Pelakor itu Babysitterku

Pelakor itu Babysitterku
Rumah kedua Dimas


__ADS_3

"Untuk sementara waktu, kamu dan Katy tinggal dulu di sini," ujar Dimas, setelah membawa Malisa dan juga Katy ke rumahnya.


Rumah itu tidak terlalu besar, akan tetapi rumah itu sudah lebih dari cukup untuk ditempati oleh sebuah keluarga utuh. Ia juga sering mengunjungi rumah itu. Dia memutuskan untuk memberikan rumah itu agar bisa ditinggali sementara waktu oleh Malisa, yang benar-benar sudah tak ingin lagi melihat tampang suaminya yang maniak **** itu dan berdebat dengan Doni yang selalu ingin membawa Katy pergi.


Malisa yang tengah menggendong Katy pun berbalik sambil tersenyum pada dokter yang sudah lebih daripada sekedar penyembuh dirinya.


"Terima kasih banyak, Dokter. Saya sudah tak tahu lagi apa yang harus saya lakukan untuk menebus semua kebaikan dokter Dimas."


Dokter itu pun tersenyum. "Bu Malisa sama sekali tak perlu memikirkan semuanya. Saya tulus membantu. Dan saya harap, semuanya akan berjalan sesuai dengan apa yang ibu harapkan. Kalau begitu, saya pamit dulu, karena ada beberapa hal yang harus saya selesaikan terlebih dahulu." Dokter itu kemudian berpamitan dan pergi meninggalkan Malisa beserta putrinya di rumahnya sementara waktu.


"Iya, baik, Dok. Sekali lagi terima kasih, banyak."


Setelah berterima kasih sekali lagi pada Dimas, Dimas pun kembali tersenyum dan mengangguk. Setelah semuanya selesai, dia pun langsung pergi menyelesaikan urusannya yang lain.


Melisa melihat dokter yang selalu membantunya itu pergi keluar, kemudian setelah Dimas pergi dengan sempurna meninggalkannya, barulah Malisa terlihat gugur dan terduduk.


"Hiks!" Suara tangisan yang bercampur dengan rasa penyesalan karena sudah memilih pria yang salah, terus saja terdengar memenuhi rumah yang baru saja ia tempati.

__ADS_1


Ya, Malisa sangat menyesal karena sudah memilih Doni untuk menjadi suaminya. Akan tetapi apalagi yang harus ia lakukan? Dia bahkan sudah memiliki buah hati bersama dengan pria sampah itu. Apakah dia harus mengubah waktu dan memutuskan untuk tidak bertemu dengan Doni? Jawabannya tidak! Dia tidak bisa melakukan semua itu.


Malisa pada akhirnya hanya mengambil barang-barang yang saat itu sudah ia bawa, kemudian menaruhnya di dalam kamar sembari merapikannya.


"HHhH!" Sesekali wanita itu pun menghela nafasnya karena merasa begitu sesak. Dan akhirnya, dia pun kembali pada apa yang saat itu sedang ia lakukan.


"Sebaiknya, aku mulai dari tempat ini terlebih dahulu. Katy pasti akan lebih sering bermain di sini. Maka dari itu aku harus membersihkan setiap sudut dari ruangan ini, agar anakku bisa bermain dengan tenang," ucapnya, yang kemudian mulai menidurkan putrinya, dan memutuskan untuk membersihkan seisi rumah itu sendirian.


Dia sama sekali sudah tidak mempercayai siapapun lagi. Entah itu suami, pembantu, atau babysitter. Semuanya merupakan sampah di matanya, dan dia sama sekali tak mau menaruh kepercayaan kepada mereka bahkan secuil pun. Hanya Dimas, hanya Dimas lah satu-satunya orang yang bisa ia percaya dan juga orang yang selalu membantunya di manapun dan apapun keburukan yang menimpanya.


Malisa merasa sangat berterima kasih kepada dokter yang sudah merawatnya itu. Akan tetapi di lain sisi dia juga merasa sangat bersalah, karena masalah keluarganya, dia harus mau bebankan orang lain dan turut menyeret orang lain ikut merasakan beban hidupnya.


Ternyata, setelah diperhatikan dengan lebih seksama, rumah yang telah menjadi rumah kedua dari Dimas itu cukup besar dan juga indah.


Malisa merasa sayang. "Kenapa rumah seperti ini tak pernah ditinggali oleh siapapun dan hanya sesekali didatangi oleh Dokter Dimas?"


Pernah terbesit di dalam pikirannya, bahwa mungkin saja kehadirannya yang terlihat begitu dekat dengan dokter Dimas akan membuat orang yang melihat menjadi salah paham. Akan tetapi ketika ia mempertanyakan dan membahas hal itu dengan Dimas, Dimas sama sekali tidak peduli dan tidak terlihat keberatan.

__ADS_1


Malisa lambat-laun mulai nyaman tinggal di sana. Sesekali Dimas juga datang ke sana untuk mengontrol kesehatan Malisa. Bahkan, saking baiknya, dia juga turut membawakan beberapa mainan untuk anak Malisa, yang sama sekali tak bisa ditolak oleh wanita itu.


Padahal, Malisa merasa sudah menerima terlalu banyak bantuan dari dokter yang merawatnya, akan tetapi, akan susah juga jika harus menolaknya karena Dimas terlihat begitu tulus dalam membantunya seolah-olah dia sama sekali tak mengharapkan apapun dari apa yang sudah ia berikan pada Malisa.


Malisa pun terlihat membuat minuman untuk Dimas, dan tentu saja minuman itu langsung diteguk hingga habis oleh si dokter.


Setelahnya, seperti biasa dokter itu mengucapkan terima kasih dan langsung pergi begitu saja tanpa berbicara panjang lebar lagi dengan Malisa. Dia hanya meresepkan beberapa hal sebagai seorang dokter, dan juga memberikan obat penenang untuk Malisa.


"Terima kasih, Dokter. Saya memang merasa sangat membutuhkan obat penenang ini. Akhir-akhir ini saya sering mengalami mimpi buruk. saya seperti melihat wujud suami saya datang hendak mengambil Katy dari saya. Saya benar-benar sangat takut dan karena saya sudah terlalu banyak berteriak dan juga berlari di dalam mimpi, pada akhirnya saya pun terkejut akan tetapi semua itu terasa begitu nyata. Saya pun memeluk Katy, kemudian mengatakan pada diri saya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja karena suami saya tidak berada di sini dan sama sekali tak bisa merebut Katy dari saya."


Mendengar penjelasan dari Malisa, Dimas pun mengatakan beberapa hal. "Semua itu memang sangat wajar dialami oleh orang-orang yang memiliki tekanan batin. Akan tetapi Bu Malisa sama sekali tidak perlu khawatir, karena semua itu pasti akan hilang dengan obat yang telah saya resepkan ini. Obat ini akan membantu tidur menjadi lebih nyaman dan juga rileks. Tidak akan ada lagi mimpi-mimpi buruk dan juga ketidaknyamanan dalam beristirahat."


"Benarkah?" Malisa pun tersenyum sambil memeluk Katy. "Terima kasih banyak, terima kasih banyak dokter Dimas. Saya sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya saya berterima kasih pada dokter. Saya ... Saya benar-benar-" baru saja wanita itu hendak menyelesaikan ucapannya, dokter Dimas pun segera memotong dengan perkataan.


"Bu Malisa sama sekali tak perlu risau tentang semua itu. Karena saya juga sangat bahagia jika saya bisa membantu orang yang membutuhkan," katanya, yang membuat Malisa menjadi lebih tenang.


"Ya, terima kasih banyak, Dok."

__ADS_1


Memang, orang baik itu tidak terhitung di mana dan juga kapan mereka akan datang untuk menolong kita. Seperti Malisa, ketika ia sedang dikejar-kejar oleh suaminya yang sampai itu, ada saja orang yang datang membantu dan orang itu merupakan dokter yang merawatnya sendiri.


Untuk sementara waktu Malisa akan tinggal di sana agar bisa tenang, sambil memikirkan perceraian.


__ADS_2