
"Kamu kenapa, Dha?" Rama merangkum wajah Pradha dan mengusap air mata yang menetes di pipi sang istri dengan ujung jempolnya.
"Pi-pihak Rumah Sakit minta kita segera membayar tagihan operasi," ucap Pradha di antara isak tangis.
"Bersabar dulu, ya? Kita pasti akan mendapatkan uangnya.” Rama melepaskan jemarinya dari pipi sang istri, kemudian menggenggam tangan Pradha.
“Boleh aku jual rumahmu? Mau jual vila sayang. Tempat itu bisa menghasilkan uang lebih banyak daripada dijual sekarang."
"Jual saja nggak pa-pa, Kak. Yang penting kita bisa mendapatkan uang itu secepatnya." Pradha langsung menyetujui usulan sang suami seraya mengusap air mata.
Hati rama terasa begitu sakit melihat sang istri menangis sesenggukan. Dia merasa bersalah karena sudah membuat Pradha menangis. Rama menganggap dirinya telah gagal membahagiakan Pradha.
"Kalian tidak perlu menjual rumah itu!" seru Reya yang sudah ada di belakang keduanya bersama Ken.
"Reya! Kamu kenapa sudah pulang?"
Reya setengah berlari menghampiri Pradha, lalu memeluk sahabatnya itu. Dia mengusap punggung perempuan itu. Pradha melepaskan pelukannya, kemudian memegang lengan atas Reya.
"Bukannya kamu baru akan pulang akhir bulan ini, Ya? Kok bisa ...." Ucapan Pradha berhenti karena dipotong oleh Reya.
"Dha, kita bersahabat sejak lama. Kenapa ketika ada kesulitan, kamu tidak mau menceritakannya kepadaku?" Reya kini merangkum wajah sang sahabat sambil menatapnya sendu.
"I-itu ...." Pradha tertunduk lesu.
Pradha tidak mau menceritakan keadaannya yang sekarang kepada sahabat bukan karena malu. Dia lebih memilih diam, sebab tidak ingin membuat Reya khawatir. Dia tahu betul sikap Reya.
Meski keduanya bersahabat, sekarang mereka memiliki kehidupan masing-masing. Rasanya tidak pantas jika semua yang menjadi penderitaan yang Pradha alami diceritakan kepada Reya. Dia tidak ingin membebani pikiran sahabatnya itu.
"Berapa kekurangannya? Aku akan membayarkannya untukmu."
"Nggak usah, Reya. Kami ...."
"Aku tidak menerima penolakan! Ayo Sayang, kita ke bagian administrasi!" ajak Reya kepada sang suami.
Keduanya pun bergandengan tangan menuju ruang administrasi, dan Pradha mengekor di belakang mereka. Sesampainya di loket pembayaran, Ken langsung menyerahkan kartu debitnya kepada sang istri. Reya pun menyebutkan nama Nakastra dan petugas mulai memasukkan kartu itu ke dalam mesin EDC.
__ADS_1
"Silakan masukkan nomor PIN-nya, Bu."
Reya mulai menekan tombol yang ada di mesin EDC. Tak lama kemudian keluar setruk bukti pembayaran. Setelah mereka menyelesaikan pembayaran, ketiganya berjalan santai menuju kamar rawat Nakastra.
"Maaf sudah merepotkanmu, Reya. Aku akan segera menggantinya setelah rumahku laku terjual."
"Hey, Bodoh! Aku bilang nggak usah dipikirkan! Anggap saja ini kado dari aku karena belum sempat menjenguk anakmu sejak lahir."
"Tapi ...."
"Nggak ada tapi-tapian!" Mendadak Reya menghentikan langkah, kemudian melipat lengan di depan dada.
"Aku nggak menerima penolakan! Mengerti?"
Pradha tersenyum tipis. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia merasa sangat beruntung bisa memiliki sahabat seperti Reya, yang selalu ada di saat dia kesusahan.
Sejak hari itu, setiap hari Ken menjenguk Nakastra. Dia tetap datang, meskipun Reya tidak ikut serta. Keakraban pun terjalin di antara Naka dan juga Ken.
"Naka mau ini?" tanya Ken seraya menyodorkan sebotol susu coklat kepada Nakastra.
"Ini ... minumnya pelan-pelan, ya?" Ken memasukkan sedotan ke dalam botol, lalu memberikan susu itu kepada Nakastra.
Tanpa menunggu lebih lama, Naka pun segera menyambar botol susu itu. Bocah lelaki itu langsung menyedot cairan berwarna coklat tersebut, seraya mengayunkan kakinya. Ken tersenyum lebar melihat Naka yang sedang menikmati susu.
"Naka, Bunda ...." Ucapan Pradha menggantung di udara ketika membuka pintu.
Perlahan dia melangkah masuk dan menutup pintu pelan. Melihat Nakastra mau minum susu membuat Pradha keheranan. Putranya itu paling susah jika diminta minum susu. Jadi apa yang dilihatnya saat ini membuat alis Pradha saling bertautan.
Ken menoleh ke arah Pradha, dan dia menunduk memberi salam. Perempuan itu langsung berjalan mendekati Naka. Ken beranjak dari kursi agar sahabat istrinya itu bisa duduk di sana.
"Kak, terima kasih sudah menemani Naka. Bahkan repot-repot membawakan makanan." Pradha tersenyum tipis hampir tak terlihat.
"Tidak masalah, aku ke sini karena diminta oleh Reya."
Meski masih belum fasih berbicara Bahasa Indonesia, Ken sangat mengerti ucapan Pradha. Ken memang sebelumnya pernah tinggal di Indonesia untuk beberapa bulan. Dia dengan mudah mempelajari bahasa tersebut karena memiliki IQ yang tinggi.
__ADS_1
"Lain kali, Kakak jangan ke sini tanpa Reya. Aku tidak enak hati." Pradha berusaha mengungkapkan kebimbangan hati yang sudah dia simpan beberapa hari ini.
Sejujurnya Pradha merasa tidak nyaman karena Ken terus mendatangi Nakastra meski tanpa Reya. Pradha tidak tahu apa maksud dari Ken sebenarnya. Namun, dia juga tidak bisa menanyakan langsung karena takut kalau suami sahabatnya itu tersinggung.
"Ah, nggak apa-apa. Santai saja," ucap Ken ringan sambil tersenyum lebar.
"Aku yang nggak bisa santai!" ujar Rama yang sudah masuk ke ruangan tempat Naka dirawat.
Ken dan Pradha spntak menoleh ke arah sumber suara. Rama sudah berdiri bersandar pada pintu, seraya melemparkan tatapan tajam ke arah Ken.
"Ayo kita bicara berdua di luar!" ajak Rama.
Ken pun segera mengikuti langkah Rama untuk keluar dari bangsal. Mereka memutuskan untuk mengobrol di koridor bangsal. Keduanya duduk di sebuah kursi panjang yang memang ditempatkan di depan bangsal untuk bersantai.
"Ken, aku sangat menghargai niat baikmu. Aku juga mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan yang kamu berikan kepada kami." Rama menatap serius lelaki berwajah oriental di hadapannya itu.
"Tapi, tolong jangan terlalu dekat dengan Naka. Aku sebagai ayah tidak menyukainya. Aku tidak mau Naka perlahan mulai akrab denganmu melebihiku."
"Ah, aku hanya menjalankan permintaan Reya. Aku tidak bermaksud ...." Ucapan Keen menggantung di udara.
"Aku tahu Reya tidak pernah menyuruhmu! Bahkan dia tidak pernah tahu kalau kamu selalu ke sini di sela-sela jam istirahat." Ucapan Rama membuat Ken bungkam.
Lelaki itu tidak menyangka kalau ternyata Rama mengetahui semuanya. Ken mengembuskan napas kasar. Dia menyugar rambut kemudian tersenyum kecut.
"Sebenarnya aku sudah menginginkan seorang anak sejak lama. Makanya aku sangat suka ketika melihat Naka. Jadi, aku lebih sering ke sini untuk bisa terus melihatnya."
"Apa dengan sering mengunjungi Naka akan membuatmu memiliki anak lebih cepat?"
"Ya ... nggak begitu juga, Rama. Aku ...."
"Sudahlah! Mulai hari ini jangan pernah menemui putraku lagi tanpa Reya. Aku tidak suka." Rama lagi-lagi memotong ucapan Ken.
Lelaki itu beranjak dari kursi kemudian melangkah masuk ke ruang inap sang putra. Setelah terdengar suara pintu tertutup, Ken mengepalkan jemari. Rahangnya mengeras hingga menampilkan urat kebiruan di area mata.
"Aku harus tetap berada di dekatnya!"
__ADS_1