
Mona.
Tubuhnya gelisah, hatinya gundah gulana. Status istri sudah dia sandang, tapi haknya malam ini belum dia pegang. Dia menengok ke Doni yang sedang tertidur di sebelahnya. Dalam hati, timbul hasrat untuk membangunkannya. Barangkali, dengan terbangunnya Doni, Doni dengan senang hati akan membuat Mona tertidur kembali. Walau demikian, agaknya tidak mudah membangunkan Doni, sebab seberapa kencang Mona membolak-balikkan badannya di ranjang pun, Doni tak kunjung kembali dari alam mimpi. Mimpi apa sih dia? 'Nyenyak sekali tidurnya',batin Mona.
Sesungguhnya, Mona bukanlah wanita yang begitu-begitu saja. Dia juga dapat berpikir, bersiasat, dan memanfaatkan kondisi yang dimilikinya. Saat ini, dia sudah mendapatkan perhatian, rumah, harta, dan status sebagai istri (siri) Doni. Untuk membuat dirinya setara atau bahkan lebih dari Malisa, dia butuh Doni memberikan satu hal lagi kepadanya: anak.
Untuk itulah pada malam ini Mona bersikeras membangunkan Doni. Dia hendak memanfaatkan kesempatan berduaan dengan Doni pada malam ini agar dia dapat mendatangkan buah cintamereka berdua ke dunia. Kehadiran buah cintatidak dipungkiri lagi dapat membantu Mona untuk sepenuhnya memiliki hati Doni.
"Mas, bangun, Mas." Mona mencoba membangunkan Doni dengan bersuara selembut mungkin. Dengan lembut dia mengelus-elus pundak Doni dari belakang. Namun, masih saja Doni terbuai mimpi.
"Mas Doni, bangun." Kali ini, setelah menghidupkan lampu meja, Mona berbisik di telinga Doni. Cahaya remang-remang dan suara sayup Mona jelas dirasakan dan didengar oleh Doni. Sedikit demi sedikit, kesadaran Doni kembali.
"Iya, kenapa?" Ketika Doni membuka mata, dia disambut oleh Mona yang memasang raut wajah memelas. Cahaya remang-remang terpantul pada kulit pipi Mona yang mulus, menampakkan kecantikan seorang wanita yang tampaknya akan segera berhasil merebut hati suaminya Malisa. Mona menjawab dengan bersuara kecil, "Mas, aku gak bisa tidur."
__ADS_1
Doni mengerutkan kening, sepertinya dia terganggu dengan keluhan Mona tersebut. "Kenapa? Kedinginan?" Pertanyaan Doni tersebut diikuti dengan anggukan kepala Mona. Sambil sedikit menggerutu, Doni dengan sigap bangkit dari kasur dan berjalan menuju tempat remot pendingin ruangan berada. Setelah menaikkan suhu pendingin ruangan, dia kembali ke ranjang dan bersiap untuk tidur kembali.
Doni sama sekali tidak menyangka bahwa pada sampai pagi nanti dia tidak akan tidur lagi.
"Mas, jangan tidur dulu, dong. Aku masih gak bisa tidur," celetuk Mona. Kali ini, dia meletakkan kedua tangannya di lengan Doni. "Jangan tidur dulu, Mas," dia memohon kembali.
Doni kembali membuka mata. Kemudian, dia bangkit duduk di kasur. Setelah sejenak mengucek mata, dia menatap Mona dan bertanya dengan suara lembut tapi tegas, "Kamu kenapa lagi, Mona?"
Melihat Doni akhirnya benar-benar terbangun, sudut bibir Mona terangkat. Dia merasa yakin malam ini rencananya akan terlaksana dengan sempurna. Pada saat itulah, segala bujuk rayu terlontar dari bibirnya. Tangan-tangan eloknya meraba, meraih, dan menggapai bagian-bagian tubuh Doni. Bisa dibilang, bagi Mona, inilah bagian termudah dalam rencananya malam ini. Pada akhirnya, tidak butuh waktu lama untuk membangkitkan gairah Doni. Pada saat itu tiba, bukan hanya bulu tengkuknya saja yang berdiri. Demikianlah sejoli ini pun memadu asmara dalam malam yang gelap gulita. Ranjang, selimut, dan lampu meja menjadi saksi bisu gejolak asmara mereka yang menggelora pada malam itu.
Suara gaduh dari kamar sebelah pada akhirnya membangunkan Katy. Katy yang sedari awal sudah merasa tidak aman akhirnya mengikuti kodratnya sebagai bayi dan menangis sejadi-jadinya. Malisa dengan susah payah mencoba menenangkan Katy. Dia bangkit dari kasur dan menggendong Katy seraya berjalan mondar-mandir. Akan tetapi, Katy tetap saja menitikkan air mata. Mungkin dia merasa tidak nyaman dengan kamar barunya, mungkin juga dia merasa segan dengan istri baru ayahnya. Yang jelas, pada malam ini suasana rumah sama sekali tidak sehening sebelumnya.
Dalam hati Malisa, aneka rupa perasaan bercampur aduk. Kesal, marah, benci, kecewa, pun sedih. Bisa-bisanya Doni, suaminya, asyik mencicipi madunya sedangkan dia yang harus merawat bayi mereka seorang diri. Bukan Malisa tidak sudi merawat darah dagingnya sendiri, tapi tidakkah bayi ini juga anaknya Doni? Tidakkah bayi ini pantas diberikan kasih sayang yang bahkan jauh lebih besar daripada kasih sayang yang Doni berikan kepada Mona? Andai saja keluarga Malisa tidak berhutang budi kepada Doni, tidak akan Malisa sudi membagi hati Doni dengan wanita lain. Tidak tanggung-tanggung, dia pun akan angkat kaki dari rumah ini begitu Doni membuka pintu rumah ini lebar-lebar kepada wanita lain tersebut.
__ADS_1
Tidak terasa, setengah jam sudah berlalu. Katy masih juga menangis. Malisa ingin marah, tapi rasa kantuk yang luar biasa telah mendera dia. Alih-alih melabrak Doni, perlahan dia mengetuk pintu kamar Doni dan Mona sambil menggendong Katy.
Tok, tok, tok…
Terdengar ajakan masuk dari dalam kamar. Tok, tok, tok…Hanya suara derit ranjang yang menyambut ketukan pintu. Tok, tok, tok…Begitulah Malisa tak henti-henti mengetuk dengan perlahan, berharap dia tidak hanya bisa mengetuk pintu kamar Doni saja, melainkan pintu hatinya juga.
Selang beberapa waktu, suara derit ranjang berhenti. Pintu terbuka dengan kencang. Tampak Doni sedang berdiri tanpa busana. Peluh mengalir dari tubuhnya. Raut wajahnya penuh dengan amarah. Dia menghardik Malisa, "Tak tok tak tok terus, mau apa kamu, Malisa?" Mungkin kalau Malisa tidak sedang menggendong Katy yang sedang menangis, pipi Malisa sudah menerima tamparan dari Doni yang terganggu akan kehadirannya.
"Mas, Katy nangis terus. Dia tidak nyaman kalau tidur dengan kipas. Boleh tukar kamar sebentar? Nanti kalau Katy sudah tidur, aku…" Sebelum Malisa selesai berbicara, Doni segera memotongnya. "Halah, bilang saja kamu tidak suka Mona tidur di tempat kamu biasa tidur. Jangan kamu bawa-bawa anak kita ke masalah pribadi kamu sama Mona!" tegur Doni.
"Bukan begitu, Mas. Lihat ini, Katy betul-betul tidak nyaman. Aku sudah gendong dia dari tadi tapi dia masih belum bisa tidur juga,"Malisa menjawab dengan tak berdaya.
"AC dan kipas kan sama-sama sejuk. Sudah, jangan banyak alasan. Aku gak mau tahu pokoknya Katy harus kamu buat tidur."
__ADS_1
"Tapi, Mas …" Pintu kamar Doni kembali tertutup secepat saat terbuka tadi. Permohonan Malisa tidak didengarkan Doni yang sudah dimabuk cinta. Dengan berat hati, dia terpaksa memalingkan badan dan berjalan ke sana ke mari di dalam rumah sambil berusaha membuat Katy tertidur.
Di malam yang gelap gulita, peluh, keluh, dan misuh, semua bercampur satu. Karenanya, seisi rumah menjadi gaduh, dan hubungan suami istri di sana pun rusuh.