
Malisa kemudian pamit untuk ke kamar mandi. Ia merasa benar-benar kacau di hadapan calon suami dan keluarganya. Tetapi saat hendak keluar ia pun kembali melangkah cepat dan justru ia kembali terpeleset. "Aduh," keluh Malisa.
Melihat Malisa yang tersungkur membuat Dimas segera bangkit. Ia pun kembali memeriksa kondisi Malisa yang terkilir. Kakinya kali ini lebih parah dari sebelumnya.
Dimas pun segera membawa Malisa ke rumah sakit. Malisa pun masih menahan rasa sakitnya.
Sampai di rumah sakit Malisa pun segera ditangani oleh Dimas sendiri dibantu dengan alat yang ada di rumah sakit. Kaki Malisa terpaksa harus dipasang alat penopang sementara waktu. Karena kaki Malisa yang terkilir cukup parah.
Malisa harus dirawat sementara waktu di rumah sakit. "Malisa, sekarang gantian aku yang akan merawat kamu," ucap Dimas.
"Yah, maaf. Acara mu jadi terhambat. Bahkan aku juga belum sempat mandi. Benar-benar malu aku saat ini," sahut Malisa.
"Nggak apa-apa. Kamu nggak mandi juga cantik kok. Kan aku malah sering selama ini lihat kamu tidur dan belum mandi," balas Dimas.
Malisa kembali mengingat. Memang ia selama di rumah sakit juga menunda waktu mandi setelah selesai membuat sarapan untuk Dimas.
"Tapi kan beda." Malisa berusaha mencari alasan tapi tetap saja tak bisa.
"Malisa, kamu di sini sama Dimas. Nanti saya gantian yang akan menjaga mu kalau Dimas sedang waktunya untuk kerja, ya?" ucap Bu Mirna. Ia merasa mengganggu waktu anak sulungnya dan juga calon menantunya itu.
"Ah, tak perlu repot-repot, Bu. Karena selama ini saya sudah merepotkan ibu," ucap Malisa.
__ADS_1
"Malisa, mulai sekarang kamu panggil mama, ya? Masa iya calon istrinya Dimas masih panggil Bu terus. Biar lebih akrab kamu panggil Mama, ya?" pinta Bu Mirna.
"Em, iya, Bu. Oh maksud saya Mama," sahut Malisa.
"Iya, nah. Kan gitu jadi lebih baik. Oke, kalau gitu Mama pulang dulu, ya?" pamit Bu Mirna. Disusul dengan Pak Hans.
Pak Hans memang awalnya menolak Malisa karena Malisa adalah perempuan dari kalangan rendah. Bahkan sebenarnya tak berpengaruh apapun untuk perusahaannya.
Kalau Dimas menikah dengan Sherly, ayahnya Sherly akan memberikan suntikan dana ke perusahaan. Tapi setelah melihat ketulusan dan kerendahan hati Malisa kepada Dimas membuat ia pun merestui Malisa menjadi calon menantunya.
Di tempat yang berbeda. Antoni sedang menemui pacarnya. Antoni baru saja ikut bersama orang tuanya tapi ia tak ikut ke rumah sakit untuk mengantarkan Malisa. Mereka bertemu di sebuah cafe.
"Sayang, kenapa lama sekali sih?" rengek Angel, pacarnya Antoni. Ia adalah anak pengusaha tapi ia masih kuliah. Perbedaan usia antara Antoni dan Angel terpaut lima tahun. Mereka menjalin asmara sejak Antoni baru saja bekerja di perusahaan Pak Hans. Sementara Angel saat itu masih sekolah SMA dan kebetulan magang di perusahaan Pak Hans. Sejak itu lah Antoni dan Angel pun menjalin asmara.
Angel merasa penasaran. Setelah memesan minuman ia pun mulai menyender di bahu Antoni. "Drama gimana sih?"
"Yah, gitu. Kakakku itu ngebet banget sama janda. Padahal juga nggak cantik. Jauh cantiknya sama kamu. Tapi yah gitu sepetinya janda itu cari cari perhatian kakakku," jawab Antoni. Ia memang merasa kalau tak suka dengan Malisa. Sudah janda dan miskin juga.
"Mungkin dia memang cari perhatian kakakmu. Jadi dia banyak drama. Tapi ya sudah lah jangan dipikirkan lagi tuh janda. Ngapain juga sih," balas Angel.
Mereka pun menghabiskan waktu bersama di cafe tersebut. Selama lima tahun memang Angel dan Antoni berhubungan baik. Baik Antoni maupun Angel juga saling memberikan perhatian satu sama lainnya. Tetapi hari ini Angel ingin sesuatu yang lebih.
__ADS_1
"Sayang. Kapan dong kamu melamar aku? Kita pacaran sudah lima tahun loh," tanya Angel.
"Hah? Kamu saja belum lulus kuliah. Ingat, kamu itu sudah semester sembilan. Sudah lebih dari estimasi. Kamu lulus saja dulu baru kita bicarakan masalah melamar," jawab Antoni. Ia memang mencintai Angel. Hanya saja untuk saat ini untuk menikah belum ada di pikirannya.
"Duh, kenapa harus menunggu aku lulus sih? Kamu tahu kan jurusan ku itu sulit. Bahkan hanya segelintir dari teman-teman ku yang lulus tepat waktu," elak Angel. Ia pun menegakkan duduknya.
"Yah, pokoknya Kamu lulus saja dulu lah. Kenapa Kamu malah memikirkan menikah? Kalau Kamu nggak fokus nanti kapan kamu bisa segera lulus?" balas Antoni. Ia memang tegas dalam urusan akademik. Bahkan dirinya sudah magister. Sementara pacarnya belum juga lulus sarjana. Ada malu di hatinya kalau nanti ia akan ditanya oleh orang siapa calon istrinya. Kalau sekadar pacaran mungkin tak masalah baginya.
"Aku nggak mau tahu pokoknya. Kalau kakakmu menikah besok aku mau kita juga menikah," rengek Angel. Hal itu membuat Antoni sedikit kesal.
"Kamu nggak usah mengancam begitu lah! Selama ini aku juga sudah menuruti keinginan mu, Angel. Jadi kamu lulus dulu baru nanti aku mau melamar kamu. Syukur kalau kamu mau melanjutkan ke magister seperti aku," balas Antoni.
Angel merasa kesal. Ia pun mendengus. Dari pada nanti Antoni makin marah kepadanya ia lebih memilih untuk membicarakan hal yang lain.
"Oh ya, bagaimana kalau kita berlibur ke resort? Papaku baru saja launching sebuah resort di kawasan yang belum banyak orang ke sana. Tapi kawasan tersebut sudah ramai penduduk. Bagaimana menurut mu?" tanya Angel. Setidaknya ia masih harus menjaga mood Antoni.
"Tidak. Aku sedang sibuk. Sebentar lagi aku akan dipromosikan papa ku sebagai manajer keuangan. Jadi aku harus banyak bekerja dan juga belajar. Nggak jalan-jalan terus," tolak Antoni.
Angel jadi merasa kesal. "Kok aku merasa dari tadi aku salah terus sih? Sebenarnya kamu masih cinta sama aku atau tidak?"
"Angel, bukannya aku tak cinta sama kamu. Tapi aku harap kamu bisa berfikir lebih dewasa! Aku melakukan semua ini juga demi masa depanku. Aku punya progress ke depan. Kamu masih berfikir kekanakan. Oke, kamu mengajak aku jalan-jalan. Tapi bukan sekarang. Kalau kamu saat ini hanya bisa mengajakku ribut lebih baik aku pulang saja," balas Antoni. Ia tak habis pikir dengan Angel yang masih berfikir tentang jalan-jalan. Padahal kuliahnya saja sudah over dari estimasi. Sedangkan Antoni juga harus mengurus banyak hal untuk masa depan.
__ADS_1
"Terserah kamu mau bilang aku apa. Tapi aku nggak mau kalau kamu marah-marah nggak jelas seperti ini. Terserah kamu lah. Kamu mau pulang atau apa. Aku malas berdebat," balas Angel dengan melipat tangannya di depan dada.