Pelakor itu Babysitterku

Pelakor itu Babysitterku
Berita duka


__ADS_3

Malisa juga hanya terdiam. Sambil menggendong Katy. Ia pun merasa sangat sedih karena sebenarnya itu yang ia takutkan. Ibunya akan meninggal kalau mendengar kabar dirinya sudah bercerai dengan Doni. Tapi bisa jadi itu semua sudah takdirnya. Malisa hanya menatap ayahnya yang sedang menangis memeluk ibunya yang telah terbujur kaku.


Proses pemakaman ibunya Malisa pun berjalan cukup cepat. Malisa juga tak bisa banyak membantu. Para tetangga juga sudah membantu dalam proses pemakaman.


"Pak, apakah hari ini akan diadakan pengajian?" tanya Malisa.


Pak Haris diam saja. Entah pikiran nya masih terfokus pada istrinya yang baru saja dimakamkan. Pak Haris nampak begitu sedih. Biasanya mereka selalu berdua kemana-mana tetapi kini ia hanya sendiri saja di sana.


Malam harinya pun diadakan pengajian. Tetapi Pak Haris pun masih terdiam. Tak ada ekspresi apapun yang muncul di mimik wajahnya. Malisa jadi khawatir sama bapaknya itu.


"Pak, bapak makan dulu ya? Sejak tadi pagi bapak belum makan apapun," ucap Malisa berharap bapaknya mau mendengarkan ucapannya.


Pak Haris nampak hanya menggelengkan kepalanya. Pak Hamid juga membantu membujuk Pak Haris agar mau makan tapi tetap saja tak mau.


Malam pun berganti. Malisa yang hendak ke kamar mandi kemudian melintas di kamar bapaknya tak terdengar apapun. Ia menganggap bapaknya sedang tidur dan membiarkan di kamar sendirian.


Setelah matahari pun mulai muncul, Malisa mulai membuka semua jendela agar sirkulasi udara pun berganti. Tetapi bapaknya yang biasanya sudah minum kopi pagi tidak ada. Malisa juga sudah menyiapkan kopi sejak tadi pagi. Namun, belum diminum juga.


Malisa paham mungkin bapaknya sedang merasakan sedih dan begitu kehilangan. Tetapi ia pun khawatir dengan bapaknya. Kemudian mengetuk pintu kamarnya.


Tok tok tok.


"Pak, Bapak," panggil Malisa.


Senyap. Tak ada jawaban. Beberapa kali Malisa mencoba mengetuk pintu tapi tak ada jawaban. Malisa kemudian memaksa untuk membuka pintu tapi terkunci dari dalam.

__ADS_1


Malisa tak bisa membuka pintu tersebut. Ia kemudian berlari mencoba memanggil siapa yang bisa membantunya membuka pintu kamar bapaknya tersebut.


Setelah menoleh ke sebelah rumah Pak Hamid kebetulan sedang menyapu halaman. Malisa menghampiri Pak Hamid.


"Pak, maaf mengganggu. Bisa minta tolong tidak?" tanya Malisa.


"Ada apa, Malisa?" balas Pak Hamid.


"Pak, sejak kemarin bapak saya tak membuka pintu. Saya hanya khawatir. Boleh minta tolong untuk membuka pintu kamar bapak saya?"


Pak Hamid mengangguk. Kemudian menuju ke rumah orang tuanya Malisa.


Setelah mengetuk beberapa kali tak ada jawaban. Pak Hamid yang memiliki kekuatan lebih besar dari Malisa pun berhasil mendobrak pintu kamar Pak Haris.


"Aaaaa, Bapaaak," teriak Malisa. Ia sangat terkejut dengan apa yang ia lihat di hadapannya itu. Bapaknya terlihat menggantung diri. Matanya melotot dan mulutnya juga menjulur.


Malisa hanya menangis. Ia tak percaya kalau akan kehilangan orang tuanya dalam waktu yang begitu cepat. Ia bahkan tak pernah berfikir akan menjadi sebatang kara. Maka kini tinggalah Malisa dan Katy sendiri.


Katy sejak tadi hanya menangis. Bahkan Malisa tak bisa menenangkan Katy yang menangis dengan cukup keras. Malisa merasa syok dan bingung harus apa.


Bu Lina, istrinya Pak Hamid pun mengajak Malisa sementara waktu untuk tinggal di rumahnya.


"Malisa, kamu sebaiknya tinggal di rumah kami saja dulu. Mungkin Katy merasa tak nyaman di rumah orang tuamu. Anak kecil sangat sensitif," ajak Bu Lina.


"Bu, saya tak tahu harus bagaimana," jawab Malisa. Ia benar-benar bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Katy juga terus menangis.

__ADS_1


"Iya, kamu tinggal di rumah kami saja dulu, Malisa! Nanti kalau keadaan memungkinkan kamu bisa kembali ke rumah ini. Kasihan Katy yang dari tadi menangis," sahut Bu Lina kemudian menuntun Malisa menuju ke rumahnya. Ia memang kasihan melihat Malisa yang baru saja kehilangan kedua orang tuanya dalam waktu sehari saja.


Malisa pun sudah di rumah Bu Lina. "Kamu bisa pakai kamar ini untuk kamu dan Katy istirahat, Malisa!"


"Terima kasih banyak, Bu," balas Malisa. Benar, di sana Katy pun bisa tenang. Hanya saja tak mau tidur di kasur. Hal itu bisa saja terjadi karena di tempat baru tentu tak mudah bagi Katy untuk tidur selain di pelukan Malisa.


Baru saja Katy tenang, Bu Lina datang dengan membawa secarik surat. "Malisa, seperti nya surat ini ditujukan padamu," ucapnya.


Malisa pun meraih surat tersebut dan membuka surat itu.


[Untuk Malisa.


Malisa, maafkan Bapakmu ini. Bapakmu memang bukan bapak yang terbaik untukmu. Bapak merasa sangat kehilangan setelah ibumu meninggal. Seperti bapak kehilangan semangat hidup. Bapak tak menyalahkan mu atas semua yang terjadi ini. Hanya saja bapak minta maaf tidak bisa menemani mu bersama Katy. Sebelumnya ibumu telah mengatakan kalau merasa putus asa setelah kamu bercerai dengan Doni dan ternyata ibumu meninggal dan itu membuat bapak merasa frustasi. Tak ada yang bisa bapak lakukan. Maaf, kalau bapak mengakhiri hidup dengan cara seperti ini. Bapak ingin berkumpul dengan ibumu. Maaf, selama ini bapak dan ibumu hanya bisa menyusahkan mu.]


Begitu lah isi dari surat dari Pak Haris. Air mata Malisa pun luruh. Hidup nya merasa hampa. Baru saja ia harus kehilangan suami, ia juga harus kehilangan orang tua. Hidupnya begitu terpuruk. Maka harus seperti apa ia harus menghadapi hidup? Uang pun ia tak punya sepeserpun. Ia benar-benar tak punya apa-apa selain Katy. Rumah tinggal orang tuanya pun banyak yang mengatakan akan jadi angker karena pernah terjadi bunuh diri.


Malisa memang tak merasakan apapun. Hanya saja Katy lah yang selalu menangis saat berada di rumah itu. Sehingga Malisa terpaksa harus tinggal di rumah Pak Hamid dan Bu Lina selama satu bulan terakhir.


Malisa hanya beberapa kali membersihkan rumah orang tuanya. Tapi saat ini ia sangat butuh uang untuk melanjutkan hidupnya. Kehidupan di desa begitu sulit untuk mencari uang. Mata pencaharian pun tak ada selain ke sawah. Sedangkan Malisa tak mungkin ke sawah karena tak ada keahlian.


"Pak, Bu, saya ingin bicara," ucap Malisa.


"Iya, Malisa. Ada apa?" tanya Pak Hamid.


"Sebelumnya saya ingin sangat berterima kasih karena telah menampung saya di sini. Tapi sepertinya saya sudah berfikir kalau akan pergi ke kota. Saya ingin mencari pekerjaan, Pak," jawab Malisa dengan hati-hati.

__ADS_1


Pak Hamid nampak menghela napas. Ia bahkan sudah menganggap Malisa seperti anaknya sendiri.


__ADS_2