
Usai menjalani proses pengambilan gambar untuk film terbarunya, Pradha dan Rama meluncur ke Toko Apel yang ada di sebuah pusat perbelanjaan terbesar Denpasar. Sesampainya di sana, Pradha langsung menuju servise centre dan berdiskusi mengenai kerusakan ponselnya.
"Selamat datang di Toko Apel, Kak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya karyawan toko bernama Indra.
"Saya ingin memperbaiki ponsel ini, Kak." Pradha mengeluarkan ponsel pintarnya dari tas dan menyerahkan benda pipih tersebut kepada Indra.
Indra menerima ponsel tersebut, dan mulai memencet beberapa tombol. Akan tetapi, ponsel tersebut tidak bisa menyala. Dia pun meletakkan benda tersebut ke atas meja.
"Kami akan berusaha memperbaikinya," kata Indra setelah memeriksa kondisi ponsel Pradha.
"Kira-kira berapa lama pengerjaannya, Kak? Saya butuh cepat data yang ada di dalamnya."
"Oh, kalau untuk itu kami bisa membantunya dengan menyalin data melalui aplikasi iExplorer. Tidak perlu menunggu ponsel selesai diperbaiki, Kak. Untuk estimasi selesai pengerjaan perbaikan bisa memakan waktu maksimal dua bulan, tergantung tingkat kerusakan serta antrean yang sudah masuk," jelas Indra.
"Baiklah, Kak. Saya minta bantuannya, ya?" pinta Pradha sopan.
"Ah, apa nanti bisa kirimkan semua data yang ada melalui alamat surel ini, Kak?" tanya Rama sambil menunjukkan alamat surat elektroniknya yang sudah ditulis di atas kertas.
"Baiklah, tunggu sebentar ya, Kak."
Lelaki berseragam kaos biru dengan logo apel di dadanya itu pun membawa masuk ponsel Pradha. Sambil menunggu Indra mengirimkan data ke alamat email Rama, Pradha mengajak sang kekasih berdiskusi mengenai perselingkuhan Abi dengan Astika.
"Apa bukti yang aku miliki cukup untuk mengajukan perceraian secara adat, ya?"
"Kita ajukan saja dulu. Masalah ditindaklanjuti atau tidak, bisa kita tanyakan alasannya. Kita bisa meminta lagi penjelasan mengenai persyaratan cerai kepada Pak Surya."
Pradha mengembuskan napas kasar. Bahu perempuan itu merosot mengingat keinginannya untuk bercerai dengan Abi yang begitu sulit tercapai. Dia tidak menyangka semuanya menjadi lebih rumit.
Peraturan adat di Bali memang masih sangat kental dengan kehidupan sehari-hari. Jadi, segala sesuatu harus diputuskan serta dilaksanakan secara adat dulu, baru bisa masuk ke ranah hukum yang berlaku. Namun, Pradha yakin semua peraturan itu dibuat oleh para leluhur untuk tujuan yang baik.
"Sudah saya kirim ke alamat email Anda, ya, Pak." Indra yang tadi membawa masuk ponsel Pradha pun keluar, dan memberitahukan kepada Rama mengenai data ponsel yang diminta.
__ADS_1
"Baik, Kak. Saya cek dulu." Rama membuka surelnya dan memeriksa video yang dikirim ke alamat emailnya.
Namun, setelah mengecek satu per satu data video tersebut bersama Pradha, mereka tidak menemukan video bukti perselingkuhan Abi dengan Astika. Pradha memijat pelan kening karena tidak tahu lagi harus berbuat apa. Bukti satu-satunya yang dia miliki sudah hilang.
"Apa Kakak yakin sudah mentransfer semua data di ponsel itu, dan mengirimkannya ke email saya?" tanya Rama.
"Saya yakin, Pak. Ada lagi yang bisa saya bantu? Saya harus melayani pelanggan yang lain." Indra terlihat sedikit kesal karena didesak oleh Rama.
"Ti-Tidak, terima kasih."
Akhirnya Pradha dan juga Rama meninggalkan tempat itu dengan perasaan kacau. Mereka harus kembali mengumpulkan bukti lain agar Pradha dapat segera bercerai dengan Abi.
Di sisi lain, setelah Rama dan Pradha keluar dari Toko Apel, karyawan yang tadi melayani mereka merogoh ponsel. Dia menghubungi seseorang melalui benda pipih tersebut.
"Mereka sudah pulang, Bi."
"Thanks, Ndra. Untung kamu ada inisiatif buat ngasih tahu kalau istriku datang ke sana."
"Iya, Bi. Awalnya aku bilang karena ngerasa aneh aja, dia ke sini sama kakakmu. Bukan sama kamu. Tapi seriusan, kalian ini pasangan tergila!" Indra tersenyum kecut mengetahui fakta perselingkuhan dua pasangan tersebut.
"Ya, emang bener. Untuk apa kalian nikah kalau pada akhirnya malah saling selingkuh? Udahlah jangan dipertahankan lagi pernikahan ini, dosa tahu! Kalian sealan sedang mempermainkan Para Dewa."
"Halah, dosa itu urusanku sama Tuhan. Kamu nggak usah ikut campur. Sekali lagi makasih, ya? By the way, jangan sampai video itu kesebar! Kalau sampai hal itu terjadi, aku pastikan kamu bakalan nyesel!" ancam Abi.
"Oke, bisa diatur," ucap Indra sambil tersenyum miring.
"Ngomong-ngomong, kayaknya hot juga permainan Astika."
"Sialan, kamu nonton video itu sampai selesai?" tanya Abi seraya mengumpat kepada temannya itu.
Indra pun tertawa terbahak-bahak, karena mendengar Abi yang sedang kebakaran jenggot. Abi terus mengumpat di ujung telepon hingga perbincangan itu berakhir. Tanpa Rama dan Pradha ketahui, ternyata Abi dan Indra saling mengenal.
__ADS_1
***
Sepanjang perjalanan pulang Pradha termenung. Dia mencoba mengingat kembali apa yang bisa dia gunakan sebagai alat bukti. Tak lama kemudian, Pradha teringat CCTV yang ada di ruang tamu rumahnya.
Pradha melajukan mobil semakin cepat agar segera sampai ke rumah. Sesampainya di rumah, kondisi pintu masih terkunci rapat. Perempuan itu membuka pintu dan segera masuk ke rumah.
Ketika berada di tuang tamu, Pradha mendongak untuk mengamati letak CCTV. Setelah diperhatikan dengan teliti, kamera tersebut bisa merekam semua aktivitas yang terjadi dalam ruangan itu. Termasuk aktivitas di atas sofa tempat dia menemukan pakaian Abi dan Astika berserakan kemarin.
"Bingo! Mari tunggu kehancuranmu, Bi!"
Pradha pun segera berjalan cepat ke arah kamar. Dia membuka rekaman CCTV melalui laptop. Setelah memasukkan nama pengguna serta kata sandi, dia mencari data rekaman dan mengunduhnya.
Setelah pengunduhan rekaman kemarin selesai, Pradha segera memutarnya. Dia kembali harus menelan kekecewaan, karena ternyata Abi lebih cerdik. Pradha mengacak rambut frustrasi.
Tak lama kemudian, Abi datang dan berdiri di ambang pintu. Lelaki itu menyandarkan tubuh pada kusen pintu seraya tersenyum miring. Pradha yang mengetahui kehadiran Abi pun melemparkan tatapan tajam.
"Dasar brengsek!" geram Pradha.
Abi hanya tersenyum licik seraya menatap Pradha penuh kemenangan. Lelaki itu kini kembali menegakkan tubuh. Dia berjalan mendekat ke arah Pradha dan berdiri tepat di depannya.
"Sudahlah jalani apa saja yang ada. Nggak usah terburu napsu untuk berpisah denganku. Coba nikmati kehidupanmu saat ini, Dha. Terus mencoba lari justru aman membuatmu lelah."
"Aku tidak mau hidup bersama benalu licik sepertimu, Bi! Aku nggak sudi kamu jadikan sebagai mesin pencetak uang!" teriak Pradha, karena menyadari niat sang suami kenapa tidak mau bercerai dengannya.
"Kalau begitu, berusahalah lebih keras untuk bercerai denganku! Karena setelah ini, aku akan lebih berhati-hati dan bermain rapi." Abi tersenyum miring.
"Aku akan segera mendapatkan apa yang aku mau, Bi. Tiap pedang yang tajam bisa meleset, tiap kuda tangguh juga bisa tergelincir ketika berlari kencang! Nggak semua yang kamu lakukan akan semulus seperti yang kamu inginkan."
"Benarkah? Kita lihat saja nanti," ucap Abi kemudian keluar dari kamar Pradha.
...----------------...
__ADS_1
Mohon maaf, karena beberapa hari ini cuma update 1 bab sehari karena kondisi Author sedang tidak fit. Mohon doanya, ya? Sambil nunggu karya ini update, mampir ke karya sahabat Chika juga yuk!