Pelakor itu Babysitterku

Pelakor itu Babysitterku
Tawaran untuk Malisa


__ADS_3

Malisa mendekati Dimas. Ia pun merasa sedih melihat kondisi Dimas yang penuh luka. Ia masih tak habis pikir dengan Doni yang begitu tega menyiksa Dimas sampai jadi seperti itu.


Malisa memegang tangan Dimas. "Dimas, aku datang untuk menemuimu. Maaf, karena mantan suamiku kamu menjadi seperti ini. Aku tahu aku bukan lah perempuan yang terbaik untukmu. Aku bukanlah perempuan yang bisa kamu banggakan. Aku hanya perempuan miskin dan hanya sebatang kara. Tapi aku mohon kamu bangun ya! Buka matamu! Aku janji akan mau kalau kamu mengajak ku jalan-jalan. Itu kan yang kamu inginkan selama ini. Aku selalu menolak keinginan mu. Bukan karena aku benci sama kamu. Tapi aku sadar aku bukanlah orang yang pantas untukmu. Kamu itu dokter sedangkan aku hanya penjual bakso. Aku tak berharap padamu. Hanya saja aku ingin kamu bisa segera sadar dan pulih. Kasihan orang tuamu yang khawatir sama kondisimu."


Malisa menghela napas. Tak terasa air mata pun menetes. Ia mengingat saat kehilangan Katy. Ia begitu banyak kehilangan orang yang ia sayang. Mulai dari ibu, bapak dan juga anak tercinta.


"Dimas, aku nggak mau kehilangan mu. Sudah cukup aku kehilangan banyak orang yang aku sayang. Aku sayang kamu. Kamu cepat bangun, ya? Aku menunggu kamu di sini."


Setelah itu Malisa pun keluar dari sana. Bu Mirna melihat kalau Malisa begitu sedih.


"Malisa, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Bu Mirna.


"Ya, Bu. Saya baik-baik saja." Malisa memberikan senyum tipis. Terlihat memang mata Malisa yang sembab seperti baru saja menangis. Melihat itu justru Bu Mirna merasa senang karena bisa jadi Malisa memang memiliki perasaan kepada Dimas yang bisa membuat Dimas pulih lebih cepat.


Keesokan harinya.


Malisa datang ke pengadilan untuk melihat proses di sidang putusan Doni. Doni sudah ditetapkan sebagai tersangka karena telah secara resmi terbukti bersalah. Hal itu sebenarnya karena Doni cemburu. Dimas dianggap ingin mengambil kesempatan saat setelah Doni merasa masih mencintai Malisa tetapi Dimas ingin mengambil kesempatan dan dianggap menghalangi untuk mendekati Malisa lagi.


Doni yang tersulut emosi akhirnya langsung memukul secara membabi buta Dimas tanpa ampun.


Setelah berbicara dengan polisi untuk minta izin bisa bertemu dengan Doni, Malisa akhirnya diberikan waktu untuk bisa bertemu dengan Doni.


Malisa dipertemukan dengan Doni. Dengan penjagaan ketat oleh pihak kepolisian. Karena dianggap Doni adalah orang yang cukup bahaya.

__ADS_1


"Doni, sebenarnya apa yang terjadi sama kamu sampai kamu bisa jadi seperti sekarang ini?" tanya Malisa.


Doni melongok. Menatap Malisa. "Mona telah mengubah semua kepemilikan ku. Mulai dari mobil, rumah dan seluruh aset milikku."


Malisa merasa biasa saja. Ia mengingat saat masa ia masih menjadi istrinya Doni memang Doni sangat membanggakan harta miliknya dan merasa tak akan habis selama tujuh turunan. Tetapi ternyata dalam waktu singkat saja semua nya berpindah ke tangan Mona dengan mudah.


"Oh, jadi karena itu. Seharusnya kamu bisa lebih pintar dari Mona. Kamu kan bertitel tinggi dan juga pintar. Kenapa kamu bisa begitu mudah memberikan harta mu padanya?" balas Malisa.


"Saat itu aku sedang mabuk. Sepertinya dia memberikan aku apa yang membuat aku kehilangan ingatan. Saat itu juga ia membawa notaris aku juga nggak sadar. Lalu aku langsung diusir dari rumah itu. Notaris itu ternyata suami sahnya Mona," jelas Doni.


Malisa ingin sekali mengatai Doni kalau dia tak terlalu pintar. Tetapi ia sadar kalau saat ini Doni sendiri sedang dihadapkan dengan sidang putusan. Apapun yang terjadi saat ini adalah akibat sifat tempramental Doni sendiri.


"Ya sudah. Itu semua sudah terjadi. Aku harap kamu bisa lebih bijak dalam bersikap. Kamu juga harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu. Dimas koma. Jadi aku harap kamu bisa berubah lebih baik lagi. Aku permisi dulu." Malisa hendak bangkit.


"Ada apa lagi?" tanya Malisa.


"Apakah kamu sudah tak ada perasaan sama aku, Malisa?" balas Doni.


"Doni, kamu ingatkan kita pernah sepakat kalau pengkhianatan itu tak ada maaf. Memang aku pernah cinta sama kamu. Tapi asal kamu tahu saat ini aku sama sekali tak ada perasaan sama kamu. Permisi." Kali ini Malisa benar-benar meninggalkan Doni.


Penyesalan selalu datang terakhir. Doni begitu menyesal telah melepaskan perempuan yang pernah mengisi hatinya secara tulis. Memiliki anak yang lucu. Hanya saja semua sudah berubah. Katy pun telah meninggal. Perasaan Malisa kepada Doni juga ikut terkubur. Doni hanya bisa menyesal di jeruji besi.


Menurut pengadilan, Doni ditetapkan selama sepuluh tahun penjara. Hal itu lebih ringan dari tuntutan jaksa yang meminta dua puluh tahun penjara karena menimbulkan korban terluka sangat parah. Tetapi semua juga sudah mendapatkan secara adil.

__ADS_1


Setelah dari pengadilan, Malisa pulang. Garis polisi pun sudah diambil. Malisa ingin membersihkan rumah. Beberapa pelanggan juga menanyakan kapan Malisa akan membuka lagi warung baksonya. Hanya saja untuk saat ini belum memungkinkan.


Malam harinya. Malisa yang hendak istirahat menerima telepon dari Bu Mirna. Telepon terhubung.


"Malisa, halo?" sapa Bu Mirna.


"Iya, Bu. Maaf, malam ini saya tidak di sana ya," tanya Malisa.


"Malisa, kamu harus ke rumah sakit sekarang! Dimas sudah sadar." Bu Mirna langsung menutup teleponnya.


"Halo, Bu. Halo?" Malisa merasa terkejut. Apakah benar Dimas sudah sadar. Ia harus segera ke rumah sakit.


Naik ojek online akhirnya Malisa pun sampai di rumah sakit. Ia melihat Bu Mirna sedang di depan ruang ICU. "Kamu akhirnya datang, Malisa. Sebentar lagi Dimas akan dipindahkan ke ruang perawatan. Hanya saja dia …" Bu Mirna menjeda bicaranya.


"Kenapa dengan dokter Dimas, Bu?" tanya Malisa.


"Dia hilang ingatan. Dia tak ingat siapa-siapa. Kamu mau nggak berpura-pura menjadi perawat? Karena sama saya dan juga papanya juga tidak mau. Jadi kamu yang merawat dia sementara waktu," pinta Bu Mirna.


Malisa mengerutkan kening nya. "Saya tak bisa jadi perawat, Bu. Bagaimana kalau ada yang salah?"


"Kamu tidak perlu menjadi perawat yang benar. Kamu hanya perlu menemani dia saja. Mulai makan atau kebutuhan yang lain. Kalau untuk masalah obat nanti biar perawat yang benar yang akan melakukan tugasnya. Kalau kamu bersedia maka semua hutangmu pada saya, saya anggap lunas. Bagaimana?" tanya Bu Mirna.


Malisa berfikir sejenak. Ia memiliki kesempatan untuk melunasi semua hutang dengan cara yang cepat. Kalau ia akan melunasi dengan berjualan bakso masih membutuhkan waktu beberapa tahun lagi. Kalau ia menerima tawaran Bu Mirna untuk itu juga tak sulit. "Baiklah, saya bersedia, Bu. Apa yang perlu saya lakukan sekarang?"

__ADS_1


__ADS_2