
Memang perut Malisa sudah lapar. Ia sudah makan tadi tetapi hanya sedikit dan membuat dirinya lapar apalagi harus berjalan cukup jauh dari rumah kost sampai ke rumah sakit. Tapi ia lebih memikirkan Katy. Ia tidak terlalu yakin apakah Katy sudah makan atau belum saat bersama Bu Yuni tadi.
"Malisa, kenapa bengong aja?" tanya Dimas.
"Oh iya, terima kasih," jawab Malisa. Ia menerima kotak makan dari Dimas. Melihat Katy tidur Malisa merasa sedikit tenang. Karena dari tadi menangis. Mungkin karena menahan sakit di sekujur tubuhnya. Tapi setelah mendapatkan penanganan mungkin Katy sedikit lebih nyaman.
"Kamu jangan khawatir! Aku akan merawat Katy. Aku nggak akan pulang, Malisa. Aku akan menemani kamu juga di sini," ucap Dimas. Ia memang merindukan sosok Malisa. Karena ia bagaikan menemukan cintanya. Meskipun saat ini keadaan nya cukup tak nyaman tapi bagi nya Malisa adalah semangat hidupnya. Katy juga sudah dianggap seperti anak sendiri. Bukan karena ingin mendekati Malisa maka Katy dikesampingkan.
Malam itu Malisa pun tertidur di samping Katy. Ia duduk dan kepalanya bersandar di tempat tidur Katy.
Dimas ada di sana. Ia baru saja kembali dari ruangannya dan melihat pemandangan itu. Ia merasa seperti punya keluarga. Punya istri dan juga anak. Hanya saja memang terhalang status.
Ponselnya Dimas berdering. Ia melihat kalau mamanya menelpon. Telepon terhubung.
"Dimas, apakah kamu tak pulang malam ini? Ada yang ingin kami sampaikan sama kamu," tanya Bu Mirna.
"Ada apa sih, Ma? Aku sedang mengurus pasien ku. Kalau membicarakan masalah Sherly aku sudah angkat tangan. Aku sudah membatalkan perjodohan itu. Aku juga sudah mengatakan pada Sherly," balas Dimas. Ia sudah memulai sebelum nanti dikatakan tentang Sherly.
"Bukan itu, Dimas," ucap Bu Mirna.
"Lalu apa, Ma?" tanya Dimas lagi.
"Masalah perusahaan," jawab Bu Mirna.
"Aku sangat tak tertarik dengan perusahaan, Ma. Berikan saja sama Antoni. Dia kan punya bakat di sana. Aku tak tertarik sama sekali. Sudah ya, Ma, aku harus mengurus pasien ku." Dimas kemudian menutup teleponnya.
Antoni adalah adiknya Dimas. Dimas sejak kecil memang tak mau mengurus perusahaan. Ia lebih memilih menjadi seorang dokter sesuai dengan cita-citanya.
__ADS_1
Dimas memilih untuk menemani Malisa di sana. Ia pun menggelar tikar di bawah tempat tidur Katy agar bisa tidur bersamaan.
Malam hari Katy pun menangis. Malisa melihat kini pukul 12 malam. Tentu Katy ingin minta menyusu. Dimas paham. Ia kemudian keluar agar Malisa bisa menyusui Katy dengan nyaman.
Setelah tiga puluh menit akhirnya Katy pun tertidur kembali. Tetapi rasa kantuk Malisa menghilang juga. Hendak ke kamar mandi tapi ia takut kalau membiarkan Katy sendirian di sana. Sehingga ia menunggu mungkin Dimas atau perawat yang masuk.
Tak berselang lama Dimas pun masuk. "Sudah selesai?"
Malisa menganggukkan kepala nya. "Sudah. Boleh aku minta titip Katy sebentar? Aku ingin ke kamar mandi."
"Ya, tentu. Aku akan menjaga Katy," jawab Dimas.
Pagi harinya.
Dimas memang terlelap setelah Malisa kembali dari kamar mandi. Ia baru menyadari kalau hari sudah pagi. Ia melihat Malisa sedang memangku Katy.
"Malisa, maafkan aku ketiduran," ucap Dimas.
"Oh ya, pagi ini aku waktunya sift. Jadi nanti aku akan ke sini kalau sudah selesai menangani pasien, ya? Kalau minta bantuan sementara nanti kamu pencet tombol agar ada perawat yang ke sini," jelas Dimas.
Malisa mengangguk. "Iya."
Dimas kemudian melihat kondisi Katy sebentar dan semua dirasa sudah cukup baik. Ia pamit pada Malisa dan meninggalkan ruang rawat inap tersebut.
Malisa pun menyanyikan lagu untuk Katy. Ia merasa kalau ia begitu merindukan Katy. Beberapa hari meninggalkan Katy dan Katy celaka membuat ia tak percaya dengan orang lain dengan mudah. Tapi bagaimana ia bisa bekerja setelah ini? Malisa juga bingung. Ia tak mungkin menggantungkan hidupnya pada Dokter Dimas. Ia tak mau ada masalah di depan hari. Tapi ia juga harus memikirkan bagaimana mengatakan pada Bu Rahma kalau mulai hari ini ia tak bisa bekerja lagi di tempatnya.
Tok tok tok.
__ADS_1
"Masuk!" sahut Malisa. Ia menganggap kalau yang datang adalah perawat. Tapi ternyata bukan. Seorang perempuan paruh baya dengan penampilan sederhana menghampirinya. Mungkin orang salah kamar.
"Maaf, mungkin ibu salah kamar, ya?" tanya Malisa.
"Tidak. Saya memang mau ke sini. Kamu Malisa, bukan?" balas perempuan paruh baya itu.
"I-iya, saya Malisa. Ada apa ya, Bu?" Malisa merasa tak mengenal perempuan tersebut yang menyebutkan namanya itu.
"Saya Mirna, saya ke sini mau melihat kamu saja,'' jawab Bu Mirna.
Malisa mengerutkan keningnya. "Maksud ibu apa, ya? Saya benar-benar tak paham."
"Oh, iya. Saya adalah mamanya Dimas." Bu Mirna kemudian duduk di sofa.
Deg.
Malisa merasa baru sudah datang. Padahal ia ingin menghindari masalah justru ada saja yang datang. "Maaf, Bu. Saya bukan siapa-siapa nya Dimas. Saya tak hendak mengambil Dimas dari tunangannya itu. Kebetulan saja kami ketemu." Ia kemudian menunduk.
"Ya, saya tahu kok. Saya tak akan melakukan apapun sama kamu, Malisa." Bu Mirna pun kini bangkit. Ia kemudian mendekati Malisa yang masih memangku Katy. "Malisa, saya ingin mengenal kamu lebih jauh. Apa boleh?"
Malisa mendongak. "Maksud ibu? Saya tak mau kena masalah, Bu. Saya hanya punya anak saya saja saat ini. Maaf, saya tak mau terlihat masalah. Kalau memang ibu mau minta saya pergi dari sini saya rela. Tapi saya mohon sampai anak saya sembuh dulu." Ia pun terisak sambil mengusap air matanya yang jatuh mengenai Katy yang terlelap.
Bu Mirna mengusap punggung Malisa. "Saya tak minta untuk itu, Malisa. Saya benar-benar ingin mengenalmu saja. Karena anak saya Dimas begitu kagum denganmu."
Malisa terdiam. "Maksud ibu apa? Bukankah Dimas telah memiliki tunangan?"
"Ya, memang benar. Tapi dia menolak. Saya dengar dia suka sama kamu. Maka dari itu saya ingin mengenal kamu lebih jauh. Boleh?" tanya Bu Mirna.
__ADS_1
"Maaf, Bu. Saya sudah menolak ajakan dokter Dimas untuk menikah. Saya tak mau terlibat masalah apapun. Saya hanya ingin kehidupan saya dan anak saya hidup tenang saja," jawab Malisa. Cairan bening itu pun kembali luruh. Ia tak kuasa menahan. Ia sudah tak memiliki siapa pun di dunia ini kecuali Katy saja.
"Malisa, jangan menangis! Saya tak akan menyakitimu. Saya sayang sama Dimas. Saya hanya ingin mengenal kamu saja," lanjut Bu Mirna mencoba meyakinkan Malisa. Tetapi perasaan Malisa juga sudah terlanjur trauma.