilihan gaun. Ia memilih gaun untuk resepsi saja. Sementara untuk akad nikah sudah dipesan dan ia hanya perlu untuk melakukan pengukuran.


Malisa melihat gaun berwarna peach. "Dimas, bagaimana menurutmu?" tanyanya.


"Bagus, coba pilih satu untuk dipakai pertimbangan!" titah Dimas.


Malisa pun melihat ada gaun berwarna hijau muda. Ia sebenarnya suka tapi ia trauma dengan gaun berwarna itu karena teringat pernikahan nya dengan Doni.


"Itu juga bagus," ucap Dimas dengan menunjuk ke gaun yang berwarna hijau muda yang Malisa lihat tadi.


"Em, iya. Bagus," sahut Malisa singkat.


"Itu sepertinya cocok untukmu," ucap Dimas kemudian menghampiri gaun berwarna hijau muda yang cukup soft. "Bagaimana menurut mu?"


"Ya, bagus," jawab Malisa.


Dimas menangkap sesuatu yang aneh dari Malisa. "Ada apa, Malisa?" tanyanya.

__ADS_1


"Dulu aku menikah pakai gaun berwarna itu," jawab Malisa.


"Oh karena hal itu. Kamu tenang saja! Kamu akan mengingat sesuatu yang indah setelah ini. Kamu nggak perlu memikirkan masa lalu lagi! Karena aku akan mengukir sesuatu yang indah. Apakah kamu mau?" tanya Dimas.


Malisa mengangguk. Pegawai tadi pun membantu Malisa untuk menggunakan gaun tersebut. Ia begitu cantik nampak terlihat jelas saat menggunakan gaun tersebut.


"Bagaimana?" tanya Malisa sedikit ragu.


"Cantik. Kamu benar-benar cocok pakai gaun itu," jawab Dimas dengan memberikan dua jempol tangannya.


Malisa pun tersenyum tipis. Setelah selesai semua urusan di butik Dimas mengajak Malisa untuk pulang.


"Malisa, besok aku tak bisa menjemput mu. Mungkin supirnya papa yang akan menjemput mu," ucap Dimas.


"Oh, aku bisa berangkat sendiri kok. Lagipula dekat juga," jawab Malisa.


"Aku nggak mau kalau kamu berangkat sendiri. Nanti biar supirnya papa yang akan menjemput kamu, ya?" balas Dimas.


"Ya sudah kalau begitu." Malisa pun menurut.


Malisa juga belum membicarakan masalah pekerjaan dengan Antoni. Karena Malisa juga jarang berkomunikasi dengan Antoni.


Menunggu cukup lama tak ada kabar Malisa pun hendak memesan taksi online. Saat masih mencari taksi online sebuah mobil berhenti di hadapannya.


Tin tin tin.


Suara klakson berasal dari mobil tersebut. Malisa sudah bisa menduga kalau itu adalah supirnya Pak Hans yang menjemputnya. Setelah pamit pada Mayang, Malisa pun hendak masuk mobil tersebut. Saat ia membuka pintu ia segera masuk ke kursi belakang kemudi.


"Pindah ke depan!" titah suara yang tak asing bagi Malisa kemudian ia melihat kalau itu adalah Antoni.


"Kok kamu yang jemput?" tanya Malisa merasa bingung dan canggung.

__ADS_1


"Pindah saja ke depan! Aku kan bukan supir," sahut Antoni.


Malisa pun Pindah ke depan dengan ragu. Ia merasa cukup canggung. Ia pun hanya terdiam duduk di samping Antoni.


Sepanjang perjalanan pun Antoni juga hanya diam. Apalagi Malisa makin merasa bingung saja. Ia memilih untuk melihat ke arah jendela mobil yang ada di samping kirinya.


"Malisa, aku dengar kamu menerima tawaran papa untuk bekerja denganku?" tanya Antoni.


"Em, iya. Apa yang harus aku kerjakan?" balas Malisa.


"Nanti di rumah aku jelaskan," jawab Antoni.


Tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah orang tua Dimas dan Antoni. Antoni langsung membawa Malisa melalui lift yang ada di depan jadi tak masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke ruang kerja yang mirip di kantor. Malisa pun mengikuti kemana Antoni berjalan.


Antoni membuka komputer di salah satu meja di sana. Malisa pun masih terperangah ternyata di rumah Dimas ada ruang khusus untuk bekerja. Tak jauh beda dengan kantornya bekerja dulu. Hanya saja ini hanya disebut sebagai ruang kerja di rumah saja. Malisa masih menyapu pandangan di ruang sana tanpa melihat ke arah Antoni yang masih sibuk berkutat di depan komputer.


"Malisa," panggil Antoni.


Malisa kembali fokus. "Iya?"


"Ini ada file yang perlu kamu pelajari untuk sementara waktu. Aku berikan sampai hari ini. Besok kamu kasih aku hasilnya!" titah Antoni.


Malisa mencoba mengecek perlahan. "Oh, baik. Aku akan coba sekarang."


"Aku akan ke kantor. Jadi kamu akan di sini sendiri. Nanti ketika jam makan siang kamu bisa istirahat ke bawah. Apakah kamu sudah paham?" tanya Antoni.


Malisa menganggukkan kepala nya. "Iya, aku paham."


"Satu lagi jam kerja mu hanya sampai jam 2 siang saja," imbuh Antoni.


Malisa kembali mengangguk. Antoni kemudian meninggalkan Malisa benar-benar sendiri di sana.

__ADS_1


Malisa sebenarnya juga agak bingung. Di sana sendiri tak ada orang lagi. Tapi ia berusaha fokus karena justru bagus kalau ia sendiri jadi ia tak ada yang mengganggu dan bisa fokus bekerja saja.


Malisa berusaha untuk memahami file yang ada di hadapannya. File itu berupa laporan keuangan juga beberapa laporan produksi. Memang Pak Hans adalah pemilik perusahaan di bidang garmen yang tak jauh beda dengan pekerjaan Malisa dulu.


__ADS_2