
Saat ini Malisa sedang di rumah sakit karena tiba-tiba daya tubuhnya menurun. Saat ini ia sudah akan pergi ke rumah sakit, tetapi Doni dan Mona mencegatnya. Tidak tahu lagi apa yang akan dilakukan keduanya.
"Mau ke mana? Kenapa membawa Katy?" todong Doni dengan pertanyaan-pertanyaannya. Apakah Malisa ingin kabur? Doni tidak akan membiarkan semua itu terjadi.
Jika Malisa pergi, siapa nanti yang akan menyiapkan makan untuk mereka? Siapa yang akan membereskan rumah ini? Doni dan Mona tentu saja malas melakukan semua itu.
"Tubuhku masih lemas, Mas. Aku akan pergi ke rumah sakit," jawab Malisa menjelaskan. Ia juga tidak betah berada di rumah ini lama-lama. Hatinya sakit melihat pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu bermesra-mesraan dengan perempuan lain.
"Lalu, kenapa kamu membawa Katy? Bagaimana jika nanti di jalan terjadi apa-apa? Siapa yang repot, hah?" tanya Doni dengan marah. Pasalnya Malisa pergi tanpa izin dulu kepada dirinya. Bagaimana ia tidak marah?
Mendengar itu, Malisa sedikit bingung. Apakah Doni sedang khawatir dengan dirinya dan Katy? Itu berarti sebenarnya pria itu masih peduli dengan mereka. Tetapi, kenapa kemarin-kemarin selalu bersikap acuh dan kasar? Sebenarnya apa mau pria ini?
"Aku tidak mengkhawatirkan atau peduli denganmu. Jika kamu kenapa-kenapa, siapa yang akan menyiapkan makanan untuk kami dan membereskan rumah ini?" lanjutnya.
Sontak ucapan Doni selanjutnya membuat hati Malisa tergores. Dirinya di sini diperlakukan seperti pembantu.
"Sudah sana pergi, jangan lama-lama. Katy tidak usah ikut, biarkan di sini saja." Doni mengambil Katy dari gendongan Malisa.
Tak lama, Malisa sampai di rumah sakit dan segera diperiksa oleh Dimas.
__ADS_1
Ya, Malisa sudah tak sanggup lagi dengan rumah tangga yang begitu kacau, yang terus saja membuat dia terpojok.
Sudah cukup diperlakukan seperti pembantu setiap hari oleh suami dan juga selingkuhannya, apakah dia juga harus dipisahkan dari putrinya sendiri?
Semua kegalauan dan juga rasa sedihnya itu terukir jelas pada wajahnya. Walaupun dia baru saja pergi dan menemui dokter, akan tetapi dengan sekali lihat saja dokter itu sudah bisa memastikan apa yang sedang dialami oleh Malisa.
"Silakan duduk, Bu," ucap Dimas, yang bisa melihat jelas seluruh keluh kesah yang ada pada hati Malisa.
Malisa langsung saja terduduk di sana dengan badannya yang sama sekali tidak terasa enak.
Dia memang sudah sakit sejak pertama kali ia mengetahui perselingkuhan antara Doni dan juga Mona. Akan tetapi semuanya itu semakin buruk ketika ia diperlakukan sebagai pembantu di rumah yang sama sekali tidak pantas untuk menyebutnya sebagai seorang pembantu.
Dimas kemudian mulai mengajukan beberapa pertanyaan pada Malisa, dan hal itu dijawab sesuai dengan apa yang dirasakan oleh wanita itu.
Setelah mengetahui semuanya, entah kenapa Malisa yang sudah tidak tahan lagi dengan semuanya, tiba-tiba saja mulai menumpahkan seluruh keluh kesah dengan air matanya yang berlinang deras.
Ya, wanita itu menangis sejadi-jadinya sehingga Dimas pun bingung, dengan apa yang sudah terjadi padanya.
"Hiks, hiks! Dokter. Apakah ... Apakah saya salah? Apakah semuanya itu merupakan salah saya sehingga suami saya memilih wanita lain? Tidak hanya diperlakukan seperti sampah, akan tetapi dia juga tidak memperbolehkan saya untuk leluasa becengkrama dengan Putri kandung saya sendiri. Hiks, saya benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan semua hal ini, Dokter. Saya benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan semuanya. Kalau saya terus menghadapi hal seperti ini secara terus-menerus, bisa-bisa mental saya juga ikut terganggu, dokter. Bisa-bisa saya gila!"
__ADS_1
Malisa benar-benar menumpahkan apa yang menjadi keluh kesah di dalam hatinya pada dokter yang berada di hadapannya.
Dia sudah tidak peduli lagi apakah itu merupakan orang lain, akan tetapi satu hal yang pasti ialah dia benar-benar harus mendapatkan orang untuk berbagi semua kesedihan yang sedang meliputi hatinya.
Dimas benar-benar getam saat mendengarkan seluruh cerita yang dilontarkan Malisa. Dia seperti ingin memberikan perhitungan pada suami Malisa—Doni, yang sudah melakukan semua itu padanya.
"Bisa-bisanya dia melakukan hal seperti itu pada Bu Malisa. Saya rasa Bu Malisa tidak pantas menangisi pria seperti dia. Karena air mata seorang wanita hanya pantas ia tumpahkan pada seorang pria yang setia, bukanlah pria hidung belang yang tega berselingkuh dengan orang lain."
Malisa sudah benar-benar tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Wanita yang hanya menangis dan terus menangis sambil mendengarkan apa yang dikatakan oleh dokter yang berada di hadapannya itu, sontak mulai meminta pendapat padanya.
"Hiks! Lalu, apa yang harus saya lakukan sekarang, Dokter. Di rumah saya saya sudah tidak dipedulikan dan juga diperlakukan seperti pembantu. Saya benar-benar sudah muak hidup bersama dengan mereka berdua. Saya sudah tidak ingin lagi melihat mereka berdua, saya ingin pisah dan bercerai dengan suami saya, Dokter. Saya benar-benar sudah tidak tahan lagi, hiks, hiks! Saya ... Saya benar-benar sudah tidak tahan lagi, Dokter!"
Dimas mendengarkannya dengan seksama. Ingin sekali rasanya ia membantu, akan tetapi berapa kali pun ia mencoba untuk berpikir, dia sama sekali tak mendapatkan jalan keluar yang tepat. Hingga sebuah ide gila pun merasuki dirinya, dan dia pun langsung menawarkan hal tersebut pada wanita yang sedang menangis di hadapannya itu.
"Bu Malisa ... Maafkan saya jika saya mengatakan semua ini dan bersikap lancang. Akan tetapi daripada ibu terus-terusan hidup bersama dengan suami ibu yang sampah itu dan juga wanita simpanannya, alangkah lebih baik ibu dengan Putri ibu pindah ke rumah saya saja. Di sana saya memiliki seorang pembantu namanya Mayang. Pembantu itu akan saya berikan pada ibu untuk membantu ibu di sana. Saya hanya memberikan opsi pada ibu untuk keluar dari seluruh permasalahan ini. Pilihan akhirnya ada di tangan ibu. Akan tetapi alangkah baiknya jika ibu menerima iktikad baik saya, karena di sana ibu pasti akan hidup dengan lebih tenang daripada harus hidup bersama dengan suami dan juga wanita simpanannya."
Malisa terdiam. "Apakah ... Dokter benar ingin membantu saya dengan memberikan saya rumah untuk saya tinggali bersama dengan putri saya? Saya benar-benar bisa melepaskan diri dari suami saya?" tanyanya lagi, memastikan. Malisa memang benar-benar sudah lelah dengan semua itu dan berkeinginan untuk melepaskan diri dari suaminya. Kemudian tawaran dari dokter Dimas yang datang bagaikan anugerah, tentu saja membuat dia sangat tertarik.
"Ya, Bu Malisa. Saya serius dengan apa yang baru saja saya tawarkan. Kalau ibu tertarik maka sekarang juga ibu bisa langsung pergi ke rumah ibu dan mengambil pakaian ibu. Saya akan membawa ibu langsung ke sana."
__ADS_1