
"Ya, ada apa, Malisa?" sahut Bu Yuni.
"Maaf, saya cuma mau bertanya. Kenapa pipi Katy terlihat sedikit lebam, ya? Saya kira tadi pagi tidak apa-apa. Bahkan saat saya pegang dia menangis," tanya Malisa.
"Oh, kamu menuduh saya, ya? Sudah bagus ya saya mau menerima kamu dan anakmu. Bahkan saya juga yang bersedia mengasuh anakmu saat kamu bekerja. Dan sekarang kamu menuduh saya, hah? Pergi kamu dari rumah saya!" usir Bu Yuni.
Malisa hanya mendengarkan ocehan ibu kostnya itu. "Maaf, Bu. Saya tidak menuduh. Saya hanya bertanya."
"Itu artinya kamu menuduh saya. Sudah, nggak mau tahu sekarang kamu pergi dari sini malam ini juga!" Bu Yuni mendorong tubuh Malisa. Ia kemudi menutup pintu rumahnya yang terhubung dengan kamar kost.
Malisa membalikkan badan. Beberapa penghuni kost pun melihat hal itu tapi diam saja dan tak peduli. Malisa kemudian menerima pengusiran itu. Ia kemudian mengemas semua pakaiannya dan juga milik Katy.
Hati Malisa begitu sedih. Bukan sedih karena diusir. Tetapi sedih dengan nasib Katy yang seakan tak bisa mendapatkan tempat tinggal yang layak. Bayi berusia
Malam ini juga ia harus pergi. Tapi tak tahu harus kemana.
Setelah selesai mengemas semua pakaian, Malisa hendak pamit kepada ibu kostnya tapi ditolak. Dan Malisa disuruh untuk langsung meninggalkan rumah itu.
Malam itu juga Malisa keluar dari rumah itu. Hal pertama yang ingin ia lakukan adalah memeriksa kondisi Katy. Tapi ia bingung juga belum gajian dan tak memiliki uang. Ia harus membawa Katy kemana lagi.
Malisa mencoba ke rumah sakit terdekat. Memang yang paling dekat adalah rumah sakit dimana Dimas bekerja. Ia hanya berharap kalau tak bertemu dengan Dimas. Apapun yang terjadi Ia harus membawa Katy.
Sampai di rumah sakit.
"Mbak, saya mau memeriksakan kondisi anak saya. Tapi …" Ucapan Malisa pun terhenti.
"Tapi kenapa, bu? Ada yang bisa kami bantu?" tanya resepsionis.
"Tapi saya tak punya uang. Tapi saya khawatir dengan kondisi anak saya," jawab Malisa. Ia mengatakan jujur daripada nanti kena masalah. Tapi ia hanya butuh tempat untuk bersandar untuk malam ini saja.
__ADS_1
"Maaf, tapi harus membayar biaya selama melakukan pengobatan atau sekedar memeriksa, Bu," jawab resepsionis.
Air mata Malisa pun luruh. Kemana lagi ia harus membawa Katy. Katy terlihat makin lebam saja di pipinya. Ia bahkan menangis di depan resepsionis tersebut. "Baiklah kalau begitu. Terima kasih." Malisa masih saja terisak. Ia kemudian berbalik dan entah mau kemana lagi dia membawa diri dan juga buah hatinya yang ada di pelukannya.
Perasaan ibu mana yang tega melihat buah hatinya merasakan tak punya tempat tinggal dan siapa pun. Hati Malisa tentu saja hancur. Kalau saja ia sendiri tak masalah. Tetapi bayi itu yang membuat ia tak tega.
"Malisa," panggil seseorang.
Malisa masih menangis pun tak mendengar kalau ia sedang dipanggil. Ia hanya beranggapan kalau hanya angin. Siapa juga yang akan memanggilnya.
"Malisa," suara itu kembali muncul dari samping Malisa. Lelaki yang kini berdiri di samping Malisa pun merasa iba.
"Dokter Dimas," lirih Malisa.
"Malisa, ya tuhan ya tuhan. Akhirnya kita bisa ketemu lagi. Aku sudah lama mencarimu. Maafkan aku, Malisa," ucap Dimas.
"Kamu kenapa ada di sini? Katy kenapa?" tanya dokter Dimas.
"Aku ingin memeriksa Katy. Tapi pihak rumah sakit mengatakan kalau nggak punya uang nggak boleh periksa. Maka aku nggak jadi," jawab Malisa.
Dimas merasa terenyuh. "Ok, ayo aku periksa Katy di dalam!" ajak dokter Dimas.
Resepsionis tadi juga melihat Malisa melewatinya dengan Dokter Dimas. Agak heran tapi ia juga hanya melakukan apa yang menjadi tugasnya.
Di ruang periksa Dimas, Dimas melihat kondisi Katy dengan lebam di bagian pipinya.
"Katy kenapa?" tanya Dokter Dimas.
"Aku nggak tahu. Dia aku titipkan ke ibu kostku tapi tadi aku melihat kalau pipinya lebam dan aku pegang dia menangis. Terus tanya sama dia malah aku diusir dari kostku," jawab Malisa.
__ADS_1
"Oke, aku akan melakukan rontgen ya. Kamu yang sabar!" Dimas melakukan semua prosedur. Mulai awal Dimas lah yang mendaftarkan Katy agar bisa mendapatkan pelayanan kesehatan. Ia kemudian merontgen Katy dibantu petugas yang bersangkutan.
"Dari apa yang kita dapatkan. Sebenarnya luka tidak ada di bagian pipi saja. Tapi ada di kaki dan tangan. Bisa jadi jatuh dari ketinggian," jelas Dimas setelah melihat hasil rontgen.
Malisa terperangah. Ia tak menyangka kalau hal itu benar-benar terjadi. Ia tak menyalahkan ibu kost nya. Tetapi ia justru menyalahkan dirinya yang tak bisa menjaga Katy.
Malisa kembali menangis.
Dimas menatap Malisa. Ia pun merasa kasihan pada Malisa apalagi Katy.
"Malisa, ayo malam ini aku nikahi kamu! Aku akan menjaga mu dan juga Katy," ajak dokter Dimas.
"Kamu sudah punya tunangan. Aku nggak mau hanya karena kasihan kamu melakukan itu. Sudah, ini adalah jalan hidupku tak masalah," tolak Malisa. Sebagai janda memang tak mudah. Ia harus bisa menjaga diri dari fitnah apapun.
"Aku akan menjaga mu, Malisa. Aku sudah suka sama kamu sejak lama." Dimas tetap keukeuh untuk mengajak menikah Malisa.
"Terlalu berat untukku, Dimas. Mungkin kita bisa saja menikah. Tapi banyak orang yang akan tak suka sama kita. Tunangan mu pasti akan mengambil langkah yang di luar dugaan. Aku tak mau sampai Katy jadi korban lebih parah. Aku sudah tak punya siapapun lagi selain Katy. Orang tuaku telah meninggal di kampung kemarin. Cukup!" Malisa hanya minta pada Dimas untuk tidak melanjutkan obrolan mengenai pernikahan. Ia hanya ingin fokus saat ini pada Katy.
"Baiklah kalau gitu. Untuk sementara waktu Katy harus mendapatkan perawatan. Biar aku yang mengcover semua. Aku harap ini tidak kamu tolak. Ini semata-mata aku lakukan demi Katy," lanjut Dimas.
Malisa menganggukkan kepala nya. Ia memang ingin kesembuhan Katy. Tentu badan Katy sakit semua karena jatuh. Bisa jadi tadi Bu Yuni lalai dalam mengawasi Katy. Bisa jadi Katy terjatuh saat sedang berguling di kasur dan tak diawasi. Pikiran Malisa berkelana kemana-mana. Ia merasa badannya remuk. Tentu mulai besok ia tak bisa lagi bekerja di warung Bu Rahma karena tak ada yang menjaga Katy.
Tak peduli. Yang penting saat ini Katy bisa mendapatkan perawatan.
"Malisa," panggil Dimas dan membuyarkan lamunan Malisa.
"Iya?" Malisa menoleh.
"Kamu pasti belum makan, kan? Ayo kita makan aku bawakan makanan. Aku temani kamu untuk makan," ajak Dimas. Ia memberikan kotak makan untuk Malisa.
__ADS_1