
Perut Pradha semakin bergejolak melihat makanan yang ada di hadapannya. Selera makannya mendadak hilang. Namun, ada satu makanan yang ingin sekali perempuan itu makan.
"Kak, ada restoran makanan Prancis nggak sih di sekitar sini?"
"Duh, kamu itu ada-ada aja, Dha. Kita lagi ada di pesisir pantai tengah pulau begini. Mana ada yang seperti itu? Makan seafood aja ya?" tawar Desi.
"Nggak, Kak! Aku mau makan Soupe a L’oignon!"
Soupe a L’oignon adalah makanan yang biasa Pradha makan untuk sarapan ketika tinggal di Paris. Makanan tersebut merupakan sup yang terbuat dari kaldu sapi yang diolah bersama bawang putih, parutan keju, serta daging ayam. Sup itu memiliki tekstur kuah yang kental dengan rasa gurih khas kaldu sapi. Pradha biasa menyantapnya bersama garlic bread.
"Aduh, Dha. Kamu itu kayak orang ngidam aja!" seru Desi seraya menepuk dahi.
Mendengar ucapan sang manajer membuat Pradha terbelalak. Dia baru sadar kalau sudah terlambat haid. Untuk memastikan dugaannya, Pradha pun membuka kalender yang ada pada ponsel.
Aktris cantik itu selalu menandai hari pertama datang bulan setiap bulan. Benar saja, sesuai perhitungannya, dia sudah terlambat haid selama 3 minggu. Bahu Pradha merosot seketika.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Pradha lirih.
"Dha, kamu baik-baik saja?" Desi memiringkan kepala untuk menatap Pradha yang masih menunduk seraya menatap ponsel dalam genggaman.
"I-iya, aku nggak apa-apa, Kak. Kita lanjut syuting saja kalau begitu. Napsu makanku hilang." Pradha beranjak dari kursi, kemudian berjalan ke tempat pengambilan gambar dilakukan.
Sepanjang hari itu, Pradha merasa sangat kepayahan. Tenaganya seakan menguap ke udara. Dia pun mati-matian menahan perut yang bergejolak. Setelah kegiatan pengambilan gambar selesai, Pradha diantar oleh sang manajer pulang ke rumah.
Sepanjang perjalanan, Pradha memilih untuk memejamkan mata. Berusaha menikmati rasa mual luar biasa dan kepala yang berdenyut kencang. Setelah menempuh perjalanan selama tiga jam, akhirnya Pradha sampai di rumah.
Suasana rumah begitu sepi. Lampu ruang tamu temaram, karena hanya menggunakan pencahayaan satu lampu di sudut ruangan. Pradha menjatuhkan tubuhnya yang lunglai ke atas sofa dan memejamkan mata. Perempuan cantik itu pun terlelap karena energinya seakan terkuras.
***
"Dha, kamu kok tidur di sini?" Abi berjongkok di samping Pradha, seraya menepuk pipi sang istri.
Pradha melenguh malas, kemudian menggeliat. Dia hanya berpindah posisi, dan kembali memejamkan mata. Abi pun kembali menggoyang lengan Pradha untuk membangunkannya. Kali ini Pradha membuka lebar matanya.
"Apa, sih, Bi! Ganggu aja!" seru Pradha kesal.
Perempuan itu pun bangkit dari sofa kemudian duduk dengan menyandarkan punggung pada kepala sofa. Abi mengamati wajah Pradha sekilas. Dia hendak menyelipkan anak rambut Pradha ke belakang telinga, tetapi perempuan itu menghindar.
"Dha, kamu pucat banget. Sakit?"
__ADS_1
"Nggak! Udahlah, nggak usah ngurusin aku." Pradha beranjak dari sofa, kemudian mulai melangkah ke arah kamar.
Namun, ketika baru berjalan dua langkah, Pradha merasa kepalanya berputar. Kakinya seakan kehilangan pijakan. Beruntungnya Abi segera menangkap tubuh ramping sang istri.
"Dha, ayo aku antar ke rumah sakit!"
Abi langsung menggendong tubuh Pradha, dan memasukkannya ke mobil. Lelaki tampan tersebut mengendarai mobil sekencang yang dia bisa.
Sesampainya di rumah sakit, Pradha langsung di tangani oleh tenaga medis. Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, Pradha dipindahkan ke bangsal rumah sakit. Abi pun menemui dokter yang menangani sang istri di ruangannya.
"Bagaimana keadaan Pradha, Dok?"
"Istri Anda mengalami dehidrasi, Pak. Jadi, untuk semetara waktu biarkan dia dirawat di rumah sakit." Dokter bernama Cakra itu menatap serius Abi.
"Menurut hasil tes hCG kualitatif, terdapat hormon kehamilan pada darah Nyonya Pradha. Selamat, Pak! Sebentar lagi Anda akan menjadi seorang ayah!" Cakra mengulurkan tangan untuk memberi selamat pada Abi.
Awalnya Abi mengerutkan dahi. Dia bingung dengan situasi saat ini. Tidak tidak tahu harus senang, marah, atau sedih. Akhirnya Abi menyambut uluran tangan Cakra sebagai bentuk formalitas saja.
Abi segera beranjak dari kursi dan keluar dari ruangan tersebut. Dia melangkah gontai menyusuri koridor sambil memikirkan sebuah rencana yang tiba-tiba melintas di otaknya.
"Aku harus memberitahukan berita ini kepada bapak. Pasti beliau sangat senang. Dan aku ...." Abi melanjutkan ucapannya hanya dengan senyuman penuh arti. Lelaki itu saling menggosokkan kedua telapak tangan.
Pradha yang berbaring miring menatap jendela kamar pun menggerakkan sedikit bola matanya. Kemudian kembali menatap langit malam melalui jendela.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau lagi hamil?"
"Apa urusanmu?" ketus Pradha.
"Tapi kita kan suami istri, Dha?"
"Jangan lupa, kita tidak boleh mencampuri urusan satu sama lain!" Pradha kembali mengingatkan Abi untuk tidak mencampuri apa pun yang terjadi kepadanya.
"Mulai sekarang aku akan mengabaikan hal itu. Mulai detik ini, anak itu milikku!"
Pradha kini bangkit. Dia perlahan ganti posisi. Perempuan itu duduk bersandar pada tumpukan bantal. Sebuah tatapan tajam kini melayang ke arah Abi.
"Kamu bukanlah siapa-siapa bagi bayiku!"
Mendengar ucapan Pradha membuat Abi tertawa terbahak-bahak. Mata lelaki itu sampai basah karena merasa apa yang diucapkan Pradha adalah sebuah hal konyol.
__ADS_1
"Dia itu anakku! Apa kamu lupa? Kak Rama dan aku adalah kakak adik!" Abi terus tertawa hingga bahunya bergetar.
"Aku akan mendatangi bapak dan memberitahukan kabar gembira ini! Pasti beliau sangat senang mengetahui kabar kehamilanmu! Dia akan memiliki pewaris utama kerajaan bisnis penginapan generasi ketiga!"
Abi langsung keluar dari kamar dengan senyuman yang tidak pudar sedikit pun. Hati lelaki itu seakan berbunga-bunga karena hendak membawa kabar bahagia ini kepada Artha.
Keeosokan harinya, Abi melajukan mobil untuk menemui sang ayah mertua. Sepanjang perjalanan, Abi terus bersenandung. Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit, akhirnya dia sampai di hotel milik sang mertua.
Abi langsung menuju lantai sepuluh tempat Artha menghabiskan waktu ketika memantau kinerja pegawainya. Lelaki tampan tersebut mengetuk pintu, dan masuk ketika dipersilahkan oleh Artha.
"Pagi, Pak."
Artha mengerutkan dahi setelah mengetahui siapa yang datang menemuinya. Lelaki itu beranjak dari meja kerja, lalu duduk di sofa dalam ruangan tersebut. Abi pun ikut mendaratkan bokong ke atas kursi empuk itu.
"Ada apa, datang pagi-pagi begini? Ah, apa kamu lupa kalau kamu serta Pradha tidak boleh lagi menemuiku setelah menikah?"
"Ah, aku rasa pemikiran itu akan menghilang seketika setelah Bapak mendengar kabar bahagia yang saya bawa hari ini."
"Kabar apa?" tanya Artha sambil menyesap kopi yang sudah dingin.
"Ehm, apa Bapak tidak menyuguhiku juga dengan segelas kopi? Aku tamu di sini." Abi menyeringai seraya menyandarkan punggung pada kepala sofa.
Artha menatap tajam sang menantu, lalu beranjak dari sofa dan berjalan ke arah mesin pembuat kopi. Dia menuangkan bubuk kopi ke dalam alat penyaring. Setelah itu, Artha memasukkan penyaring ke dalam mesin, menuangkan air pada mesin, dan menyalakan benda tersebut.
Setelah kopi siap, lelaki paruh baya itu meletakkan kopi buatannya ke atas meja secara kasar. Beberapa tetes kopi sampai tumpah dan mengotori meja. Abi menyeringai, meraih cangkir di depannya, lalu menyesap cairan hitam itu perlahan.
"Pradha hamil, Pak," ucap Abi seraya meletakkan kembali kopi ke atas meja.
"Apa?"
...----------------...
Un Familiar Brother
Author: Kaka Shan
Kerumitan hidup membawa 3 saudara bermarga Natadisastra berurusan dengan seorang gadis dari kalangan biasa bernama Aleanska Nara. Rasa benci, obsesi, serta mencintai, membuat mereka harus berkorban, saling membohongi, bahkan saling menyakiti.
__ADS_1
"Kembaran gue suka kakak tiri gue, kakak tiri gue suka adek gue. Cih, takdir Tuhan macam apa ini?"