Pelakor itu Babysitterku

Pelakor itu Babysitterku
Bakso


__ADS_3

Malisa tinggal di rumahnya Dimas selama sudah satu minggu. Ia merasa nyaman dan tenang selama berada di sana. Begitu juga dengan Katy yang tak rewel meskipun ia harus tinggal di tempat baru. Ia juga tak sendirian karena ada seorang pembantu yang membantunya selama di sana.


"Mayang, biarlah aku yang mengepel, ya?" ucap Malisa yang melihat Mayang saat menyapu.


"Tidak perlu, Bu. Ini adalah pekerjaan saya. Sudah seharusnya saya melakukan pekerjaan ini," jawab Mayang.


Malisa merasa tak enak kalau seperti majikan di sana padahal ia sebenarnya juga menumpang. Tapi Mayang tak membiarkan dirinya boleh melakukan itu. "Nggak apa-apa, Mayang. Aku juga bukan siapa-siapa di sini. Aku hanya menumpang. Jadi sudah seharusnya aku membantumu, ya?"


"Tidak, Bu. Ibu adalah tamunya Pak Dimas. Tentu saja saya tak boleh membiarkan Ibu melakukan hal itu," jawab Mayang.


Tapi berhubung Katy sedang tidur maka Malisa menuju ke dapur. Ia membereskan dapur dan juga memasak. Mayang hanya membiarkan Malisa melakukan hal itu selagi tidak berat.


Malisa membuat bakso. Di sana memang ada daging dan juga chopper. Ia memang cukup lihai dalam hal memasak. Jadi Malisa juga cepat saat membuat bakso.


Mayang yang datang ke dapur melihat Malisa sedang memasukkan adonan bakso ke dalam panci.


"Wah, Bu Malisa memang hebat dalam hal memasak," ucap Mayang.


"Tidak, kebetulan bisa saja. Kan di rumah aku juga selalu memasak jadi ini sudah biasa saja," sahut Malisa merendahkan diri.


Mayang mendengar Katy menangis. "Bu, biar Katy aku yang gendong, ya?" pinta Mayang.


"Terima kasih, Mayang," jawab Malisa.


Mayang kembali ke dapur dengan menimang Katy yang tak lagi menangis. Tentu saja Katy sudah biasa dengan Mayang karena sering digendong olehnya.


"Nah, baksonya sudah matang nih. Mari kita makan, Mayang!" ajak Katy.


"Ibu saja dulu, kan saya masih gendong Katy," balas Mayang.


"Oh, nggak masalah. Bentar Katy biar aku yang gendong," ucap Mayang.


"Nggak apa-apa, Bu. Saya masih belum lapar. Bu Malisa bisa makan dulu. Kan Bu Malisa menyusui seharusnya memang banyak makan," sahut Mayang.


Malisa tersenyum tipis. Ia bersyukur bisa tinggal bersama Mayang. Meskipun usia Mayang lebih tua darinya tapi Mayang begitu hormat padanya. Malisa pun makan bakso buatannya sementara Katy diajak jalan-jalan oleh Mayang.


Di saat yang bersamaan Dimas pun datang. Ia melihat Malisa sedang makan sendirian di meja makan.

__ADS_1


"Makan sendiri saja nih?" celetuk Dimas.


"Oh, dokter. Maaf, saya nggak tahu kalau dokter ke sini," ucap Malisa terkejut. Ia sampai bangkit dan langsung menelan makanannya yang masih cukup banyak. "Uhuk, uhuk, uhuk." Ia pun tersedak.


"Eh, minum saja dulu! Nggak usah sampai bangun. Maaf, aku telah mengejutkanmu," balas Dimas dengan memberikan air minum di atas meja pada Malisa.


"Terima kasih, dokter Dimas," ucap Malisa.


"Boleh aku makan denganmu juga?" tanya Dimas.


"Tentu saja," jawab Malisa.


Dimas pun mengambil nasi dan bakso yang ada di atas meja. Ia mencoba bakso tersebut.


"Kok tumben ada bakso pagi-pagi begini? Mayang beli dimana, ya?" tanya Dimas.


Belum sempat Malisa menjawab Mayang sudah mendengar pertanyaan majikannya itu.


"Bu Malisa sendiri yang masak, Pak," sahut Mayang yang datang dengan menggendong Katy.


"Oh ya? Enak sekali ternyata masakanmu," ucap Dimas merasa terkejut dan menganggap masakan Malisa begitu enak.


"Oh ya, aku ingin mengatakan kalau mulai sekarang kamu bisa panggil aku Dimas saja. Dan aku akan panggil kamu Malisa. Setuju?" tanya Dimas.


"Kenapa begitu, dokter?" tanya Malisa.


"Agar lebih nyaman saja lah. Anggap saja kita teman. Kalau teman kan ngobrol nya nyaman dan santai," jawab Dimas.


"Baiklah kalau begitu, Dimas," balas Malisa. Sebenarnya ia juga agak canggung.


"Nah, gitu kan lebih enak didengar, Malisa," jawab Dimas. Ia pun tersenyum melihat wajah Malisa yang malu-malu. Dimas semakin kagum saja dengan Malisa.


Mereka pun melanjutkan sarapan dengan bakso. Memang Malisa hanya membuat bakso saja tanpa ada tambahan yang lain seperti mie atau pun tahu. Ia memang masak apa yang ada di dapur saja.


Dimas pun melanjutkan dengan obrolan tentang kelanjutan hubungan Malisa dengan Doni.


"Aku tetap ingin bercerai dengannya. Aku merasa tak sanggup. Kalau pun aku harus membayar ganti rugi maka aku akan membayar semua dengan cara aku bekerja," ucap Malisa.

__ADS_1


"Oke, Malisa. Aku akan membantu mu," sahut Dimas.


Hari itu juga Malisa menuju ke pengadilan agama untuk mengajukan perceraian nya dengan Doni diantar Dimas.


Tak sengaja di sana Dimas bertemu dengan Sherly. Ia adalah perempuan yang sebenarnya dijodohkan dengan Dimas tapi Dimas menolak karena Sherly bukan seleranya. Sherly berprofesi sebagai pengacara.


Sherly menghampiri Dimas. "Dimas, kamu sedang apa di sini?" tanyanya. Ia pun melirik Malisa. "Itu siapa, Dimas?"


"Temanku," jawab Dimas singkat.


"Oh, jadi kamu berteman sama perempuan sekarang?" tanya Sherly lagi.


Tapi Malisa tak mau banyak mendengar obrolan Dimas dengan teman perempuan nya itu. Ia hanya berjalan terus sampai ke gedung yang ia tuju. Dimas kemudian menyusul Malisa tanpa menjawab pertanyaan Sherly.


Sherly hanya menatap punggung Dimas. Ia masih bingung kenapa Dimas ke sana dan bersama dengan teman perempuan.


Sherly pun mengikuti Dimas. Malisa menyerahkan berkas yang diminta petugas di sana.


"Apa yang sedang kamu lakukan? Aku bisa membantumu di sini," tanya Sherly saat di belakang Malisa dan Dimas.


"Maaf, Sherly. Aku rasa aku tak membutuhkan bantuanmu,'' tolak Dimas.


Sherly merasa kesal dengan jawaban Dimas tersebut. Ia makin merasa penasaran saja dengan teman Dimas itu. Apalagi sejak tadi Malisa juga hanya diam saja.


Setelah Malisa selesai dari pengadilan agama, ia segera pulang bersama Dimas.


"Semoga urusan ku segera selesai dengan Doni," ucap Malisa dengan menghembuskan napas.


"Ya, aku berharap begitu," sahut Dimas. Ia pun berharap Malisa segera bercerai dan bisa lebih dekat dengan Malisa.


Di perjalanan Dimas menerima panggilan dan Papanya. "Iya, Pa."


Malisa juga tak mendengar obrolan Dimas dengan Papanya.


Setelah selesai melakukan panggilan wajah Dimas nampak kesal. Tapi Malisa juga tak mau bertanya. Bisa saja itu adalah masalah pribadi Dimas yang ia tak perlu tahu.


"Aku antar kamu pulang dulu, ya? Karena aku ada urusan," ucap Dimas.

__ADS_1


"Iya." Malisa tak tahu mau bicara apalagi. Sampai di depan rumah Malisa langsung masuk. Ia juga tak mendengar Katy ataupun Mayang berbicara.


__ADS_2