
Sepanjang perjalanan Malisa cukup gugup. Antoni telah membuatnya gugup karena berada di satu mobil bersama Dimas juga. Padahal biasanya Antoni selalu memakai mobil sendiri. Tetapi entah kenapa hari ini Antoni ikut satu mobil dengan Malisa dan juga Dimas.
Sampai di kantor polisi Malisa, Dimas dan juga Antoni duduk berdampingan dimana Malisa berada di tengah-tengah antara Dimas dan Antoni. Ia cukup merasa aneh.
Setelah itu polisi pun meminta keterangan dari korban terlebih dahulu. Dalam hal ini adalah Malisa tentunya.
Malisa pun menceritakan apa yang ia alami saat itu. Setelah itu gantian dengan Dimas dan juga Antoni. Setelah dirasa cukup akhirnya Malisa, Dimas dan juga Antoni bisa bertemu dengan Angel untuk beberapa saat.
Malisa ingin bertemu dengan Angel empat mata.
"Malisa, aku akan menemani kamu," ucap Dimas.
"Nggak usah! Aku cuma mau bicara saja sama dia sebentar. Dia pasti nggak akan ngapain-ngapain juga, kan? Di sini hanya polisi," tolak Malisa.
Saat Malisa hendak masuk ternyata Antoni lah yang mendampingi Malisa. "Kenapa kamu ikut?" tanya Malisa.
"Sudah lah!" sahut Antoni.
Malisa mengerutkan keningnya. Entah apa yang dipikirkan oleh Dimas kenapa mengizinkan Antoni yang masuk bersamanya. Mereka pun duduk berdampingan sementara Angel masih dipanggil.
Angel pun datang bersama dengan seorang polisi.
"Jadi beneran kan kalian ada hubungan? Dasar wanita iblis kamu," dengus Angel. Meskipun sudah ada di sana ternyata Angel tak membuang rasa malu dan juga bersalah.
"Jaga ucapanmu itu! Aku yang minta masuk sama Kak Dimas. Karena aku nggak mau orang seperti itu akan berbuat nekat lagi. Aku malu," sahut Antoni.
"Lalu untuk apa kalian ke sini berdua?" tanya Angel.
"Sudah lah. Kami ke sini bertiga kok. Angel, aku nggak tahu kenapa kamu melakukan ini semua sama aku. Kalau kamu bilang dendam aku minta maaf kalau aku pernah punya salah sama kamu. Meskipun sebenarnya aku juga bingung kenapa kamu begitu dendam sama aku padahal aku tak pernah kenal kamu sebelumnya. Hanya saja aku minta kamu setelah ini bisa introspeksi diri agar kamu bisa lebih baik ke depannya! Aku hanya minta maaf, tapi asal kamu tahu semua tuduhan mu ke aku itu tidak benar. Aku sama sekali tak mengambil Antoni dari kamu. Aku akan menikah dengan Dimas," jelas Malisa.
Tetapi Angel justru mencetak miring bibirnya. "Sok suci kamu janda. Nggak usah banyak bicara! Pergi kamu dari sini! Aku nggak butuh orang sok suci. Akan ku pastikan kalau kalian ada hubungan. Wanita ular kamu!" usir nya.
"Sekali lagi jaga ucapan mu itu, Angel! Aku tak sudi ketemu kamu lagi setelah ini. Bahkan aku menyesal telah menjalin hubungan dengan wanita yang berhati busuk seperti mu," sahut Antoni.
Angel yang sedari tadi tak mau duduk kemudian menggebrak meja.
Brak.
__ADS_1
"Kamu selama ini yang hanya mempermainkan aku, kan? Kamu memang lelaki yang buta. Kamu justru melirik wanita janda ini setelah punya aku selama ini. Gila!" Angel pun kembali tertawa padahal tak ada yang lucu.
Antoni pun menggelengkan kepalanya.
"Angel, aku minta maaf dan aku mau pamit," pamit Malisa kemudian bangkit.
Tetapi tiba-tiba tangan Angel berayun dan hendak memukul Malisa. Dengan cepat Antoni melindungi Malisa dengan cara memeluk Malisa.
Bug.
Punggung Antoni pun yang kena pukul. Sementara Malisa terkejut dengan perlakuan Antoni kepadanya.
"Gila!" dengus Angel.
"Maaf," ucap Antoni kemudian menguraikan pelukannya terhadap Malisa.
Malisa mundur dan kemudian meninggalkan ruang tersebut. Sementara Angel kembali ditangkap oleh polisi karena telah berbuat anarkis.
Antoni pun menyusul Malisa keluar.
"Nggak ada. Kita pulang saja, ya?" jawab Malisa.
Mereka pun pulang sesuai ajakan Malisa. Begitu juga dengan Antoni.
Sampai di rumah Orang tua Bu Mirna Dimas pun pamit untuk segera ke rumah sakit karena sudah sift masuk ia kerja. Sementara Malisa punya tanggungan untuk memberikan laporan pada Antoni.
Setelah makan siang, Malisa dan Antoni ke ruang kerja. Mereka hanya berdua. Malisa pun sudah menyalakan komputer.
"Laporan dari saya sudah saya kirimkan ke email Anda," ucap Malisa.
"Bicara santai saja! Kamu aku. Nggak usah anda dan saya. Biar lebih santai. Lagipula kamu juga bukan bawahanku," sahut Antoni.
"Iya sudah kalau begitu. Bisa dicek dulu!" balas Malisa. Ia tak mengucapkan kamu dan aku.
Antoni pun mulai mengecek laporan yang diberikan oleh Malisa.
"Malisa, sebenarnya pekerjaan ini bisa kamu kerjakan selama dua hari kerja. Tapi kamu bisa mengerjakan laporan ini selama kurang dari satu hari kerja," ucap Antoni.
__ADS_1
Malisa menoleh. "Tapi itu memang tak membutuhkan waktu yang lama."
"Ya, itu artinya kamu memang masih mahir mengerjakan ini. Aku senang bekerja denganmu," puji Antoni.
"Ya, syukur lah kalau begitu. Tapi apakah aku juga tak di blacklist dari perusahaan ini juga? Kan waktu itu aku sudah di black list oleh semua perusahaan," tanya Malisa.
Antoni nampak tersenyum. "Kenapa? Itu hanya pekerjaan Sherly dan mantan suamimu. Bahkan mungkin sekarang mereka lah yang di blacklist," jawabnya.
Malisa pun manggut-manggut. "Oh begitu, ya? Jadi sekarang apa yang harus aku kerjakan?" Ia pun melupakan kejadian saat di kantor polisi tadi. Dimana Antoni memeluk dirinya. Ia hanya menganggap itu hanyalah hal sesuatu yang biasa. Untuk melindungi Malisa saja.
Antoni justru menjawab pertanyaan Malisa. Ia hanya melamun dengan melihat Malisa.
"Antoni? Antoni?" panggil Malisa beberapa kali.
Antoni pun membuyarkan lamunannya. "Oh ya, ada apa lagi?"
Malisa tersenyum tipis. "Aku tanya ada pekerjaan apa lagi yang bisa aku kerjakan?"
Antoni nampak salah tingkah. "Oh, ada laporan keuangan selama lima tahun. Aku berikan waktu kamu selama satu minggu. Bisa lebih sih. Asal keadaan memungkinkan."
"Baiklah. Segera aku kerjakan,'' jawab Malisa. Ia pun mulai mengerjakan tugas dari Antoni.
Sedangkan Antoni masih bingung kenapa dengan dirinya. Ia merasa ingin melindungi Malisa juga.
Tepat pukul dua siang Antoni pun menyuruh Malisa untuk pulang karena sudah jam pulang kerja.
"Oh, bagaimana kalau aku bawa pulang?" tanya Malisa.
"Nggak usah. Besok saja!" jawab Antoni. Ia sebenarnya juga hanya memberikan laporan yang hanya untuk dianalisis ulang saja. Bukan pekerjaan yang berat. Jadi ia tak mau membebani Malisa sampai harus membawa pulang pekerjaan.
"Kamu pulang sama siapa?" tanya Antoni.
"Sama supir nya papa mungkin. Kalau nggak ya aku naik taksi online saja," jawab Malisa.
"Biar aku antar," sahut Antoni cepat.
"Tapi..." Malisa sebenarnya agak keberatan kalau Antoni yang mengantarkan diri nya.
__ADS_1