
"Ya, terus jongkok sambil jalan jangan lupa tangannya pegang telinga!" teriak seorang pemuda yang memakai seragam putih abu-abu.
Seorang remaja laki-laki dengan garis wajah tegas terus berkeringat karena terpaan sinar matahari. Wajahnya mulai pucat karena rasa lapar yang meremas lambung. Dia adalah Abipraya di masa OSPEK SMA-nya.
Dia terus berjalan jongkok sesuai instruksi para pengurus OSIS. Pandangan lelaki itu mulai kabur. Keringat mengucur membasahi hampir sekujur tubuh, dengan wajah pucat pasi.
"Dasar lemah!"
Tiba-tiba terdengar suara perempuan tepat di samping Abi. Gadis berambut ikal dengan wajah cantik itu menatap lurus ke depan, tetapi bibirnya terus mencibir kondisi Abi. Abi pun menoleh ke arah perempuan tersebut.
Detik itu juga, Abi seakan menemukan air di tengah gurun. Entah bagaimana caranya, kekuatan yang melemah kembali bangkit. Rasa lapar serta lemas yang dirasakan sejak tadi lenyap seketika.
"Cowok kok lemah!" cibir gadis itu lagi.
Abi masih diam, dan tak menimpali. Dia melirik kemeja putih yang melekat pada tubuh ramping gadis tersebut. Mata Abi menyusuri setiap jengkal pakaian gadis itu untuk mengetahui namanya.
A.A. Pradha Ratnamaya.
Abi mengeja setiap huruf yang tercetak di kemeja gadis itu di dalam hati. Dia tersenyum tipis. Paling tidak, dia sudah tahu nama gadis sombong itu. Entah mengapa Pradha menjadi medan magnet tersendiri bagi Abi.
Masa OSPEK pun berakhir. Hari ini adalah hari pertama pembagian kelas dan pelajaran normal dimulai. Abi yang datang lebih awal memilih tempat duduk yang ada di jajaran depan, lurus dengan meja guru.
Abi mulai meletakkan tas pada laci meja, kemudian menyiapkan beberapa buku sesuai jadwal pelajaran. Abi mulai membaca materi pelajaran. Fokus lelaki itu terpecah ketika seseorang mendekati mejanya.
"Kamu bisa minggir?" tanya gadis itu dengan nada yang lebih mirip sebuah perintah.
Abi mendongak untuk mencari tahu siapakah orang yang berani mengusirnya. Lelaki tampan itu langsung terbelalak saat melihat Pradha ada di hadapannya. Kekesalannya sirna seketika.
"Heh, bodoh! Kamu tuh tuli apa gimana? Minggir! Kosongkan meja ini. Aku mau duduk di sini!" perintah Pradha sembari melipat lengan di depan dada.
"Ma-maaf, baiklah. Aku akan duduk di belakang." Abi pun mengemasi lagi buku-bukunya dan duduk di bangku yang ada di belakang Pradha.
__ADS_1
Setiap hari Abi mencuri pandang kepada Pradha. Meski gadis itu terlihat angkuh dan tidak menyukainya, Abi tetap melakukan hal yang sama. Dia tetap mengagumi dan berbuat baik kepada gadis pujaannya itu.
Bahkan beberapa kali Abi diam-diam menaruh camilan dan permen ke dalam laci Pradha. Dia juga tak enggan menolong Pradha ketika gadis itu mengalami kesulitan ketika belajar atau mengerjakan tugas.
Dari segi prestasi, Abi serta Pradha selalu berlomba untuk memperebutkan juara umum. Jika bukan Pradha, maka Abi yang menyandang predikat juara umum. Takdir pun seakan terus menyatukan keduanya. Mereka terus berada hingga kelas 12.
Di hari ketika tahun ajaran baru, Abi dan salah satu temannya bernama Bagus sedang berbincang di kantin. Di tengah keasyikan itu, pandangan Abi beralih kepada Pradha yang baru saja masuk ke kantin.
"Weh, kamu naksir sama perempuan sombong macam dia?" Bagus yang sedari tadi menangkap gelagat aneh Abi pun tersenyum miring.
Abi membuang pandangannya dari Pradha, lalu berdeham beberapa kali. "Nggak."
"Halah, nggak usah bohong! Aku ini titisan Dewa Cinta! Aku bisa tahu hanya dari tatapan matamu, kalau kamu suka sama Pradha!"
Mendengar celoteh Bagus, sontak membuat Abi membungkam bibir temannya itu dengan sebutir bakso isi telur ayam. Bagus pun gelagapan karena dipaksa mengunyah bakso besar itu bulat-bulat. Usai berhasil menelan bulatan daging tersebut, Bagus langsung menyedot es tehnya.
"Gila kamu, Bi! Percobaan pembunuhan ini namanya!"
"Sialan!" umpat Bagus.
Tanpa Abi tahu, tindakannya itu memicu Bagus untuk melakukan pembalasan. Dia berdiri dari kursi kemudian mendekati Pradha. Dia membisikkan sesuatu kepada Pradha.
Setelah mendengar aduan dari Bagus, Pradha menyipitkan mata. Gadis cantik itu menoleh ke arah Abi. Tatapan keduanya beradu.
Pradha tersenyum sinis kemudian melangkah mendekati Abi. Dia berdiri tepat di depan meja Abi. Gadis cantik itu melipat lengan di depan dada.
"Bi, kata Bagus ...." Pradha melirik ke arah Bagus yang kini ada di sampingnya.
"Kata Bagus kamu suka sama aku, ya?"
"Ah, itu ...."
__ADS_1
Pradha tersenyum miring. Dia membungkukkan badan lalu merangkul leher lelaki tersebut. Abi menelan ludah berulang kali karena rasa gugup yang mendera hati.
"Bi, apa di rumahmu tidak ada kaca?" Pradha tersenyum miring sambil melirik sinis ke arah Abi.
"Kita itu nggak selevel! Buang saja impianmu untuk menyukaiku! Aku nggak akan pernah suka sama orang sepertimu!" ejek Pradha.
Mendengar ucapan Pradha membuat Abi tersenyum kecut. Dia tidak menyangka selain sombong, gadis itu memiliki mulut yang sangat pedas. Abi pun membuang tatapan berusaha mengacuhkan Pradha.
Pradha kembali menegakkan punggung. Dia membuka tutup botol air mineral dalam genggamannya. Tiba-tiba saja gadis cantik itu menuangkan air mineral ke kepala Abi sambil tertawa congkak.
"Aku bantu kamu bangun dari mimpi, ya?" ucap Pradha seraya terkekeh.
Setelah botol plastik itu kosong, Pradha pun beranjak pergi meninggalkan Abi yang basah kuyup. Jemari Abi mengepal kuar. Rasa suka kepada Pradha kini menjelma menjadi rasa benci luar biasa.
"Bi, maaf. Aku nggak nyangka kalau Pradha bisa sekejam itu. Aku nggak ada maksud buat ...." Ucapan Bagus menggantung di udara karena melihat Abi beranjak dari kursi.
Lelaki itu pun berjalan ke arah toilet yang ada di dekat kantin. Dia mencuci muka dengan air wastafel. Setelah itu, Abi menatap cermin yang ada di hadapannya.
"Aku akan selalu mengingat hari ini, Dha. Suatu saat nanti, kamu akan mendapatkan balasannya!" Abi mencengkeram pinggiran wastafel dengan kuat. Dadanya bergemuruh karena rasa benci yang baru saja berkobar karena diaulit oleh Pradha.
Setelah hari itu, Abi tidak lagi muncul di sekolahan karena ikut sang ibu menyusul sang ayah ke negara asalnya. Tak lama setelah itu, Pradha pun kehilangan Rama yang juga ikut ke sana.
Beberapa tahun kemudian, Abi kembali. Dia mulai mengumpulkan banyak informasi mengenai keluarga Pradha. Ternyata keluarga gadis itu mengalami krisis, sehingga adik Pradha dititipkan ke kerabat sang ayah yang ada di Kota Batik.
Abi pun memulai misi balas dendamnya dengan mendekati Praba. Kebetulan sepanjang perjalanan melakukan balas dendam dia bertemu Astika, dan terjadilah persekongkolan serta hubungan rumit di antara keduanya.
...----------------...
Haiii sambil nunggu karya ini update, mampir juga ke karya sahabat Chika, yuk!
__ADS_1