
"Kamu tenang saja! Aku tak akan membiarkan itu terjadi. Oke, kamu pura-pura saja tak memberitahu padaku. Kamu ikuti saja keinginan Angel itu. Dia benar-benar kurang ajar," dengus Dimas.
Mereka akhirnya sampai di restoran. Malisa bingung kenapa bisa restoran bagus itu sepi. Apakah memang tak ada orang yang mau makan di sana. Kenapa Dimas membawanya ke restoran yang tidak laku? Begitu batin Malisa.
Dimas kemudian menuntun Màlisa ke dalam restoran tersebut. Tapi langkah Malisa tiba-tiba berhenti. "Ada apa, Malisa?" tanya Dimas.
"Dimas, apakah tidak salah kita ke restoran yang sepi? Apa kamu yakin makanan di sini enak?" tanya Malisa yang mulai khawatir.
Dimas terkekeh.
"Kenapa kamu malah tertawa?" Malisa jadi semakin bingung saja.
"Kamu akan tahu setelah kamu masuk ke dalam," jawab Dimas kemudian kembali menggandeng tangan Malisa dan masuk ke dalam restoran.
Restoran itu hanya memiliki satu lantai dan berdinding kayu yang cukup estetik. Malisa sebenarnya suka sama tempat itu tadi tak satu pun nampak ada pengunjung lain selain dirinya. Ia pun kembali berfikir kalau makanan di sana tidak enak.
Para pelayan pun menyambut kedatangan Malisa dan juga Dimas. Dimas kemudian memilih meja di salah satu di sana. Tiba-tiba lampu pun padam tersisa hanya di meja mereka sekarang berada. "Ada apa ini?" tanya Malisa bingung.
Dimas menghampiri Malisa. Ia kemudian berlutut di hadapan Malisa. Ia mengeluarkan sesuatu di dalam jasnya. Ternyata itu adalah kotak cincin berlian yang baru saja dibuka oleh Dimas. "Malisa, apakah kamu bersedia menjadi istriku?"
Malisa menutup mulutnya. Ia tak menyangka kalau akan dilamar oleh Dimas dengan cara yang seperti itu. Ia benar-benar merasa tersanjung. "Ma-mau."
Dimas kemudian memberikan cincin berlian itu pada Malisa. Ia sematkan di jari manis Malisa. Malisa tak mau menebak berapa harga berlian tersebut. Tapi yang jelas itu terlihat cukup mahal.
"Terima kasih, Malisa. Karena kamu mau menjadi istriku," ucap Dimas kemudian mencium tangan Malisa.
Malisa masih berpikir kalau dirinya saat ibu sedang bermimpi. Kalau pun mimpi ia tak mau bangun dan ingin terus saja seperti itu. Ia merasa saat ini benar-benar bahagia.
Suara tepuk tangan mulai bermunculan dari kegelapan. Ternyata itu adalah Pak Hans, Bu Mirna dan juga Antoni.
Malisa tak melihat keberadaan Angel. Ia memang tak berharap kalau Angel ada di sana dan mengacaukan kebahagiaannya.
__ADS_1
"Welcome, Malisa. Terima kasih telah bersedia menjadi bagian dari keluarga kami," ucap Bu Mirna kemudian memeluk Malisa.
Malisa pun bersalaman dengan Pak Hans dan Antoni. Ia pun tak berani menatap wajah Pak Hans apalagi Antoni.
"Saya sungguh terharu," ucap Malisa. Ia tak berani melihat Antoni. Ia takut tiba-tiba ada Angel.
"Tak apa, Malisa. Kami senang kalau kamu senang. Mari kita makan malam bersama!" ajak Bu Mirna.
Mereka makan malam bersama. Malisa begitu menikmati makanan tersebut. Tak seperti yang ia duga makanan di sana Tak enak. Justru enak sekali. Tapi Malisa masih heran kenapa tak ada pengunjung lain. Dimas pun memperhatikan Malisa.
"Kenapa, Malisa? Apakah kamu masih merasa makanan di sini tak enak karena tak ada pengunjung lain?" tanya Dimas.
Malisa pun tersipu. Bagaimana bisa Dimas menanyakan hal itu ketika ada orang tuanya. "Oh, em, enak kok makanannya."
"Malisa, kami menyewa restoran ini selama dua jam untuk acara lamaran kamu ini. Ini adalah idenya Dimas. Jadi memang tak ada pengunjung lain selama dua jam kita di sini," jelas Pak Hans.
Malisa makin malu saja karena ternyata calon ayah mertuanya yang menjawab. Ia jadi merasa tak enak karena tadi telah menganggap restoran pilihan keluarga calon suaminya tak enak. "Maaf, Pa, Ma."
Malisa hanya tersenyum tipis. Ia bahkan tak merasa tak ada makanan yang tak enak.
Seperti yang telah Malisa duga kalau Angel benar-benar akan datang. Semua mata pun tertuju kedatangan Angel yang saat itu memakai dress selutut. Ia dengan percaya diri menghampiri keluarga Pak Hans.
"Ah, permisi tante dan om. Saya ke sini secara tiba-tiba," ucap Angel. Ia kemudian duduk di samping Antoni.
"Kenapa kamu ke sini? Tak ada yang mengundang mu," tanya Antoni. Meskipun ia sebenarnya malas dengan acaranya Dimas tapi ia menghargai kakaknya itu.
"Ih, kamu nih, sayang. Aku ke sini ada yang mengundang kok," sahut Angel.
Malisa pun mengakhiri makannya. Ia jadi tak nafsu saat kedatangan Angel.
"Siapa yang mengundang kamu ke sini?" tanya Antoni.
__ADS_1
"Calon istrinya Kak Dimas tuh," jawab Angel.
Malisa pun menoleh. Ia bahkan tak pernah mengatakan kalau ia mengundang ke acara yang dibuat oleh Dimas untuknya. Tapi Malisa pun masih terdiam.
"Benar kan?" tanya Angel lagi.
"Em, …" Malisa bingung mau menjawab apa.
"Angel, bisa kita bicara sebentar?" tanya Antoni kemudian langsung menarik tangan Angel.
"Kamu nih apa-apaan sih?" balas Angel merasa sakit tangannya ditarik oleh Antoni.
"Kamu yang apa-apaan? Kamu kan nggak diundang kenapa datang?" tanya Antoni. Ia merasa malu dengan keluarganya.
"Apa salahnya sih aku datang juga. Di sini kan calon istrinya kakakmu juga ada. Jadi kan sekalian aja lah kamu perkenalkan atau lamar aku," jawab Angel. Ia benar-benar tak tahu malu.
Antoni mengusap kasar wajahnya. "Aku sudah bilang sama kamu kalau belum waktunya. Kamu harus lulus kuliah dulu baru kita bicarakan masalah pernikahan," jelasnya.
"Oke, kalau nikah setelah aku lulus kuliah. Tapi kan kita bisa tunangan dulu," sahut Angel.
Di saat Antoni dan Angel sedang berdebat Bu Mirna pun menghampiri mereka berdua. "Antoni, bawa Angel duduk bersama kita. Nggak enak dia hanya berdiri saja di sini."
"Karena permintaan mamaku ini. Ya sudah cepat! Tapi nggak usah banyak tingkah!" peringat Antoni.
Angel pun tersenyum menyeringai. Ia akhirnya bisa berada di tengah-tengah keluarga nya Antoni. Karena selama ini meskipun sudah pacaran dengan Antoni tapi jarang sekali Antoni membawa ke acara Keluarga Antoni. Apalagi ini adalah ķali pertama Angel ikut dalam acara penting keluarga Antoni.
"Tante, Om. Apakah pernikahan saya dan Antoni jadi satu sama Kak Dimas?" tanya Angel dengan percaya diri. Antoni menyenggol lengan Angel.
"Pernikahan? Hm, apakah kalian sudah membicarakan sebelumnya dengan Antoni?" balas Pak Hans.
"Angel, kamu benar-benar buat malu aku di depan keluarga ku. Mulai sekarang kita putus!" tegas Antoni.
__ADS_1