Pemandu Hati Pengganti

Pemandu Hati Pengganti
Bab 20. Abi Memang Licik


__ADS_3

Keringat dingin mulai mengucur membasahi dahi Pradha. Di tengah kesakitannya, Abi terus berbicara seraya menyumpahi gadis itu. Tubuh Pradha mulai gemetar karena menahan rasa sakit yang luar biasa para perutnya.


"To-tolong aku, Bi. Perutku sakit!" pinta Pradha seraya memegang perut.


Namun, lelaki biadab itu mengabaikan permintaan Pradha. Dia malah mengejek sang istri, kemudian berlalu begitu saja tanpa rasa kasihan sedikit pun. Pradha terus merintih menahan sakit.


Perlahan dia bangkit dari lantai, dan mencoba untuk berdiri. Ketika sudah setengah berdiri, Pradha merasa ada cairan yang mengalir dari pangkal paha. Ketika menengok ke bawah, mata Pradha membulat.


Darah segar mengalir sampai menetes ke lantai. Kaki Pradha seakan kehilangan kekuatan. Dia kembali limbung dan hampir terjatuh. Untungnya dia berhasil mempertahankan keseimbangan dengan berpegangan pada dinding.


"Bagaimana ini?" Pradha terus meringis, bahkan kini air mata mulai turun membasahi pipi.


Ketika dalam keadaan kepayahan, Pradha hanya mengingat satu nama yaitu Rama. Perempuan itu berjalan tertatih menuju nakas, lalu meraih ponselnya. Dia langsung menghubungi sang kekasih untuk meminta bantuan.


Dalam nada tunggu pertama, panggilan Pradha langsung dijawab oleh Rama. "Halo," sapa Rama.


"Halo, Kak Rama ... tolong aku!" pinta Pradha sambil terus mendesis.


"Kenapa, Dha?" tanya Rama dengan suara yang terdengar panik.


"Aku ... pe-perutku sakit sekali, Kak!"


"Apa! Bertahan sebentar! Aku akan segera ke sana!" Sambungan telepon pun terputus.


Pradha hanya bisa terduduk lemas di atas lantai, dan bersandar pada ranjang ketika menunggu Rama. Rasa nyeri pada perutnya tak kunjung berhenti. Darah pun terus mengalir. Tiba-tiba pandangan Pradha kabur, kepalanya pusing, dan akhirnya tak sadarkan diri.


***


"Dha, Pradha." Sayup terdengar lirih suara Rama sedang membangunkan Pradha yang mulai menggerakkan jemari lentiknya.


Pradha masih merasa matanya begitu berat. Dia kesulitan untuk membuka mata. Namun, kecupan Rama pada punggung tangan membuat perempuan itu seakan mendapat kekuatan.


Perlahan tapi pasti Pradha membuka kelopak mata. Samar terlihat rama tengah menatapnya khawatir. Aroma khas rumah sakit tercium kuat oleh hidung Pradha. Dari sinilah gadis itu menyadari bahwa dia sudah ada di tempat pelayanan kesehatan tersebut.


"Dha, apa yang kamu rasakan? Apa aku perlu memanggilkan dokter?" tawar Rama.


Pradha hanya menggeleng lemah. Dia belum bisa mengeluarkan suara karena merasa bibir serta tenggorokannya sangat kering.

__ADS_1


"Mau minum?" tanya Rama.


Pradha mengangguk. Rama pun segera beranjak dari kursi, kemudian mengambil segelas air putih di atas meja. Lelaki tampan tersebut menyuapkan air sendok demi sendok ke dalam mulut sang kekasih.


"Sudah," ucap Pradha lirih hampir tak terdengar.


Perempuan itu sudah mendapatkan lagi sedikit kekuatan. Dia berusaha bangkit dari atas bantal, dan duduk bersandar pada dinding dingin rumah sakit dengan bantuan Rama.


"Bayi kita, baik-baik saja, 'kan?" tanya Pradha.


"Iya, dia baik-baik saja." Rama tersenyum lembut sembari mengusap punggung tangan Pradha.


"Dha, kenapa kamu tidak mengatakan kalau sedang mengandung? Aku merasa gagal menjadi ayah dari bayi kita, karena tidak bisa melindungi kalian." Rama menatap nanar wajah cantik kekasih, serta calon ibu dari anaknya itu.


"Nggak apa-apa, Kak. Terima kasih sudah datang tepat waktu. Bisa saja aku akan kehilangan bayi ini jika kamu tidak datang." Pradha tersenyum kecut sambil mengusap perutnya yang masih rata.


"Dha, bagaimana selanjutnya? Apa kamu benar-benar tidak bisa berpisah dengan Abi? Dia pasti ingin segera bercerai setelah mengetahui kehamilanmu ini."


"Mana ada yang seperti itu, Kak. Bahkan dia sempat berpikir untuk menggunakan bayi kita demi mendapatkan harta bapak."


"Sejujurnya aku malu mengakuinya sebagai adik, Dha!" Rama mengusap wajah kasar lalu mengacak rambut frustrasi.


"Mau bagaimana lagi, semuanya sudah terlanjur. Tunggu sebentar lagi ya, Kak. Kami akan bercerai setelah usia pernikahan kami genap satu tahun."


"Siapa yang bilang mau bercerai?"


Tiba-tiba terdengar suara Abi yang memasuki ruang inap Pradha seraya tersenyum miring. Lelaki itu melangkah mendekati ranjang, dan menatap tajam kedua orang di hadapannya secara bergantian.


"Aku tidak akan pernah menceraikanmu!" seru Rama.


"Bi, ingat surat perjanjian kita! Jika mau aku ingin membatalkannya hari ini juga karena perlakuan kasarmu!" Pradha menatap tajam ke arah sang suami. Dadanya bergemuruh hebat manakala teringat Abi yang mengacuhkannya ketika mengalami pendarahan.


"Tapi aku masih berkomitmen untuk menjaga isi perjanjian tersebut, karena aku paling tidak suka ingkar janji!" Entah mendapatkan kekuatan dari mana, Pradha yang awalnya masih lemas justru kini menggebu-gebu ketika melihat kehadiran sang suami.


"Maaf, surat perjanjian yang mana maksudmu?" Abi tersenyum licik sambil melipat lengan di depan dada.


"Kamu jangan main-main, Bi!" gertak Rama.

__ADS_1


"Ah, aku ingat! Apa surat ini yang kamu maksud?" Abi mengeluarkan sebuah amplop dari saku celana.


Lelaki tersebut membuka amplop itu, kemudian mengeluarkan isinya. Dia pun membuka lipatan kertas dan menyobeknya menjadi beberapa bagian kecil.


Pradha yang melihatnya pun terbelalak. Dia tak menyangka Abi senekat itu. Entah apa yang sedang direncanakan lelaki licik tersebut, yang jelas Pradha memiliki perasaan buruk saat melihat tingkah Abi.


"Bi, sebenarnya apa maumu?" Rama mendekati Abi lalu mencengkeram kerah bajunya.


Melihat sang kakak tersulut emosi membuat Abi tertawa puas. Tubuhnya sampai bergetar karena tawa yang pecah. Rama pun melemparkan tatapan tajam kepada sang adik. Dia tidak menyangka Abi merupakan lelaki yang sangat licik.


"Lihat saja rencanaku selanjutnya. Akan kubuat kalian berdua menangis karena tidak pernah bisa bersatu!"


"Dasar brengsek!" teriak Rama sambil mendaratkan kepalan tinju pada rahang sang adik.


Abi pun tersungkur ke atas lantai. Dia kembali bangkit kemudian menepuk celana yang terkena debu lantai rumah sakit. Lelaki itu tersenyum miring seraya menyipitkan mata.


"Aku nggak bakal berhenti, sebelum mendapatkan semua yang aku mau!" seru Abi seraya tersenyum miring melihat dua orang yang ada di hadapannya melemparkan tatapan penuh amarah.


Suara pintu yang dibanting menggema di dalam ruangan berukuran enam meter persegi tersebut. Rama kembali mengusap wajah kasar, kemudian berjalan mendekati Pradha. Dia kembali menarik kursi dan mendaratkan bokong ke atasnya.


"Bagaimana ini, Dha?"


"Entahlah, Kak. Pusing sekali menghadapi sikap Abi yang seperti itu."


"Kalau begitu ajukan saja gugatan cerai! Bukankah hal ini akan lebih mudah ke depannya?"


"Setelah kondisiku pulih, aku akan mencoba untuk mengajukan gugatan cerai kepada Prajuru Banjar, agar diproses secara adat terlebih dahulu."


"Aku akan menemanimu, Dha. Semoga semuanya berjalan lancar."


...----------------...


Holaaa, sambil nunggu karya ini update, mampir juga ke novel salah satu sahabat Chika, yaaa~


Jangan lupa memberi dukungan dengan meninggalkan komen, like, dan giftnya. Terima Kasih.


__ADS_1


__ADS_2