Pemandu Hati Pengganti

Pemandu Hati Pengganti
Bab 6. Benih Cinta yang Kembali Bersemi


__ADS_3

"Nggak! Nggak mau aku sama dia!" seru Pradha seraya menatap sinis Rama.


"Tapi nggak ada jalan lain, Dha. Mobil kami sudah penuh." Hasta mencoba untuk membujuk Pradha agar mau naik mobil Rama.


"Nggak!" seru Pradha seraya melipat lengan di depan dada.


"Begini saja, ada yang mau tukar? Biar salah satu dari kalian yang ikut mobilku. Nanti Pradha ikut mobil kru."


"Aku mau, Kak!" Beberapa kru perempuan mengangkat lengan mereka serempak.


Hal itu tentu saja membuat Rama tersenyum geli. Akhirnya tiga perempuan kru pemotretan ikut mobil Rama, sedangkan Pradha berangkat bersama Hasta dan kru yang lain.


Sepanjang perjalanan, Pradha menatap jalanan yang dipenuhi lalu lalang kendaraan bermotor. Beberapa wisatawan asing terlihat berjalan di trotoar. Lokasi kali ini berada di sebuah pantai privat di dekat Pura Uluwatu.


Setelah menempuh perjalanan selama 40 menit, akhirnya mereka sampai di Pura Uluwatu. Setelah menemui papan kayu bertuliskan Nyang-Nyang Surfing Beach, Pradha dan para kru berjalan kaki.


Pemandangan hijau dari area persawahan menuju pantai, mampu membuat mata siapa pun yang melihatnya merasa segar. Mereka semua terus berjalan hingga menemui sebuah warung minuman. Setelah itu, mereka harus menuruni ratusan anak tangga untuk sampai di bibir pantai berpasir putih itu.


"Masih lama, ya?" tanya Pradha yang mulai kelelahan.


"Bentar lagi, Dha. Tuh, di bawah sana. Lihat kan?" Hasta menunjuk lautan biru dengan garis pantai berwarna kehijauan.


Pradha terus menggerutu sepanjang perjalanan, sehingga dia tidak memperhatikan jalanan yang dipijak. Tiba-tiba Pradha tergelincir karena menginjak batu kerikil dan terjatuh.


"Dha!" pekik Hasta.


Perempuan itu langsung menghampiri Pradha yang kini terduduk di atas berbatuan. Kru yang lain pun ikut panik. Begitu juga dengan Rama, tetapi lelaki itu memilih untuk memperhatikan dari kejauhan.


"Ayok, aku bantu berdiri, Dha!" Hasta melingkarkan lengan Pradha pada lehernya dan mencoba membantu sahabatnya itu berdiri.


"Aduh, sakit! Kayaknya aku terkilir, Ta."


"Duduk dulu!" perintah Hasta.


Perempuan itu pun mengecek kondisi kaki Pradha. Ternyata benar, pergelangan Kaki Pradha mulai memerah. Hasta akhirnya meminta bantuan sang fotografer untuk menggendong Pradha.

__ADS_1


Melihat hal itu, membuat hati Rama terasa tidak rela. Dia pun akhirnya maju dan meminta kru yang lain untuk memberikan jalan. Setelah berhasil mendekati Pradha, Rama langsung jongkok di depan gadis itu.


"Naik! Aku saja yang gendong kamu. Kak Nata nanti nggak kuat, kamu kan berat!"


Pradha sebenarnya tersinggung dengan ucapan Rama. Akan tetapi, rasa nyeri pada pergelangan kakinya jauh lebih menyiksa. Jadi, Pradha kali ini menyingkirkan rasa gengsi dan kesalnya pada Rama. Perlahan Pradha bangkit dan naik ke punggung mantan kekasihnya itu.


Rama yang merasa beban di atas punggungnya bertambah pun tersenyum puas. Dia bersorak dalam hati karena bisa membujuk manusia paling batu di dunia ini. Lelaki itu menuruni satu per satu anak tangga dengan hati-hati.


Pradha sendiri berusaha mengatur detak jantungnya yang tak karuan. Dia dapat mencium dengan jelas aroma parfum sang kakak ipar. Masih sama, Giorgio Armani Acqua. Perpaduan aroma rosemary, lavender, cemara, dan lentisk dengan tambahan Patchouli woody yang diselimuti musk, membuat Pradha terhanyut oleh masa lalu.


"Dha, sudah sampai. Kamu bisa turun."


Ucapan Rama sontak membuat Pradha tertarik kembali ke masa sekarang. Dia mengerjapkan mata untuk mengumpulkan semua kesadaran. Setelah merasa dirinya fokus kembali, Pradha perlahan turun dari punggung Rama.


Lelaki itu meminta handuk kecil dan air es kepada kru. Rama merawat kaki Pradha dengan telaten. Dia mengompres pergelangan kaki perempuan tersebut, dan memijatnya lembut.


"Ta, untuk sesi foto kali ini, boleh nggak Pradha duduk aja? Nggak memungkinkan kalau dia tetap memaksakan diri untuk berdiri. Bisa memperparah keadaan kakinya."


"Oke, nanti biar tim aku yang atur."


Akhirnya mereka pun segera melanjutkan sesi foto. Pradha terpaksa duduk untuk sesi foto kali ini. Sesekali sang fotografer meminta mereka berbaring di atas pasir. Hasil pemotretan hari ini justru di luar ekspetasi.


Sesi pemotretan kali ini selesai. Rama kembali menggendong Pradha sampai ke tempat parkir. Tenaganya habis sudah, keringat bercucuran membasahi hampir sekujur tubuh pria tampan tersebut.


"Dha, kamu pulang sama aku aja, ya? Kita kan searah." Rama berusaha memberi pengertian kepada Pradha.


"Kalau kamu ikut mereka kasihan, kan? Mereka mesti bolak balik buat nganterin kamu ke rumah?" jelas Rama ketika melihat Pradha tidak menjawab.


"Terserah!" Akhirnya jawaban ajaib yang membuat lelaki mana pun serba salah itu pun keluar dari bibir Pradha.


Rama menelan ludah kasar. Dia juga menggaruk kepala karena bingung harus berbuat apa. Lelaki itu pun melirik Hasta dan sedikit mengangkat dagunya. Seakan mengerti maksud Rama, akhirnya Hasta ikut membujuk sang sahabat.


"Gini, Dha. Bukannya kami nggak mau anter kamu balik. Tapi, memang benar kata Kak Rama. Akan lebih efektif kalau kamu diantar sama dia."


"Hm," jawab Pradha singkat kemudian berjalan tertatih ke arah mobil Rama.

__ADS_1


Rama menggeleng seraya tersenyum geli melihat tingkah Pradha. Akhirnya, dia berpamitan kepada semua kru dan masuk ke mobil. Ketika sudah berada dalam mobil, lelaki tampan itu melirik Pradha yang sudah memejamkan mata.


"Dha, kamu nggak mungkin tidur secepat ini."


"Nggak usah berisik! Cepat jalankan mobilnya, aku lelah."


"Oke, kita ke dokter dulu. Kamu butuh perawatan khusus."


"Nggak perlu!" seru Pradha dengan mata yang masih terpejam.


Rama tidak menghiraukan ucapan Pradha. Dia tetap membawa perempuan cantik itu ke sebuah klinik kecil dekat dengan daerah tersebut. Awalnya Pradha menolak untuk turun. Akan tetapi, Rama langsung menggendongnya ala bridal dan membawa masuk perempuan itu ke klinik tersebut.


"Baiklah, Pak Rama. Istri Anda ...."


"Saya bukan istrinya!" seru Pradha sehingga membuat sang dokter mendadak bungkam.


"Ah, baiklah. Nyonya Pradha akan membaik dalam dua sampai tiga hari. Sementara waktu jangan perbolehkan melakukan pekerjaan berat," pesan sang dokter.


"Baik, Dok. Terima kasih," ucap Rama kemudian beranjak dari kursi dan mendorong Pradha yang sudah duduk di atas kursi roda.


"Lepas, nggak usah lebay! Aku bisa sendiri!" seru Pradha setelah keluar dari ruang dokter.


Rama pun melepaskan tangannya dari handle kursi roda dan berjalan santai di belakang Pradha. Setelah sampai di parkiran, barulah dia membantu Pradha untuk masuk ke mobil.


Usai mengembalikan kursi roda ke dalam klinik, Rama kembali duduk di belakang kemudi. Dia mulai melajukan mobil menjauhi klinik. Sepanjang perjalanan, suasana hening menyelimuti keduanya.


Pikiran Rama kembali teringat ketika sang dokter mengira bahwa Pradha adalah istrinya. Mendadak tumbuh bunga-bunga dalam hati lelaki tampan itu. Dia tersenyum lembut seraya mengusap permukaan bibirnya.


"Dih, ngapain senyum-senyum sendiri? Nggak jelas!" gerutu Pradha ketika melihat Rama tersenyum.


"Nggak ... kamu ternyata masih memperhatikanku dalam diam, ya?" goda Rama.


"Enak aja! Nggaklah!"


Rama tertawa terbahak-bahak melihat Pradha yang mulai salah tingkah. Dia benar-benar merindukan momen kebersamaan ini. Pradha yang temperamen, semakin bertambah marah ketika Rama menggodanya.

__ADS_1


Tak terasa mobil Rama sudah terparkir di depan gerbang rumah Pradha. Lelaki itu pun segera menggendong Pradha, dan berniat membawanya masuk ke rumah. Namun, ketika baru sampai teras rumah Abi sudah ada di sana seraya melemparkan tatapan tajam.


"Dari mana kalian!"


__ADS_2