Pemandu Hati Pengganti

Pemandu Hati Pengganti
Bab 10. Hampir Ketahuan


__ADS_3

Hari itu, akhirnya Rama ikut serta dalam liburan dadakan Pradha dan juga Chandra. Awalnya dia menolak, tetapi sang ibu mendesaknya untuk ikut serta. Chandra tidak ingin selama liburan ada orang jahat yang akan mencelakai keduanya.


Sepanjang perjalanan ke Nusa Lembongan keakraban mulai terjalin di antara Chandra dan juga Pradha. Keduanya saling bertukar cerita dan melemparkan canda. Beberapa kali juga Pradha menceritakan kebiasaan lucu Praba ketika kecil.


Di belakang roda kemudi, Rama sedang mengamati dua orang perempuan yang dia cintai dari kaca spion yang menggantung di atasnya. Sesekali Rama tersenyum geli melihat tingkah lucu Pradha yang jarang terlihat.


"Kalau Rama dulu, paling suka tidur sambil mencium aroma ketiak ayahnya."


Sontak tawa Pradha pecah. Ujung mata perempuan itu basah. Dia merasa perutnya seperti digelitik.


"Benarkah? Ih, Kak Rama jorok banget!" seru Pradha di tengah gelak tawa.


"Iya loh, beneran!"


"Oh ya, papa sudah lama meninggal, Bu?" tanya Pradha.


Chandra tertunduk lesu. Jemarinya saling meremas satu sama lain. Dia kembali teringat bagaimana saat terakhir keduanya bersama.


"Iya. Dia meninggal ketika ekonomi kami sedang terpuruk. Dia menjalani perawatan di negara asalnya agar bisa mengklaim asuransi. Sehingga mau tidak mau aku harus membawa salah satu di antara putraku ikut bersama." Mata Chandra mulai basah, dadanya terasa begitu sesak ketika mengenang masa terburuk dalam hidupnya.


"Pertama aku mengajak Abi, karena Rama sedang masa skripsi. Sayang kalau dia yang ikut lebih dulu. Ketika dia selesai, barulah aku memintanya untuk menyusul."


Kepingan puzzle yang penuh tanya itu, kini mulai bisa dirangkai satu per satu. Pradha jadi tahu, kenapa Abi tiba-tiba pindah sekolah. Tak lama setelahnya, Rama juga menghilang tiba-tiba tanpa kabar.


"Bu, maafin Pradha, ya? Karena Pradha, ibu harus kembali mengorek luka lama keluarga kalian." Pradha meraih jemari sang mertua, kemudian mencium punggung tangannya.


"Sudah, sudah. Semuanya sudah berlalu. Kita mau bersenang-senang, 'kan? Kenapa sekarang jadi mellow gini suasananya! Yok, Girls! Tunjukkan senyuman terindah kalian!" Rama mencoba mengembalikan keceriaan keduanya.


Berkat usaha Rama, Pradha dan Chandra kembali ceria. Mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan hati yang gembira. Setelah sampai di pelabuhan Sanur, mereka langsung menyewa kapal untuk menyeberangi lautan.


Tiga puluh menit kemudian, mereka bertiga sampai di Nusa Lembongan. Pantai dengan pasir putih menyambut kedatangan mereka. Air laut sebening kristal membuat mata terasa sejuk menatapnya.


Begitu sampai, Pradha langsung memesan cottage yang ada di dekat Mushroom Bay. Pradha tidur sekamar dengan Chandra, sedangkan Rama tidur sendirian. Hari itu mereka langsung menuju tepi pantai dan berpiknik sesuai keinginan Chandra.


...****************


...


Keesokan harinya, Pradha mengajak Chandra untuk melakukan snorkeling. Mereka menyelam di sekitar Crystal Bay. Beraneka macam terumbu karang masih terjaga dengan ikan mola-mola yang berenang ke sana ke mari membuat Pradha dan Chandra tersenyum bahagia. Setelah lelah menyelam, keduanya memutuskan untuk kembali ke hotel dan beristirahat.


Malam pun tiba, Pradha berjalan sendirian menyusuri pantai dengan hamparan pasir putih. Langit terlihat begitu terang karena cahaya bulan, dan dimeriahkan oleh kerlip bintang. Angin laut berembus menerpa rambutnya yang terurai.

__ADS_1


"Jadi pengen punya rumah di sini," gumam Pradha seraya tersenyum lembut.


Mata Pradha terpejam, menikmati setiap sentuhan dari Sang Bayu. Aroma laut yang berasal dari tumbuhan alga, membuat hati Pradha begitu tenang. Senyumnya terus merekah setiap kali angin berembus membawa aroma tersebut.


Tiba-tiba Pradha merasa ada sesuatu yang menyelimuti punggungnya, sehingga punggung terbuka itu kini terasa hangat. Setelah menoleh, barulah dia sadar bahwa Rama telah menyelimutinya dengan jaket milik lelaki itu.


"Terima kasih," ucap Pradha sembari tersenyum lembut.


Rama pun segera duduk di samping Pradha. Dia ikut menatap lautan bebas di depannya. Tanpa sengaja jemari mereka bersentuhan. Awalnya Pradha tersentak.


Namun, sebuah senyum tipis sekarang terukir di bibir perempuan cantik tersebut. Bayangan bagaimana manisnya bibir Rama ketika menyentuh bibirnya kembali terbayang. Sebuah dosa yang jelas-jelas dia lakukan, tetapi tak ada rasa penyesalan dalam diri Pradha.


Aku memang perempuan brengsek!


Pradha merutuki dirinya sendiri. Keduanya masih terdiam. Bergelut dengan pikiran masing-masing. Hanya terdengar embusan angin yang menerpa pohon kelapa, serta deburan ombak yang menghantam batu karang.


"Kak, apa tidak apa-apa kita seperti ini?"


"Menurutmu?"


"Aku takut dengan omongan orang." Pradha menoleh ke arah Rama, begitu juga dengan lelaki tersebut.


"Kita jalani saja dulu, Dha."


"Bangkai yang disimpan serapat apa pun bukankah akhirnya akan tercium?"


Suasana kembali hening. Kini Pradha diterpa kegelisahan. Dia memang masih mencintai Rama, tetapi perempuan itu juga tidak ingin mengukir kekecewaan di hati ibunya.


"Aku tahu ini akan menimbulkan banyak pertentangan. Kita tunggu selama satu tahun ke depan. Jalani saja yang ada, setelah kamu dan Abi bercerai, kita menikah."


"Kak, kamu benar-benar membuatku seperti penjahat!" Pradha tersenyum kecut.


"Dan kamu membuatku layaknya seorang pencuri!"


Tawa mereka berdua pun pecah. Rama menggeser tubuhnya, hingga kini berhadapan dengan Pradha. Dia merangkum wajah cantik kekasih gelapnya itu penuh cinta.


"Aku tahu hubungan ini salah. Aku menyadarinya. Kita hanya butuh waktu yang tepat untuk mengakhiri hubungan gelap ini, dan meresmikannya dalam ikatan pernikahan."


Pradha mengangguk pelan sembari tersenyum lembut. Rama mulai mengikis jarak mereka. Dia langsung mendaratkan kecupan pada bibir sang kekasih, dan keduanya pun saling bertukar rasa.


Napas Pradha hampir habis karena kelakuan Rama yang begitu agresif. Dia akhirnya mendorong pelan tubuh pria tersebut. Pradha mengambil oksigen dari udara secara rakus, untuk mengisi kembali paru-parunya.

__ADS_1


"Maaf, Sayang." Rama terkekeh kemudian meraih tubuh Pradha dan memberinya pelukan.


Pradha melepas pelukannya karena melihat sosok Abi yang sedang berjalan dari kejauhan. Rama pun ikut menoleh ke arah Abi yang kini semakin dekat.


"Tadi ... lihat kita pelukan nggak, ya?"


"Aku rasa nggak tahu, Kak." Pradha bangkit dari duduknya kemudian menatap Abi yang melempar senyum.


Setelah sampai di depan Pradha, Abi menggandeng jemari sang istri. Dia sengaja melakukan hal itu untuk mengingatkan sang kakak, bahwa dia sudah menjadi miliknya.


"Kamu, kok sudah balik? Bukannya ada pekerjaan selama lima hari?" tanya Rama.


"Kenapa memangnya, Kak? Apa kakak kecewa karena aku telah mengganggu waktu kalian berduaan?"


Rama terbelalak, kemudian menunduk dan mengusap tengkuk. Tiba-tiba Abi tertawa terbahak-bahak. Rama pun mengalihkan pandangannya kembali kepada sang adik.


"Kalian serius sekali? Aku hanya bercanda."


"Kamu mau ikut menginap hari ini, Bi? Biar aku pesankan kamar."


"Nggak usah! Aku sekamar sama istriku saja."


"Masalahnya dia sekamar sama ibu, Bi."


"Oh, kalau gitu, kita tukeran kamar. Aku dan Pradha tidur di kamarmu, terus kamu sama ibu tidur sekamar." Abi tersenyum datar sambil menatap tajam sang kakak.


Perasaan Rama mendadak gelisah. Dia tidak rela melihat sang adik dengan Pradha tidur dalam satu ruangan yang sama. Namun, lelaki tampan itu tidak bisa melancarkan protes. Akhirnya malam itu, Rama tidur dalam kegelisahan memikirkan banyak hal buruk tentang aktivitas malam Pradha dan suaminya.


...----------------...


Season 1


Bab 1- 127


Menceritakan awal mula dan perjalanan Kasih dalam menemukan tentang keluarga kandung dan balas dendam.


Season 2


Bab 128 - tamat.


Perjalanan cinta Kasih juga beberapa tokoh lainnya. Apakah mungkin masih bisa mempercayai dan menemukan cinta? Siapa lagi sebenarnya musuh yang masih mengganggu ketentraman keluarga ini?Rahasia apa lagi yang di tinggalkan kedua orang tuannya?

__ADS_1



__ADS_2