
Abi menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya berulang kali. Jam sudah menunjukkan pukul 15:15, tetapi sang istri belum juga pulang. Entah mengapa ada perasaan yang mengganjal di hati lelaki tersebut.
"Aneh, kok begini ya? Nggak enak banget perasaanku." Abi kembali mendaratkan tubuhnya ke atas sofa ruang tamu.
Berbagai pikiran buruk timbul tenggelam di pikiran Abi. Sebenarnya lelaki itu belum mengetahui jika Pradha sedang bekerja di butik Hasta. Sang istri memang tidak pernah bercerita apa pun kepadanya. Mereka tinggal satu atap, tetapi seakan hidup di dua dunia yang berbeda.
Tak lama kemudian terdengar suara derit besi yang saling beradu. Abi mengintip dari balik jendela, untuk mengetahui siapa yang datang ke rumah. Begitu tahu orang yang datang adalah Pradha dan Rama, dia segera beranjak dari tempat duduk.
Hati Abi terbakar karena melihat pemandangan di depannya. Dia melihat Pradha yang sedang digendong oleh Rama. Tatapan Abi fokus pada lengan sang istri yang melingkar pada leher Rama. Terlebih ketika mendapati Rama menatap istrinya dengan tatapan lain.
Sebagai seorang pria, Abi tahu tatapan apa itu. Dada Abi bergemuruh hebat. Dia mengepalkan jemari kuat-kuat, dan rahangnya mulai mengeras.
"Ada yang nggak beres." Abi menyipitkan mata menatap dua orang yang terlihat mesra itu.
"Kalian dari mana?" tanya Abi saat Pradha dan Rama sampai di teras rumah.
"Kerja!" jawab Pradha ketus kemudian turun dari gendongan Rama, dan berjalan tertatih hendak masuk ke rumah.
Perempuan itu mengacuhkan Abi, dan melewati tubuh tegap sang suami tanpa menoleh sedikit pun. Di sisi lain, Abi sedang menatap tajam sang kakak. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa tidak sukanya terhadap Rama.
Jangankan menggendong Pradha, menggandeng tangannya saja baru dia lakukan beberapa kali itu pun karena terpaksa. Sejujurnya dia tidak terima Rama menyentuh wanitanya.
Abi mencoba untuk meredam emosi. Akhirnya, dia mencoba berbasa-basi kepada sang kakak. Lelaki itu menawari Rama untuk mampir ke rumahnya.
"Mampir dulu, Kak. Kita ngopi sambil ngobrol sebentar."
"Nggak, Bi. Thanks, ibu sudah nunggu aku dari tadi." Rama tersenyum tipis, berusaha menolak tawaran Abi dengan sopan.
"Baiklah kalau begitu. Salam buat ibu."
"Oke," jawab Rama singkat.
Rama pun segera balik badan, meninggalkan Abi yang masih berdiri di teras sambil menatap punggungnya. Namun, ketika Rama hendak membuka kembali pintu pagar, Abi memanggilnya.
__ADS_1
"Kak Rama!" panggil Abi, lalu setengah berlari menghampiri Rama.
"Kenapa, Bi?"
"Makasih, sudah anter ISTRIKU pulang," ucap Abi dengan penekanan ketika mengucap kata istri.
Rama yang merasa adiknya sedang berusaha menandai Pradha sebagai istri sahnya, hanya bisa tersenyum getir. Lelaki itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia hanya mengangguk sekilas, kemudian langsung masuk ke mobil.
Ada rasa tidak rela ketika Abi menegaskan bahwa Pradha adalah miliknya. Jika saja sang mantan kekasih mencintai adiknya itu, pasti dia akan merelakan perempuan tersebut dengan ikhlas. Namun, kondisi sekarang lain. Keduanya menikah karena paksaan, dan tidak ada rasa cinta dari Pradha untuk sang suami.
Setelah memastikan mobil Rama menjauh, Abi menutup pintu pagar. Dia berjalan cepat ke dalam rumah untuk menemui Pradha. Abi mendapati Pradha yang sedang berada di dapur. Lelaki itu pun segera berjalan mendekati sang istri.
"Kamu dari mana sama Kak Rama?"
"Kerja."
"Kerja? Cuma berdua?" tanya Abi sambil tersenyum miring.
"Emangnya kenapa? Apa urusanmu?"
"Aku terpaksa, mobilku mendadak masuk bengkel."
"Kan bisa, pesan taksi online! Kenapa harus pulang sama Kak Rama? Pakai acara gendong-gendongan segala lagi!"
"Gendong-gendongan gimana maksudmu? Kakiku terkilir! Kak Rama cuma mau bantu aku biar cepet sampai rumah dan segera istirahat! Apa itu salah?"
"Salah! Harusnya salah satu dari kalian bisa menghubungiku untuk menjemputmu! Akal-akalan kalian aja, supaya bisa bermesraan!" Abi tersenyum miring seraya melipat lengan.
Pradha memutar bola mata. Kesal sekali mendengar ocehan sang suami. Dia berusaha bersikap santai dan menganggap omelan sang suami hanya angin lalu. Akhirnya Pradha melangkah menuju wastafel dan berniat kembali ke kamar setelah mencuci gelas yang baru saja dia pakai.
Merasa diabaikan oleh Pradha, Abi pun naik pitam. Lelaki tampan itu merebut gelas berisi air putih dalam genggaman Pradha, lalu meletakkannya ke atas meja dengan kasar. Suara benturan gelas dengan meja pun menggema memenuhi ruangan tersebut.
"Aku lagi bicara sama kamu, Dha! Tolong hargai aku sedikit saja!"
__ADS_1
"Kamu itu kenapa, sih? Aku saja tidak pernah menuntutmu macam-macam! Kenapa kamu menuntutku untuk menghargaimu!" teriak Pradha penuh emosi.
"Katakan di mana saja Kak Rama menyentuhmu?"
"Kamu ngomong apa, sih, Bi!"
Abi melangkah maju mendekati Pradha. Punggung gadis cantik itu kini menempel pada lemari pendingin makanan yang ada di belakangnya. Abi meraih lengan Pradha kemudian menatapnya sekilas.
"Apa dia menyentuhmu di sini?" Abi mengusap jemari Pradha seakan ingin menghapus sentuhan Rama dari jari-jari lentik sang istri.
"Apa di sini?" Kini jemari Abi mulai menyentuh pinggang Pradha.
"Stop it, Bi!" seru Pradha karena mulai kesal dengan sikap kekanakan suaminya itu.
"Atau jangan-jangan dia sudah menyentuh bibirmu ini? Kemarilah! Biar kuhapus semua jejak yang dia tinggalkan!"
Abi yang gelap mata langsung mendekatkan bibirnya pada bibir Pradha. Tentu saja Pradha terus berontak. Perempuan itu menoleh ke kiri, untuk menghindari ciuman yang hendak diberikan Abi.
"Bi, kamu sudah gila, ya! Aku bilang berhenti!"
Abi menghiraukan ucapan Pradha. Dia terus berusaha mendaratkan ciuman ke bibir sang istri. Pradha beberapa kali memukul dada lelaki tampan itu agar Abi menjauh. Namun, semua usaha yang Pradha lakukan tidak berpengaruh banyak.
Sampai akhirnya, Pradha memutuskan untuk menginjak kaki sang suami sekuat tenaga. Barulah Abi melepaskan Pradha. Lelaki itu melompat-lompat dengan satu kaki sambil mengaduh.
"Aku sudah bilang berhenti, Bi!" teriak Pradha penuh emosi.
Mata Pradha terasa panas. Air matanya serasa ingin tumpah karena diperlakukan layaknya pelacur oleh Abi. Walaupun memang mereka adalah suami istri, tetapi Pradha tidak suka dengan sikap Abi sangat kasar ketika menyentuhnya. Dia hanya bisa merasakan amarah yang keluar dari setiap sentuhan yang Abi berikan, bukan cinta.
"Ingat isi perjanjian pernikahan kita! Kita tidak boleh bersentuhan seujung kuku pun tanpa persetujuan kedua belah pihak!" Pradha mencoba mengingatkan Abi mengenai isi perjanjian yang sudah mereka tanda tangani.
"Aku dan Kak Rama memang bekerja sama untuk sebuah pemotretan! Jadi, kamu nggak usah berlebihan! Aku tahu batasan!" Pradha akhirnya berjalan tertatih menuju kamarnya.
Perempuan tersebut meraih tuas pintu, membukanya, lalu membanting benda itu secara kasar. Setelah tubuh Pradha menghilang di balik pintu, Abi mengusap wajah kasar. Dia juga berteriak frustrasi untuk mengeluarkan amarah serta rasa kecewanya kepada Rama dan Pradha.
__ADS_1
"Aku tahu kalian pasti melakukan sesuatu di belakangku! Aku akan membuktikan bahwa dugaanku ini benar!" seru Abi sambil memukul permukaan lemari pendingin penuh emosi.