
Malisa kemudian melihat beberapa pilihan gaun. Bu Mirna memiliki langganan di butik. Apalagi untuk masalah gaun pengantin tentu saja Bu Mirna akan memilihkan yang terbaik untuk Malisa. Di saat Malisa dan juga Bu Mirna sibuk melihat beberapa gaun ternyata Dimas datang ke sana.
"Wah, dua wanita ku ini sedang sibuk apa nih?" tanya Dimas.
"Oh, iya. Nah sekalian nih kamu di sini. Ini Mama lagi ngomongin tentang gaun pernikahan untuk Malisa. Kalau kamu mah gampang nanti," jawab Bu Mirna.
"Kalau aku sih terserah Malisa maunya gimana. Kalau dia merasa nyaman dan enak dipakai juga nggak masalah. Aku ikut Malisa saja," sahut Dimas.
Malisa hanya melirik Dimas sesaat.
"Malisa, besok kamu akan mulai terapi jalan. Hasil dari rontgen tadi kamu sudah membaik. Hanya saja kamu belum boleh jalan sendiri. Nanti ada petugas yang akan menemani kamu," ucap Dimas.
"Ya, Dimas. Tadi aku sudah ngomong sama mama Kalau nanti aku ingin pulang untuk berkunjung ke makam ibu dan bapakku," sahut Malisa.
"Oh iya. Kita berangkat setelah kondisimu benar-benar pulih, ya? Aku nggak mau sampai kamu kenapa-kenapa," jawab Dimas.
"Iya, Malisa. Rencana pernikahan kalian juga akan kita bicarakan saat kamu sudah membaik. Tapi yang paling penting nanti akan ada prosesi lamaran, ya?" sahut Bu Mirna.
"Kan saya sudah mengatakan mau menikah sama Dimas, Ma. Apakah harus dilamar juga?" tanya Malisa. Karena biasanya kalau lamaran akan menghadirkan orang tua atau pihak keluarga yang lain. Tetapi Malisa kan tak punya siapa-siapa lagi. Jadi apakah harus ada prosesi untuk itu juga?
"Tentu saja, Malisa. Kita akan memperlakukan kamu sebaik mungkin. Meskipun sebenarnya kemarin itu kami sudah akan melamar kamu. Tapi waktunya harus tertunda karena kamu sedang sakit. Jadi kami harus menunda dulu," jelas Bu Mirna.
Pantas saja Malisa melihat Bu Mirna dan Pak Hans datang seperti membawa hantaran. Malisa pun tersenyum tipis. "Oh, jadi malu. Kemarin itu sudah bangun kesiangan dan belum mandi juga."
"Nggak apa-apa. Kamu pasti lelah saat itu karena sebelumnya kamu tidur di rumah sakit dan kurang nyaman. Setelah kamu tidur di rumah jadi tidur nyenyak deh," sahut Bu Mirna.
Malisa jadi makin malu saja. Karena ia justru bangun kesiangan di saat akan dilamar oleh keluarga calon suami.
__ADS_1
Keesokan harinya sesuai arahan Dimas, Malisa mulai terapi jalan. Ia bersama dengan petugas yang ditunjuk oleh Dimas. Tentu saja petugasnya perempuan. Kalau laki-laki membuat Dimas akan cemburu.
Selama satu minggu lamanya Malisa dirawat di rumah sakit dan menjalankan terapi. Ia akhirnya bisa dinyatakan pulih dan bisa pulang.
"Malisa, kamu sudah membaik. Tapi aku minta kamu tetap hati-hati, ya?" tutur Dimas.
"Iya, dokter Dimas." Malisa kemudian hormat seperti hormat pada bendera.
"Kamu nih. Ya sudah kamu istirahat, ya? Nanti malam aku akan jemput kamu. Kita dinner nanti malam bersama orang tuaku dan juga adikku," ucap Dimas.
"Hah? Apakah nanti aku akan dilamar?" tanya Malisa untuk jaga-jaga. Ia tak mau sampai terjadi seperti yang sebelumnya.
"Bisa jadi. Sudah, aku pulang dulu." Dimas kemudian meninggalkan Malisa sendiri di sana.
Malisa pun merasa lega karena bisa pulang ke rumahnya. Ia kemudian melihat rumahnya cukup berantakan. Sudah satu minggu lebih ia meninggalkan rumahnya.
Tok tok tok.
"Siapa sih?" gumam Malisa. Ia kemudian membuka pintu. Ia kira Dimas yang kembali ke sana mungkin ada yang tertinggal.
Tetapi setelah ia membuka pintu sosok lain ada di sana. Perempuan cantik memakai kaos oblong dan jeans ketat sedang berdiri di depan rumah Malisa.
"Siapa, ya?" tanya Malisa juga merasa bingung.
"Oh, oke. Perkenalkan aku Angel. Kamu pasti nggak kenal kan sama aku. Jadi perlu aku jelaskan kalau aku ini adalah calon istrinya Antoni. Lebih tepatnya adik dari Dimas. Aku ingin mengajukan satu permintaan padamu," jelas Angel. Ia kemudian menggerai rambutnya. Cantik memang hanya saja Malisa melihat Angel sedikit sombong.
"Lalu ada apa? Kamu bisa masuk dulu ke dalam daripada berdiri di depan pintu," tanya Malisa lagi.
__ADS_1
"Oh, nggak perlu! Aku nggak bisa masuk rumah kecil dan kumuh begini. Nanti malam aku akan datang ke acara keluarga Dimas. Jadi kamu bisa mengatakan kalau kamu kau menikah dengan Dimas asalkan pernikahan kalian dan juga aku bersama. Aku hanya memberikan peringatan. Aku memiliki orang yang bisa aku bayar untuk membatalkan acara pernikahan kalian. Jadi aku nggak mau tahu pokoknya itu adalah syarat untuk kalian bisa menikah. Ngerti?" tandas Angel.
Malisa mengerutkan keningnya. "Kenapa kamu minta sama aku? Kamu kan bisa mengatakan sama Antoni langsung? Aku nggak kenal sama kamu." Ia heran kenapa ia selalu bertemu dengan orang yang memiliki kuasa dan selalu mengancamnya.
"Kalau aku bisa ngapain aku harus ke rumahmu seperti ini? Aku nggak mau tahu pokoknya itu harus terjadi. Kalau nggak aku akan bakar rumahmu ini!" Angel langsung meninggalkan rumah Malisa.
Malisa hanya menggelengkan kepalanya. Ia kemudian menutup pintu. Ia hanya tak habis pikir. Ia kemudian berpikir kalau Antoni berpacaran dengan perempuan yang ambisius. Tak jauh beda dengan Sherly yang akhirnya masuk ke penjara karena perbuatannya sendiri.
Tapi kalau nanti Malisa akan menikah dengan Dimas dan Angel menikah dengan Antoni apakah mereka akan bisa menjalin hubungan baik? Sementara Angel terlihat begitu angkuh.
Malisa tak mau memikirkan lagi. Ia kemudian memilih mandi. Ia sudah merasa kalau badannya lengket dan juga bau.
Malam harinya Dimas pun menjemput Malisa. Malisa tak memakai gaun seperti kebanyakan perempuan. Ia memakai pakaian yang ia miliki saja. Dengan polesan make up tipis saja. Ia hanya menggunakan bedak dan juga lipstik saja.
"Sudah siap tuan putri?" tanya Dimas.
Malisa masuk ke dalam mobil. "Mana Mama dan papa?"
"Mereka sudah di restoran. Nanti kita ketemu di sana," jawab Dimas. Ia kemudian melajukan kendaraannya. Tapi ia melihat kalau Malisa sedikit murung. "Kenapa denganmu, Malisa?"
"Eh, sebenarnya tadi siang setelah kamu pergi aku kedatangan tamu. Dia bilang dia adalah calon istrinya Antoni," jawab Malisa.
"Angel? Oh ya aku pernah ketemu sama dia sesekali. Ngapain dia ketemu kamu?" tanya Dimas.
Malisa kemudian menceritakan apa yang dilakukan Angel saat tadi siang. Ekspresi wajah Dimas berubah mandi marah.
"Tapi aku harap kamu pura-pura tidak tahu, ya? Aku nggak mau rumah ku yang aku bangun itu dengan susah payah akan dia bakar," tutur Malisa merasa takut.
__ADS_1