Pelakor itu Babysitterku

Pelakor itu Babysitterku
Malisa Hilang


__ADS_3

"Maaf, Bu. Maafkan saya tapi saya sungguh tak bisa berhubungan dengan orang kaya. Saya hanya ingin membesarkan anak saya saja," sahut Malisa.


Bu Mirna justru melihat kalau Malisa sedikit depresi. Hal itu terlihat saat Malisa mengatakan tak mau berhubungan dengan orang kaya. Ia pun tak memaksa. Ia hanya meninggalkan buah yang memang ia bawa. "Baiklah kalau begitu, Malisa. Saya pamit dulu. Kamu pasti butuh waktu sendiri. Saya permisi dulu, ya."


Siang harinya. Dimas sudah selesai melakukan pekerjaan. Ia kemudian menuju ke kamar Katy. Ia melihat kamar itu kosong. Ia tak melihat keberadaan Katy maupun Malisa. Semua barang milik mereka pun tak ada juga.


"Kemana mereka?" gumam Dimas. Ia kemudian melihat seluruh bagian kamar tersebut tapi tak ada juga. Hanya tertinggal buah di atas meja saja. Dimas jadi berpikir kalau ada orang yang datang tadi menemui Malisa. Tetapi siapa? Dan kemana perginya Malisa? Dimas mengusap kasar wajahnya.


Dimas kemudian menuju ke ruang cctv untuk mengecek siapa yang masuk ke dalam kamar Katy tadi. Ia melihat kalau mamanya sendiri yang ternyata datang saat tadi pagi. Tetapi hanya sebentar saja.


Lalu apakah ini semua ada hubungannya dengan kepergian Malisa? Dimas pun kembali melihat kalau yang datang ke sana adalah Sherly. Tak lama kemudian Sherly pergi bersama dengan Malisa dan juga Katy.


Dimas berpikir untuk menelpon mamanya dulu. Telepon terhubung.


"Halo, Ma?" sapa Dimas.


"Ya, Dimas. Ada apa?" tanya Bu Mirna.


"Ma, tadi Mama menemui Malisa untuk apa? Apakah Mama melakukan pengancaman sama dia? Apakah Mama menyuruh Sherly untuk membawa Malisa dan juga Katy?" cerca Dimas.


"Maksud mu apa, Dimas? Memang tadi Mama memenuhi Malisa. Tapi dia seperti tak nyaman dengan kedatangan Mama lalu Mama pulang. Mama juga tak menyuruh Sherly untuk membawa Malisa dari sana," jawab Bu Mirna.


"Sherly telah membawa Malisa dan juga Katy, Ma. Aku akan menghubungi Sherly," lanjut Dimas.


Telepon terputus.


Dimas kemudian menelpon Sherly.


"Halo, Sherly. Kemana kamu membawa Malisa?" tanya Dimas to the point.

__ADS_1


"Hai, sayang. Aku menunggu kamu telpon ternyata kamu begitu cepat menghubungi aku, ya?" balas Sherly. "Aku sedang pergi. Aku sedang jalan-jalan. Sayang banget aku nggak bisa ketemu sama kamu nih."


"Aku akan menemui kamu. Lepaskan Malisa!" tandas Dimas.


"Eh, kenapa? Bisa sih. Tapi ada syaratnya dong." Sherly tersenyum menyeringai. Ia sedang melirik ke arah belakang dimana ia sedang menyetir mobilnya entah kemana tujuannya.


"Nggak usah banyak bicara! Cepat kamu berhenti sekarang aku akan membawa Malisa dan juga anaknya." Dimas benar-benar naik pitam.


"Oke lah. Aku akan kasih kamu alamat nya ya sayang." Sherly kemudian menutup teleponnya.


Dimas yang diberikan alamat oleh Sherly melihat dimana lokasi tersebut. Jaraknya sekitar 100 km dari tempat Dimas berada. Tak peduli seberapa jauh ia akan pergi ke sana sekarang juga.


Dimas tak datang sendiri. Ia mengajak bersama mamanya. Ia ingin memperlihatkan bagaimana perilaku calon menantunya itu. Meskipun sebenarnya Bu Mirna memang memahami apa kata Dimas.


Perjalanan cukup panjang tetapi Dimas tak kenal lelah. Bahkan saat ini juga sudah mulai gelap. Tetapi Dimas tak mau kecolongan untuk menolong Malisa dan juga Katy.


"Dimas, tetap hati-hati ya. Kalau kamu sampai kenapa-kenapa bagaimana kamu akan menolong Malisa dan juga Katy!'' tutur Bu Mirna.


Setelah perjalanan selama empat jam akhirnya mereka pun sampai di sebuah tempat. Di sana cukup jauh dari perkampungan. Memang ada beberapa rumah di sana. Karena hari cukup gelap membuat Dimas harus lebih awas untuk melihat nomor rumah tersebut.


Sampai di sebuah rumah bercat putih dan berlantai dua, Dimas yakin kalau itu adalah rumah yang ditunjukkan oleh Sherly. Mereka pun turun. Rumah itu pun nampak sepi.


Dimas kemudian turun dan mencoba masuk ke dalam rumah tersebut. Namun terkunci. Dimas kemudian mencoba menelpon Sherly. Telepon terhubung.


"Sherly, aku sudah sampai di depan. Cepat buka pintunya!"


"Oh, baik, sayang." Sherly kemudian keluar dari rumah tersebut. Ia kini memakai gaun yang indah. "Ayo, masuk, sayang. Oh ada Mama juga. Yuk, sini masuk!"


Bu Mirna pun sedikit bergidik di sana. Ia tak tahu apa yang sedang direncanakan oleh Sherly.

__ADS_1


Masuk ke dalam rumah ternyata sudah ada dekorasi simpel. "Apa maksud semua ini, Sherly?" tanya Dimas.


"Yah, kamu mau aku melakukan apa yang kamu inginkan kan? Tenang dua orang itu ada di dalam kamar kok. Tapi syaratnya adalah saat ini kamu harus menikah denganku. Setelah itu baru lah aku bisa melakukan apa yang kamu inginkan," jawab Sherly.


Dimas terkejut ternyata di sana sudah ada orang tuanya Sherly dan juga mungkin orang yang menjadi penghulu. "Apa-apaan ini, Sherly?" tanya Bu Mirna.


"Nah, kebetulan Mama ada di sini kan jadi nggak perlu bingung. Kita bisa langsungkan pernikahan sekarang juga," sahut Sherly.


Bu Mirna menggelengkan kepalanya. "Sherly, kemana Malisa dan Katy?" tanya Bu Mirna lagi.


"Jangan teriak-teriak dong, Ma! Kan nggak enak didengar orang," rengek Sherly. Ia kemudian menarik tangan Dimas untuk mau duduk di kursi yang telah di dekor juga.


"Dimas, saat ini juga kamu harus menikah dengan Sherly! Karena sudah terlalu lama kalian bersama tanpa sebuah hubungan," tandas papanya Sherly.


"Maaf, Om. Ini tidak dibenarkan melakukan paksaan. Saya tak bersedia untuk menikahi Sherly. Saya juga sudah mengatakan kalau saya ingin berpisah dengan Sherly," balas papanya Sherly.


Mata papanya Sherly pun membulat. Ia merasa geram karena ia telah mendapatkan penolakan. "Kurang ajar kamu, Dimas. Kamu harus menikah sama Sherly saat ini juga!"


"Tidak," jawab Dimas singkat.


"Pa, nggak usah pakai marah segala lah! Dia tuh parti nurut kok. Kita kan bersama perempuan dan anaknya itu loh. Dia kan nggak yah mereka ada dimana," sahut Sherly dengan tenang dan melihat kukunya.


Dimas kembali cemas. Memang ia mengkhawatirkan Malisa tapi tak bisa ia menikah dengan Sherly. "Katakan dimana Malisa sekarang!"


"Eh, nggak bisa dong. Kamu harus menikah dulu sama aku baru aku mau bebaskan Malisa. Anggap saja dia sedang sedang jadi tawanan," jawab Sherly.


Dimas menghela napas. Ia harus mencari cara bagaimana bisa membebaskan Malisa tanpa harus menikah dengan Sherly.


Di saat yang bersamaan tiba-tiba pintu terbuka dan berbunyi brak yang cukup kencang. Ternyata anak buahnya Pak Hans yang ke sana dan telah masuk dari dalam juga.

__ADS_1


"Ada apa ini?" tanya Sherly merasa bingung.


__ADS_2