Pemandu Hati Pengganti

Pemandu Hati Pengganti
Bab 38. Karma Buruk Untuk Astika


__ADS_3

Kaki Rama lemas melihat mayat Abi terbujur kaku di ruang jenazah. Dia menatap nanar tubuh sang adik yang sudah gosong karena api yang melahap tubuhnya. Dada Rama terasa begitu sesak, tetapi air mata tidak mau mengalir dari netra.


"Kak, sabar, ya? Sudah jadi jalan Abi begini." Pradha membawa Rama ke dalam pelukan seraya mengusap lembut punggung sang kekasih.


"Aku sekarang sendiri di dunia ini, Dha. Tidak ada orang tua maupun saudara." Rama tersenyum getir mengingat kesendirian yang akan membelenggunya.


"Kak, masih ada aku dan Nakastra. Kakak jangan begini. Mari terus melanjutkan hidup bersama." Pradha melepaskan pelukan kemudian merangkum wajah Rama.


Rama pun menatap intens manik mata sang kekasih. Dia langsung tersadar bahwa memiliki tanggung jawab kepada perempuan di hadapannya ini. Dia harus membahagiakan Pradha dan buah hatinya.


Rama pun membawa Pradha ke dalam dekapannya. "Iya, Dha. Maaf karena sudah membuatmu khawatir. Ayo kita segera urus jenazah Abi!"


***


Hari itu satu kota digegerkan dengan berita kematian Abi. Astika terduduk lesu di depan layar kaca seraya melihat berita yang menyiarkan tentang kecelakaan maut yang merenggut nyawa sang kekasih.


"Ini hanya mimpi, 'kan? Kami baru saja bertemu tadi. Nggak mungkin begini, nggak mungkin!" teriak Astika seraya memegang kepala dan menggeleng frustrasi.


"Berita ini BOHONG!" Perempuan itu meraih asbak yang ada di atas meja, lalu melemparkannya ke arah TV.


Tangis Astika pecah seketika. Dadanya kembang kempis menahan sesak dalam dada. Air mata terus mengalir diiringi isak tangis yang begitu menyayat.


Satu-satunya alasan Astika untuk tetap kuat menjalani hidup, kini sudah pergi untuk selama-lamanya. Dia menangis sesenggukan seraya memukul dada, berharap rasa sesak yang mengimpitnya sedikit berkurang.


Ketika Astika sedang sibuk berkubang dalam kesedihan, tiba-tiba dia merasa perutnya sangat mual. Astika pun segera berlari menuju kamar mandi. Dia memuntahkan seluruh isi perutnya.


"Astaga, aku kenapa?" Astika menyeka keringat dingin yang kini membanjiri dahinya.


Tak lama kemudian, dia kembali mengeluarkan cairan bening yang terasa sangat pahit di lidah. Setelah perutnya terkuras, Astika terkulai lesu di lantai kamar mandi. Perempuan itu menyandarkan tubuh pada dinding dingin kamar mandi.


"Lemes banget, Tuhan. Aku salah makan apa, sih?"


Astika memejamkan mata seraya mengingat lagi semua makanan yang telah masuk ke perutnya. Dia memiliki riwayat penyakit lambung yang menyiksa. Jadi, Perempuan itu mengira salah makan dan membuat asam lambungnya naik.


Astika kembali mengumpulkan kekuatan dan berjalan gontai keluar kamar mandi sambil bertumpu pada dinding. Akhirnya dia sampai di kamarnya dengan susah payah. Dia membaringkan tubuh ke atas ranjang, dan mulai memejamkan mata.

__ADS_1


Namun, sedetik kemudian netra perempuan itu kembali terbuka lebar. Astika baru ingat bahwa dia tidak haid selama dua bulan. Mata perempuan cantik itu pun membulat sempurna. Astika langsung meraih dompet, lalu berjalan keluar rumah.


"Aku harus memastikan ini semua. Semoga hanya karena stres saja!" Astika membanting pintu kasar lalu berjalan cepat ke sebuah apotek yang ada di dekat rumahnya.


Perempuan tersebut membeli beberapa buah alat pendeteksi kehamilan dengan berbagai ukuran serta harga. Dia pun segera kembali ke rumah dan mencelupkan satu per satu alat tersebut ke dalam air seni yang sudah ditampung pada gelas kecil.


Astika kembali terduduk lesu. Dia menatap nanar alat pendeteksi hormon kehamilan yang berserakan di atas lantai. Semuanya menunjukkan garis dua.


"Pasti alat ini salah! Nggak mungkin begini! Semua ini pasti keliru!" teriak Astika frustrasi.


Setelah berusaha menerima kenyataan bahwa dirinya sedang hamil, Astika kembali harus menerima karma buruknya. Kali ini video yang pernah direkam Pradha ketika dia selesai bercinta dengan Abi tersebar luas di jejaring sosial.


Tubuh Astika menggigil di sudut kamar. Perempuan itu terus menggigit kuku jari jempolnya sambil bergumam tidak jelas. Tubuhnya bergoyang ke depan dan belakang dengan posisi meringkuk.


"Itu bukan aku. Perempuan itu bukan aku. Mereka sudah mengedit video itu karena membenciku." Kalimat tersebut keluar dari bibir Astika berulang kali.


Entah bagaimana, Astika teringat dengan Pradha. Dia menduga bahwa Pradha yang menyebarkan video tersebut. Dia menganggap sang sepupu harus mempertanggungjawabkan semuanya.


Astika segera meraih kunci motor, dan melajukannya untuk membelah jalanan Kota Denpasar yang masih sepi. Bahkan semburat jingga matahari belum tampak di langit luas.


Lima belas menit kemudian, Astika sampai di depan rumah Pradha. Dia menekan bel seperti orang kesetanan. Merasa Pradha mengabaikannya, perempuan itu berteriak memanggil nama sang sepupu berulang kali.


Astika kembali menekan bel, dan terus berteriak. Bahkan perempuan itu mengguncang pagar besi sehingga menimbulkan suara berisik. Hal itu membuat seorang tetangga Pradha keluar rumah dan menghampirinya.


"Gek, kamu kenapa?" tanya perempuan paruh baya bernama Santi.


"Aku nyari Pradha! Ibu tahu di mana perempuan gila ini sekarang?" tanya Astika dengan nada bicara tinggi.


Perempuan paruh baya itu mengerutkan dahi. Dia menatap Astika dari ujung kaki hingga kepala dengan tatapan tidak suka. Sebenarnya dia merasa sangat terganggu karena ulah Astika.


"Nak Pradha ada di rumah sakit. Setiap malam, dia akan tidur di sana agar selalu dekat dengan putranya."


Tanpa mengucapkan terima kasih atau permisi, Astika berlalu meninggalkan Santi. Hal itu membuat Santi menggeleng. Bibir perempuan paruh baya tersebut tak henti-hentinya mengomel karena sikap Astika.


"Aku akan menghajarmu, Dha! Berani-beraninya kamu menyebarkan video itu!"

__ADS_1


Astika terus memutar tuas gas motornya sampai di rumah sakit. Sesampainya di tempat pelayanan kesehatan tersebut, dia segera mencari keberadaan Pradha. Perempuan itu berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit.


Sampai akhirnya Astika melihat Pradha yang baru keluar dari kafetaria rumah sakit. Dia setengah berlari menghampiri Pradha, kemudian menjambak rambut Astika secara kasar.


"Dasar sundal! Berani-beraninya kamu menyebarkan video itu ke publik! Aku akan memberimu pelajaran!" Astika terus menarik rambut Pradha.


"Lepas Tika! Kamu kenapa?" Pradha terus berontak dan menarik pergelangan tangan Astika agar bisa terlepas dari cengkeraman tangan sang sepupu.


Perempuan tersebut membawa Pradha ke lobi rumah sakit yang mulai ramai dengan beberapa pasien. Dia mendorong kasar tubuh ramping Pradha hingga tersungkur di atas lantai. Ibu dari Nakastra itu mendesis karena menahan perih pada kulit kepala.


Perlahan Pradha beranjak dari lantai dan menatap tajam ke arah Astika yang mulai menggila. Astika mengedarkan pandangan kepada semua yang ada di lobi rumah sakit. Mereka menatap Astika dan Pradha sambil mengerutkan dahi serta saling berbisik.


"Lihat perempuan ini! Apa kalian mengenalnya? Dia adalah Pradha Ratnamaya, seorang mantan aktris yang selingkuh dengan kakak iparnya!" Astika berteriak seraya menunjuk wajah Pradha.


"Perempuan ini sekarang ingin balas dendam kepadaku karena sudah membongkar perselingkuhannya ke muka publik! Dia mengedit video dan menggantinya dengan wajahku, lalu menyebarkan rekaman tersebut ke media sosial!" tuduh Astika.


"Tika, berhenti!" seru Pradha sambil merapatkan giginya.


"Apa? Kamu tidak terima aku membongkar perzinaan kalian?" Astika tersenyum miring lalu berjalan mendekati Pradha.


Perempuan itu menatap Pradha seraya tersenyum miring. Tak lupa Astika melipat lengan di depan dada. Pradha pun menyipitkan mata berusaha menyalurkan rasa tidak sukaannya kepada Astika melalui tatapan tajam.


"Kamu sudah terkena karma, 'kan? Bayimu terlahir cacat karena perbuatan burukmu itu!"


Darah Pradha seakan mendidih mendengar ucapan Astika. Dia tidak terima Nakastra disebut cacat. Pada kenyataannya kondisi sang putra semakin baik dari hari ke hari.


"Naka bukan anak cacat! Aku rasa otakmu itu yang cacat, Tik!" Rahang Pradha mengeras sempurnya, tangannya mengepal di samping badan.


"Kamu, berani-beraninya!" Astika mulai melayangkan lengan ke udara, dan bersiap untuk mendaratkannya pada pipi mulus Pradha.


Akan tetapi, Pradha berhasil menangkap lengan Astika. Dia menatap tajam ke arah sang sepupu. Sebuah senyum sinis trrukor di bibir perempuan cantik itu.


"Kamu ingin mengingkari kenyataan? Dasar pengecut!"


...----------------...

__ADS_1


Sambil nunggu karya ini update, mampir juga ke karya salah satu sahabat Chika Yuk 🤗🤗🤗



__ADS_2