Pemandu Hati Pengganti

Pemandu Hati Pengganti
Bab 25. Astika yang Mulai Protes


__ADS_3

Setelah puas meluapkan amarahnya pada sofa di bawahnya, Abi meraih ponsel. Dia menghubungi Astika dan membatalkan janji temu dengan perempuan itu. Tentu saja Astika kesal bukan main karena sikap Abi.


Namun, dia tidak bisa berbuat banyak. Astika yang awalnya hanya ingin memanfaatkan Abi untuk merenggut kebahagiaan keluarga Pradha, sekarang mulai benar-benar jatuh hati kepada lelaki tampan itu.


"Kok gitu, Bi! Aku sudah nunggu dari tadi loh!" protes Astika di ujung sambungan telepon.


"Maaf, Tik. Aku ada urusan mendadak. Kita ketemu lain kali saja, oke?" Abi pun mematikan sambungan ponselnya.


Di sisi lain, Pradha yang sudah selesai bersiap pun keluar dari kamar. Dia setengah terkejut ketika mendapati Abi masih duduk di ruang tamu dengan wajah yang ditenggelamkan ke dalam telapak tangan. Akan tetapi, Pradha melenggang begitu saja keluar rumah.


"Aku antar saja. Aku membatalkan janji dengan temanku!" seru Abi sembari beranjak dari kursi.


"Nggak usah. Aku udah pesan taksi online." Pradha mengabaikan Abi kemudian melenggang keluar rumah.


Di luar, sudah ada taksi yang menunggu. Abi tetap mengekor di belakang Pradha untuk berjaga-jaga kalau istrinya berbohong. Ternyata memang benar-benar memesan taksi online. Pradha pun masuk ke dalam mobil tersebut tanpa menoleh sedikit pun ke arah Abi.


Setelah taksi tersebut melaju, Abi kembali ke dalam rumah. Lelaki itu menyandarkan punggung pada sofa, seraya memijat kening yang terasa berdenyut. Dia sedang menyelami hatinya sendiri. Memahami apa yang sedang dia rasakan saat ini.


Abi merasa dirinya tidak rela ketika Pradha dekat-dekat dengan Rama. Dia ingin selalu ada di samping sang istri ke mana pun dia berada. Namun, Abi berulang kali menepis rasa gelisahnya itu.


"Ah, mungkin ini hanya rasa kesal karena sebuah status pernikahan. Aku hanya mencintai Astika." Abi mengusap wajah kasar kemudian memejamkan mata sejenak.


Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Abi segera bangkit dan memutar tuas pintu. Kini di hadapannya sosok Astika sudah berdiri tegap seraya menatap tajam ke arah Abi.


"Tika, kamu ngapain ke sini?" Abi mengangkat kedua alis, sehingga matanya kini terbuka lebar.


"Kenapa kamu nggak angkat teleponku?" Astika melipat lengan di depan dada dengan tatapan tajam yang tak lepas dari Abi.


"Aku tadi lagi rebahan karena tiba-tiba nggak enak badan. Masuk, nggak enak dilihat tetangga." Abi menarik lengan Astika, sehingga kini keduanya ada di dalam rumah.


Astika mengedarkan pandangan. Hatinya terasa panas ketika mendapati foto pernikahan Abi dan Pradha yang menggantung di dinding ruang tamu. Perempuan itu tersenyum miring.


"Dasar, masih dipajang aja? Nggak diturunin?" Astika menatap tak suka pada foto pernikahan Abi dan Pradha.

__ADS_1


"Sudahlah, Tik. Itu juga cuma buat pajangan. Kamu mau minum apa?" tanya Abi basa-basi.


"Aku ke sini bukan buat numpang minum, Bi! Aku butuh penjelasanmu!" Astika mendaratkan bokong ke atas sofa dan merebahkan punggungnya.


Abi pun ikut duduk di samping Astika, dan memandang gadis itu penuh perhatian. Jika dipikir-pikir, Astika tidak begitu cantik apabila dibandingkan dengan Praba atau pun Pradha. Namun, kenapa dulu dia bisa terjerat pesona gadis itu?


Lelaki itu tersenyum kecut, dan teringat sesuatu. Dulu Astika menggodanya mati-matian. Bahkan gadis itu merelakan keperawanan demi bisa memiliki hubungan dengan Abi. Kucing mana yang menolak ikan gurami tersaji di hadapannya? Hal itu pula yang Abi alami tiga tahun lalu.


"Apa yang butuh dijelaskan?"


"Aku merasa kamu menghindar akhir-akhir ini, Bi! Kamu kenapa?"


"Menghindar bagaimana maksudmu? Aku tidak pernah menghindar sedikit pun!" Abi mengerutkan dahi sehingga kedua alisnya saling bertautan.


"Kamu selalu menolak setiap aku mengajak bertemu!"


"Tik, aku begitu karena memang harus mengikuti jadwal kerja Pradha yang padat. Aku melakukan semua ini demi masa depan kita!" Hati Abi mendadak jengkel karena sikap Astika yang terlalu overthinking.


"Tapi, nggak gini juga, Bi! Apa istri bohonganmu itu bekerja 24 jam dalam sehari? Nggak 'kan?" Astika melotot sambil menegakkan tubuh dan melipat lengan di depan dada.


"Jangankan mengabulkan untuk bertemu, mengangkat telepon, atau sekedar membalas pesan yang aku kirim saja jarang sekali kamu lakukan akhir-akhir ini!"


"Kita sudah bertemu sekarang. Lalu, apa maumu? Ha!" tanya Abi kesal.


"Mauku?" Astika mengubah posisi duduknya.


Perempuan itu kini duduk di atas pangkuan Abi. Dia menatap intens manik mata sang kekasih sambil tersenyum menggoda. Abi menelan ludah kasar, bagian bawah tubuhnya mulai menggeliat.


Astika mulai mendekatkan bibirnya ke telinga Abi, kemudian berbisik, "Bi, apa kamu tidak merindukanku?"


Jemari lentik Astika mulai bermain nakal di atas dada Abi yang tertutup kemeja. Bulu kuduk Abi pun meremang. Bukan karena takut, melainkan akibat ulah Astika yang mencoba membangkitkan hasratnya.


"Aku sangat merindukanmu, Bi."

__ADS_1


Tanpa menunggu lebih lama lagi Astika pun menyerang Abi dengan ciuman dan sentuhan lembut, tetapi penuh gairah. Abi pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Hasrat kelaki-lakiannya seketika meronta. Dia mengimbangi permainan sang kekasih.


Mulai dari pemanasan hingga mencapai puncak, keduanya melakukan hubungan tersebut hanya di atas sofa. Tidak ada rasa khawatir jika tiba-tiba Pradha kembali. Hasrat yang menggebu sudah mematikan akal sehat dua insan itu.


Setelah selesai melakukan aktivitas panasnya bersama Astika, Abi langsung menggendong sang kekasih yang kelelahan masuk ke kamar. Usai merebahkan tubuh mungil Astika, lelaki itu pun ikut terlelap seraya memeluk sang kekasih.


***


Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, akhirnya Pradha sampai di rumah sakit. Dia sudah mengambil nomor antrean melalui telepon, jadi bisa lebih santai ketika menyusuri koridor rumah sakit.


Ketika hendak berjalan menuju poli kandungan, Pradha merasa bahunya ditepuk oleh seseorang. Pradha pun menoleh. Alangkah terkejutnya perempuan itu ketika mendapati Rama dengan sang ibu mertua sedang tersenyum lebar ke arahnya.


"Ibu, Kak Rama?" Pradha menatap dua orang di depannya itu secara bergantian.


"Apa kabar, Dha?" tanya Chandra seraya merentangkan tangan bersiap untuk memeluk sang menantu.


"Ba-baik, Bu." Pradha pun menghambur ke pelukan sang ibu mertua.


"Ibu lagi sakit?" Tiba-tiba Pradha melepaskan pelukan karena merasakan panas ketika kulitnya bersentuhan dengan tubuh Chandra.


"Nggak pa-pa, cuma demam. Oh ya, kamu ngapain di sini? Lagi nggak enak badan juga?"


"Ah, itu ...." Pradha sontak melirik ke arah Rama.


Lelaki itu tersenyum tipis seraya mengusap tengkuk. Belum sampai Pradha menjawab pertanyaan sang mertua, sepasang mata Chandra menangkap buku yang sedang dibawa oleh Pradha. Buku berwarna merah mudah bergambar sepasang suami istri dengan seorang anak perempuan.


"Dha, kamu hamil?"


...----------------...


Haiii, sambil nunggu karya ini update, mampir juga yaa ke karya salah satu bestie Chika 🤗🤗🤗


__ADS_1


__ADS_2