Pemandu Hati Pengganti

Pemandu Hati Pengganti
Bab 21. Gagal Bercerai


__ADS_3

Satu minggu kemudian, ketika kondisi Pradha sudah benar-benar membaik, dia diantar oleh Rama ke rumah Pranuju Banjar tempat tinggalnya. Rumah sang Ketua Adat tidak jauh dari kediaman Pradha, hanya membutuhkan waktu selama lima menit saja untuk mengunjungi kediamannya.


Pradha menekan bel rumah yang bagian dinding terasnya berupa kayu penuh ukiran itu. Tak lama berselang, keluar seorang lelaki berumur senja yang rambutnya mulai memutih. Di kepalanya terdapat udeng (ikat kepala khas Bali) yang melingkar.


"Siang, Pak." Pradha tersenyum ramah seraya mengangguk sopan.


"Siang, mari silakan masuk!" ajak lelaki yang biasa dipanggil Surya itu.


Mereka pun masuk ke rumah dan duduk di ruang tamu. Surya memanggil istrinya untuk membuatkan minuman, sementara mereka bertiga mengobrol. Pradha memang dikenal baik oleh warga sekitar karena merupakan artis ternama yang sedang naik daun.


Bagi warga sekitar, Pradha memang jarang bersosialisasi. Akan tetapi, dia dikenal sebagai sosok yang sederhana dan ramah. Jadi, Surya pun menyambutnya dengan baik ketika Pradha datang berkunjung.


"Tumben, Nak. Ada kepentingan apa?" tanya Surya seraya tersenyum ramah.


"Begini, Pak. Saya ingin bercerai dengan Abi, suami saya."


Raut wajah Surya sontak berubah. Dia mengerutkan dahi, kemudian saling menautkan jemari tangan. Lelaki yang awalnya duduk santai itu, kini mengubah posisi menjadi duduk tegap.


"Kalau boleh tahu, ada masalah apa?" tanya Surya hati-hati.


Pradha terdiam sejenak. Dia sedang memikirkan alasan dan kata-kata yang tepat, untuk menyampaikan sebab pengajuan cerai tersebut. Pradha menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan.


"Begini, Pak. Sebenarnya pernikahanku dengan Abi terjadi karena sebuah paksaan. Aku menggantikan adikku untuk menikah dengannya demi menjaga nama keluarga."


"Lalu?"


"Setelah berjalan selama beberapa bulan ini, hati kami tidak saling bertaut, dan berakhir dengan perselingkuhan. Daripada mengotori makna pernikahan yang sakral saya memutuskan untuk bercerai saja."


Surya mengangguk perlahan seraya mengusap dagu. Tak lama kemudian dia kembali menyandarkan punggung pada kepala kursi. Lelaki itu menatap intens Pradha dan Rama bergantian.


"Lalu lelaki ini siapa?" tanya Surya.


"Dia ...." Ucapan Pradha menggantung di udara karena Rama memotong percakapan keduanya.


"Saya kakak dari Abi, Pak. Saya mengantarkan Pradha karena merasa kasihan kepada adik ipar saya ini. Abi selingkuh, dan hal itu menyakiti hatinya. Dia akan sengsara jika terus bersama Abi."


"Kata siapa aku selingkuh?"


Lagi-lagi Abi datang secara tiba-tiba. Lelaki tersebut seakan memiliki mata di mana-mana. Dia selalu saja datang di saat yang tidak tepat.

__ADS_1


Abi mulai melangkah masuk mendekati tiga orang tersebut. Abi menunduk sekilas ketika menatap Surya, kemudian ikut bergabung bersama mereka.


"Kebetulan sekali Nak Abi datang. Komunikasi kita akan lebih mudah kalau begini." Surya tersenyum bijak, kemudian menawarkan minuman yang baru saja diletakkan sang istri ke atas meja.


"Apa kamu bersedia berpisah dengan istrimu, Nak? Menurut Kakakmu, kamu sudah berselingkuh. Apa itu benar?"


"Saya berselingkuh? Apa tidak salah? Justru mereka yang berselingkuh, Pak." Abi menatap sinis pasangan kekasih gelap tersebut.


Mendengar pernyataan Abi membuat Surya semakin kebingungan. Lelaki tersebut menggaruk kepalanya seraya mengerutkan dahi. Surya menatap ketiga orang di hadapannya itu secara bergantian.


"Baiklah, sebagai Ketua Adat di wilayah ini, saya ingin bertanya sekali lagi. Apa kalian benar-benar ingin berpisah?"


"Iya!" seru Pradha dan di saat yang bersamaan, Abi menjawab tidak.


Surya pun menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Akhirnya dia meminta mereka semua untuk pulang. Jika memang Pradha tetap ingin bercerai, maka dirinya harus membawa bukti yang menunjukkan bahwa Abi telah berselingkuh.


"Ayo, pulang!" ajak Abi seraya menatap tajam Pradha.


"Nggak! Kamu nanti pasti mencelakai lagi! Aku nggak mau dekat-dekat sama kamu!"


"Dha, jangan membantah terus!" Abi menarik paksa lengan Pradha.


"Tolong, jangan pernah dekati Pradha lagi! Aku tidak akan pernah menceraikannya! Anak yang sedang dia kandung adalah anakku, bukan anakmu!" Abi langsung balik kanan, dan masuk ke mobil.


Rama hanya bisa menatap mobil Abi yang melaju kencang meninggalkannya di depan rumah Surya. Jemari lelaki tampan itu mengepal di dalam saku celana. Rahangnya mengeras sempurna.


"Aku akan tetap mengawasimu, Bi! Aku tidak bisa membiarkanmu menyentuh Pradha! Dia adalah milikku!"


***


Sesampainya di rumah, Pradha yang kesal langsung masuk ke kamar. Abi berulang kali mengetuk pintu kamar, tetapi diacuhkan oleh Pradha. Perempuan itu memilih untuk tetap diam di kamar.


"Dha! Buka pintunya, atau kudobrak!" teriak Abi.


"Nggak mau! Dasar lelaki jahat!"


Abi terus berusaha meminta sang istri keluar. Dia berniat untuk memperbarui isi perjanjian kontrak pernikahannya dengan Pradha. Akan tetapi, sebuah panggilan dari Astika membuatnya untuk meninggalkan Pradha sendirian.


Setelah memastikan Abi tak lagi di rumah, Pradha langsung menghubungi Rama. Dia meminta sang kekasih untuk datang ke rumah dan membawakan Sate Languan Ikan, yaitu sate lilit yang berbahan dasar daging ikan tongkol.

__ADS_1


Sambil menunggu Rama datang, Pradha memutuskan untuk bersantai sambil memainkan ponsel. Tanpa terasa dia kini telah berpindah ke alam mimpi. Pradha baru terbangun, ketika mendengar ponselnya berdering.


"Halo," sapa Pradha dengan mata yang masih setengah terbuka.


"Aku di luar. Bisa bukakan pintu?"


"Tunggu sebentar." Seketika Pradha membuka mata lebar karena mendengar suara Rama.


Bayangan gurihnya sate lilit ikan dengan bumbu khas bali membuat air liurnya terus menetes. Pradha segera beranjak dari kasur dan menuju ruang tamu.


Namun, ketika hendak membuka pintu Pradha terbelalak. Ternyata Abi menguncinya dari luar. Pradha mengentakkan kaki kesal, kemudian kembali menelepon Rama.


"Kak, pintunya dikunci!"


"Pintu pagar juga dikunci! Jadi, bagaimana?"


"Aku mau satenya," rengek Pradha.


Kini mata ibu hamil itu mulai berkaca-kaca. Isak tangis juga lolos perlahan dari bibir tipisnya. Rama yang tidak tega mendengar tangis sang kekasih akhirnya memutuskan untuk memanjat pagar rumah Pradha.


"Cup, Sayang. Aku manjat pagar kalau begitu. Kamu tunggu di kamar. Aku akan masuk lewat jendela kamarmu."


Mendengar ucapan Rama, sontak membuat Pradha kegirangan. Rasa sedihnya lenyap seketika. Dia pun setengah berlari menuju kamar, dan menanti Rama di tepi jendela dengan sabar.


Dalam hitungan menit, kini Rama berhasil masuk ke pekarangan rumah, dan menemui Pradha. Sebuah senyum merekah di bibir Pradha. Dia tidak lagi menyambut Rama, melainkan langsung meminta bungkusan yang dibawa oleh sang kekasih.


"Mana, Kak!" Pradha menggerakkan jemarinya tak sabar.


Rama tersenyum kecut melihat tingkah Pradha yang seperti anak kecil. Lelaki tampan tersebut langsung menyerahkan bungkusan berisi sate ikan tersebut. Pradha pun menyambarnya secepat kilat, lalu membuka bungkusan itu.


Namun, begitu bungkusan tersebut terbuka, Pradha mengerutkan dahi. Hidungnya berkerut, seraya mengendus aroma yang menguar dari makanan tersebut.


"Aku nggak mau sate yang ini!"


...----------------...


Sambil nunggu Pradha update, mampir ke karya kecee sahabat Chika, Yuk!


__ADS_1


__ADS_2